Langit Jakarta siang itu tampak pucat, disapu awan tipis yang berlarian laksana kapas yang tersangkut angin. Di balik dinding kaca tinggi Ritz-Carlton, hiruk-pikuk kota yang bising terasa sangat jauh, berubah menjadi lukisan abstrak yang bergerak lambat dalam keheningan yang mahal. Di dalam ruangan atmosfernya berbeda, ada keheningan yang berlapis kemewahan, sebuah ruang pertemuan yang telah dikurasi dengan detail sempurna. Meja panjang dari kayu walnut yang berkilau angkuh, kursi kulit hitam yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal, dan layar proyektor yang sudah menyala, menampilkan logo Wijaya Grup yang berdampingan dengan Arghas Property. Dua nama, dua kekuatan, dua semesta yang berbeda, sesaat lagi akan duduk bersama.
Pintu terbuka perlahan, memecah kesunyian. Arsen melangkah masuk dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Ia mengenakan kemeja biru muda dengan potongan yang pas di tubuh, lengannya digulung rapi hingga siku, sebuah gestur yang menyiratkan bahwa ia siap bekerja, bukan sekadar tampil. Jam tangan kulit hitam melingkar di pergelangan tangannya, sederhana namun elegan. Arsen tidak pernah menyukai atribut jas yang membebani bahu atau dasi yang seolah mencekik kejujuran bicaranya. Baginya, pakaian adalah ekstensi dari diri, ia harus menyatu, bukan sekadar simbol status yang kosong. Rania berjalan setengah langkah di belakangnya, membawa map hitam berisi dokumen, wajahnya datar namun matanya penuh kewaspadaan.
Di ujung ruangan, Bara sudah duduk tempatnya, Jas biru tua membalut tubuhnya tanpa cela, dasi terikat dengan sempurna dan sepatu mengilap yang mampu memantulkan ambisinya. Senyumnya tersusun rapi, hasil dari bertahun-tahun membangun citra di hadapan publik. Di sampingnya ada Ardhan sekretaris yang terkenal bertangan dingin sudah siap dengan jemari di atas laptop. Bara menegakkan punggungnya, mengamati Arsen yang baru masuk, seolah sedang menimbang seberapa besar ancaman yang dibawa oleh pria berkemeja biru itu sebelum pertempuran dimulai.
Arsen menyapa dengan anggukan kecil yang sopan namun setara. Ia menarik kursi, duduk tanpa ragu. Rania segera menyiapkan pointer untuk presentasi. Hening sejenak menekan udara, membuat detak jam dinding terdengar lebih keras daripada napas siapa pun di ruangan itu.
“Selamat siang, Pak Bara,” suara Arsen memecah udara. Tenang, jernih, dan tanpa basa-basi yang berlebihan. “Terima kasih atas kesempatan untuk mempresentasikan visi kami.”
Bara menautkan jemarinya di atas meja, mencondongkan tubuh ke depan, sebuah gestur dominasi yang halus. “Arghas Property menarik perhatian kami lewat beberapa proyek kecil yang... unik. Tapi ketahuilah, Wijaya Grup tidak sembarangan memilih mitra. Di sini, kualitas harus berbicara lebih keras daripada janji-janji manis.” Tatapannya menelusup tajam.
Arsen tidak terguncang. Ia menatap balik tepat ke manik mata Bara. “Bagi kami, kualitas bukan sekadar janji, Tuan Bara. Kami percaya bahwa sebuah proyek bukan hanya tentang beton yang berdiri angkuh atau kaca yang berkilau di siang hari. Proyek adalah kehidupan yang akan berdenyut di dalamnya. Kami ingin menghadirkan ruang yang hidup, ruang yang memberi kembali kepada penghuninya, bukan hanya mengambil.”