Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Bunga di Taman dan Bunga di Sela Karang


Matahari pagi di Tanjung Ratu menyembulkan bias keemasan yang hangat, membelah kabut tipis di atas permukaan laut yang membentang luas tanpa batas. Di teras rumah panggung kayu yang kini telah diperindah namun tetap mempertahankan arsitektur aslinya, Kinan berdiri tegak dengan secangkir kopi hitam mengepul di tangannya. Angin laut berembus sepoi-sepoi, membawa aroma garam yang begitu akrab dan menenangkan di lubuk hatinya.

Tiga tahun telah berlalu sejak badai konflik korporasi dan pertarungan sengit di ruang rapat kota hampir meruntuhkan masa depan kampung halamannya. Kini, pesisir selatan tidak lagi terlihat tertinggal atau terisolasi. Pembangunan pelabuhan nelayan modern berdiri kokoh berdampingan dengan balai edukasi maritim tempat anak-anak pesisir belajar membaca, menulis, dan memahami potensi laut mereka sendiri tanpa rasa minder.

"Kau melamun lagi, Kinan," sebuah suara bariton yang akrab menyapa dari arah pintu belakang.

Kinan menoleh dan mendapati Arka melangkah mendekat dengan mengenakan kemeja katun sederhana yang lengannya digulung sebatas siku. Kulitnya kini tampak lebih gelap terbakar matahari pesisir, kontras dengan penampilannya sewaktu pertama kali datang sebagai arsitek kota berjas mahal. Di tangan Arka terdapat dua piring pisang goreng hangat buatan Mak Nur.

"Aku tidak sedang melamun, Arka. Aku hanya sedang mengenang perjalanan panjang kita," jawab Kinan sambil tersenyum lembut, menyambut kehadiran lelaki itu di sampingnya.

Arka meletakkan piring tersebut di atas meja kayu kecil, lalu ikut memandang ke arah dermaga baru yang ramai oleh aktivitas para nelayan yang baru pulang melaut dengan tangkapan melimpah. "Perjalanan yang mengubah segalanya. Dulu, aku mengira kebahagiaan itu hanya ada di dalam gedung kaca bertingkat dan taman bunga kota yang disiram air buatan setiap hari."

"Dan sekarang?" tanya Kinan melirik Arka dengan binar jenaka di matanya.

"Sekarang aku tahu bahwa kebugaran hidup yang sesungguhnya justru tumbuh di tempat-tempat yang paling tidak terduga—di sela-sela karang yang dihantam ombak sekalipun," balas Arka tulus, lalu menggenggam jemari Kinan yang telapaknya masih menyimpan sisa-sisa garis kapalan masa lalu.

Kehidupan mereka telah menemukan bentuknya yang paling harmonis. Arka memilih mendedikasikan seluruh ilmu arsitekturnya untuk merancang infrastruktur ramah lingkungan bagi wilayah-wilayah pesisir terpencil di seluruh negeri, sementara Kinan memimpin yayasan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi perempuan nelayan yang kini menjadi percontohan nasional.

Namun, kedamaian ini bukan berarti tanpa ujian. Di balik senyuman masyarakat yang kini hidup sejahtera, bayang-bayang masa lalu tentang ketimpangan sosial antara kota dan desa masih sering terlintas di benak Kinan, terutama ketika ia sesekali harus kembali ke ibu kota untuk menghadiri undangan seminar atau forum pembangunan nasional.

❖ ❖ ❖

Undangan terhormat itu datang dua pekan lalu dari Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta, meminta Kinan untuk hadir sebagai pembicara utama dalam konferensi tahunan pembangunan kawasan pesisir nusantara. Bagi Kinan, ini adalah panggung besar yang dulunya hanya bisa ia saksikan lewat layar televisi kecil di sudut rumah panggungnya.

Kini, ia berdiri di belakang panggung megah auditorium hotel berbintang lima di ibu kota, mengenakan batik tenun khas daerahnya yang dipadukan dengan blazer hitam sederhana. Di sekelilingnya, para pejabat tinggi, direktur perusahaan multinasional, dan para akademisi ternama berlalu-lalang dengan obrolan berbahasa asing yang mengalir lancar.

"Nona Kinan Dirta?" sebuah suara lembut namun tegas memanggil dari sampingnya.

Kinan berbalik dan mendapati seorang perempuan paruh baya berbusana elegan dengan riasan wajah sempurna berdiri menatapnya lekat-lekat. Ada guratan penyesalan yang samar di sudut mata perempuan itu—Nadya. Mantan tunangan Arka tersebut tampak jauh lebih pendiam dari terakhir kali mereka bertemu di ruang rapat beberapa tahun silam.

"Ya, benar. Selamat pagi, Nadya," sapa Kinan tenang, tanpa adasecercah rasa dendam atau permusuhan di dalam suaranya.

Nadya tersenyum tipis, senyuman yang terasa getir sekaligus penuh pengakuan. "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi di sini. Kudengar dari beberapa kolega bisnis, program pemberdayaan pesisir yang kau pimpin di Tanjung Ratu sukses besar dan mendapat penghargaan langsung dari presiden."

Lihat selengkapnya