Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Kota ini adalah mesin yang terus berdenyut, seolah setiap detiknya adalah pesta tanpa akhir. Di luar sana, lampu-lampu gedung tinggi berkelip seperti bintang palsu, sementara jalanan berdesir oleh klakson dan pendar lampu kendaraan yang melelahkan. Restoran dan klub malam berkompetisi mengalunkan musik keras, sebuah upaya putus asa untuk menutupi kesunyian yang merambat di hati para pengunjungnya.
Di tengah gemerlap itu, nama Kirana berdiri bagai cahaya yang lebih terang dari billboard neon. Sebagai desainer interior muda, ia dianggap memiliki sentuhan magis. Kirana bukan sekadar penata ruang, ia adalah kurator ilusi. Ia bisa menyulap beton kosong menjadi ruang estetis yang memesona, membuat siapa pun percaya bahwa keindahan adalah kebutuhan primer, bukan sekadar kemewahan. Ia tahu persis bagaimana menempatkan pencahayaan warm-white untuk menyembunyikan retak tipis di dinding, sama seperti ia tahu bagaimana memulas concealer untuk menutupi kelelahan di matanya sendiri.
Wajahnya kerap menghiasi sampul majalah gaya hidup. Senyumnya yang dipoles sedemikian rupa memenuhi halaman media sosial, dan setiap langkahnya disambut bisik kagum yang seolah tidak pernah berhenti. Publik menilainya sebagai simbol kehidupan modern yang paripurna, muda, berbakat dan berkelas.
Namun, di balik sorot mata yang selalu tampak tenang dan percaya diri, Kirana menyimpan kenyataan yang dingin. Ia tumbuh di sebuah rumah megah yang lebih mirip museum dari pada tempat tinggal. Di bawah bayangan orang tua yang lebih sibuk menghitung laba dan mengejar prestise, Kirana belajar bahwa suara tangis adalah gangguan bagi simfoni kesuksesan. Rumah masa kecilnya, dengan pilar marmer dan chandelier kristal yang berkilau angkuh, tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang. Hanya dinding-dinding dingin yang memantulkan sepi, tempat seorang anak kecil belajar memakai topeng senyuman agar tidak terlihat rapuh.
Kini, setelah dewasa, ia kembali memainkan sandiwara yang sama, hanya dengan panggung yang jauh lebih megah. Pernikahannya dengan Bara Wijaya, pewaris tunggal Wijaya Grup, hanyalah bagian dari perjanjian bisnis yang ditandatangani di atas meja makan. Bara adalah definisi kesempurnaan di atas kertas: tampan, karismatik, dan dominan. Di hadapan kamera, mereka adalah "Pasangan Emas". Mereka berjalan bergandengan tangan di gala dinner, berbagi senyum simpul yang tampak harmonis, membuat siapa pun iri pada keberuntungan mereka.
Hanya Kirana yang tahu betapa dinginnya genggaman tangan itu saat lampu kamera padam. Bagi Bara, Kirana bukan hanya seorang istri, melainkan sebuah investasi yang harus dijaga nilainya. Bara mencintai citra keluarga dan ambisi yang diwariskan kepadanya.Ia membutuhkan pendamping yang bisa menjaga martabatnya, hadir di acara sosial, dan pada waktunya, memberikan pewaris bagi dinasti Wijaya.
Malam itu, di sebuah galeri seni mewah di Menteng, peran itu kembali dipentaskan. Karpet merah digelar, lampu sorot berputar lincah, dan lensa kamera menunggu dengan lapar. Bara menggenggam tangan Kirana dengan mantap, menuntunnya menuruni anak tangga laksana seorang pangeran yang memamerkan permaisuri pilihannya. Kirana tersenyum. Bibirnya melengkung sempurna, matanya berkilau tepat seperti yang diharapkan oleh protokol kelas atas.