Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Mekar di Tempat yang Tepat

Udara pagi di Desa Wanasari hari ini terasa jauh berbeda dibandingkan beberapa bulan lalu. Tidak ada lagi bau cemas atau kepulan asap dari ban bekas yang dibakar di tengah jalan. Yang ada hanyalah aroma khas tanah basah yang baru disiram embun pagi, berpadu dengan suara gemercik air sungai yang mengalir jernih melewati bebatuan vulkanik. Di bawah naungan langit biru yang bersih, deretan pohon mahoni tua berdiri gagah, tidak ada satupun yang terluka atau ditebang sembarangan.

Kinan melangkah pelan menyusuri jalan setapak yang kini sudah dilapisi paving block berpori, sebuah desain ramah lingkungan yang diusulkan langsung oleh para pemuda desa bersama tim teknik Arka. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah buku catatan lapangan bersampul kulit sintetis yang sudah mulai kusam di bagian ujungnya. Setiap lembar di dalamnya penuh dengan coretan tangan, sketsa jalur pipa air bersih, hingga catatan hasil rembuk warga.

"Pagi, Mbak Kinan! Tepat sekali, air dari saluran baru ini sudah mengalir deras sampai ke ujung dusun barat!" sapa Bayu dari atas traktor kecil yang sedang meratakan pinggir jalan. Pemuda itu tampak jauh lebih ceria, mengenakan rompi keselamatan kerja berwarna oranye terang yang pas di tubuhnya.

Kinan berhenti sejenak, membalas sapaan itu dengan lambaian tangan dan senyuman hangat. "Syukurlah kalau begitu, Bayu. Pastikan sambungan ke rumah Pak RT dicek ulang ya, jangan sampai ada yang bocor!" teriak Kinan mengimbangi suara mesin traktor.

"Aman, Mbak! Semua berkat desain baru yang tidak merusak saluran air leluhur kita!" balas Bayu sambil mengacungkan jempolnya, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.

Perubahan ini bukan terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil dari keringat, perdebatan panjang, dan kompromi melelahkan yang dipimpin langsung oleh dua orang dengan latar belakang yang dulunya bagaikan bumi dan langit. Di ujung jalan setapak, sesosok pria berbadan tegap dengan kemeja flanel digulung hingga siku tampak sedang membungkuk, memeriksa fondasi jembatan gantung yang sedang diperbaiki. Arka Nugroho. Pria kota yang dulunya datang dengan setelan jas rapi, kacamata dingin, dan sikap arogan, kini telah melebur seutuhnya menjadi bagian dari denyut nadi Wanasari.

Kinan berjalan mendekati Arka yang sedang berdiskusi serius dengan seorang tetua desa mengenai tata letak lampu tenaga surya di sepanjang jalur wisata desa.

"Bagaimana, Pak Arka? Apakah material batu kali yang dikirim dari dusun seberang sudah sesuai standar teknis?" tanya Kinan begitu ia berdiri tepat di samping Arka.

Arka menegakkan punggungnya, menoleh, dan menyunggingkan senyuman teduh yang kini sudah menjadi pemandangan favorit Kinan setiap pagi. "Sesuai, bahkan kualitas batunya jauh lebih baik dari perkiraan tim logistik kita di kota. Warga benar-benar total membantu proyek ini."

"Tentu saja mereka total. Karena sekarang mereka merasa memiliki proyek ini, bukan merasa dijajah oleh investor luar," balas Kinan ringan, matanya menyapu pemandangan sekitar dengan rasa bangga yang membuncah di dadanya.

Arka menghela napas lega, menyelipkan tangannya ke dalam saku celana lapangan. "Kamu benar, Kinan. Dulu saya pikir efisiensi angka di atas kertas adalah segalanya. Saya kira proyek yang sukses adalah proyek yang selesai paling cepat dengan biaya paling murah. Saya tidak pernah paham bahwa nilai sosial dan ikatan emosional jauh lebih bernilai dari sekadar persentase laba di laporan triwulanan."

"Manusia bukan angka di spreadsheet Excel, Arka," kata Kinan sambil tertawa kecil, sengaja memanggil nama depan pria itu tanpa gelar formal sejak hubungan kerja mereka bertransisi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Arka menatap Kinan lekat-lekat, membiarkan angin pagi menerbangkan beberapa helai rambut wanita itu. "Dan saya bersyukur kantor pusat mengirim saya ke sini, meskipun awalnya saya menganggap tugas ini sebagai hukuman buang badan."

❖ ❖ ❖

Meskipun proyek fisik kini berjalan lancar tanpa ada penolakan warga, bukan berarti tidak ada tantangan baru yang harus dihadapi bersama. Menjelang siang, matahari mulai memancarkan terik tertingginya, memaksa Arka dan Kinan berteduh di bawah beranda balai desa yang luas. Di atas meja kayu panjang, terbentang cetak biru revisi terakhir yang menunjukkan pembagian zona konservasi dan zona komersial desa wisata.

"Masalah utama kita sekarang bukan lagi penolakan warga, melainkan pengaturan ritme kunjungan wisatawan luar agar tidak merusak ekosistem hutan bambu di sebelah timur," ucap Arka serius sambil menunjuk sebuah titik di peta digital pada tabletnya.

Kinan mengangguk setuju, menyerahkan segelas teh leci dingin kepada Arka. "Betul. Kalau kita tidak batasi kuota pengunjung per hari, sampah plastik akan menumpuk dan mencemari mata air utama. Kita harus membuat aturan adat baru yang mengintegrasikan pariwisata modern dengan sanksi adat tradisional."

"Kamu yakin para investor dari kota mau menerima pembatasan kuota itu? Mereka kan maunya untung besar dengan mendatangkan turis sebanyak-banyaknya," tanya Arka sambil menerima gelas teh, jari-jemari mereka sempat bersentuhan sejenak, menciptakan sengatan kecil yang sudah biasa mereka rasakan namun tetap membuat debaran hati melompat.

"Kalau mereka mau bekerja sama dengan Wanasari, mereka harus tunduk pada aturan rumah kita," jawab Kinan tegas tanpa ragu. "Bukan sebaliknya. Desa ini sudah memberikan kompromi besar dengan mengizinkan pembangunan jalur logistik dan wisata. Batasan ekologis adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar."

Arka tersenyum lebar, meneguk teh buatannya. "Kamu tahu, sikap keras kepala kamu itu dulunya bikin saya pusing setengah mati. Tapi sekarang, justru ketegasan itulah yang paling saya kagumi dari kamu."

"Keras kepala demi kebenaran itu berbeda dengan keras kepala karena ego, Arka," balas Kinan menyunggingkan senyum penuh kemenangan. "Kamu sendiri dulunya adalah definisi sempurna dari ego korporat yang keras kepala."

"Sentuhan yang telak," aku Arka tertawa renyah. "Tapi, jujur saja, berada di sini membuat saya menyadari betapa kacaunya pola hidup saya di ibu kota dulu. Hidup saya di sana seperti taman bunga hias dalam pot kaca—terlihat indah, disiram setiap hari dengan pupuk kimia, tapi rapuh dan terisolasi dari dunia luar. Sedangkan di sini, meskipun hidup di atas batu karang yang keras, semuanya terasa nyata, hidup, dan berakar kuat."

Kinan terdiam sejenak, meresapi perumpamaan yang diucapkan Arka. Perbedaan latar belakang mereka yang dulunya sering diperdebatkan kini menjelma menjadi fondasi yang saling melengkapi. Arka adalah perwakilan dunia modern yang terstruktur, sementara Kinan adalah jiwa akar rumput yang menjaga esensi kemanusiaan dan alam.

"Taman bunga dan batu karang," bisik Kinan pelan, mengulangi esensi perbedaan mereka. "Siapa sangka keduanya bisa tumbuh berdampingan di tempat ini?"

"Karena cinta tidak pernah memilih di mana ia harus tumbuh, Kinan," ucap Arka tiba-tiba, suaranya berubah menjadi lembut dan serius, memutus riuh rendah suara angin siang itu. "Cinta bisa mekar di tempat yang paling tidak terduga sekalipun, asalkan akarnya tertancap pada kejujuran dan komitmen yang sama."

❖ ❖ ❖

Sore hari menjelang, suasana balai desa diramaikan oleh kedatangan para ibu-ibu PKK yang membawa rantang berisi makanan tradisional untuk merayakan selesainya tahap pertama pengecoran jembatan utama. Aroma kue tradisional klepon dan pisang gepeng beradu harum dengan bau tanah basah seusai gerimis singkat.

Kinan dan Arka duduk berdampingan di amben bambu di halaman balai desa, menikmati suasana kekeluargaan yang kini terjalin erat antara tim insinyur kota dan warga lokal. Tidak ada lagi jarak kelas sosial; semua melebur dalam tawa dan obrolan santai.

Lihat selengkapnya