AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #3

​Bab 3 - Malam yang Tak Pernah Tenang

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun di lantai 35 sebuah apartemen mewah di jantung kota, keheningan justru terasa menusuk seperti jarum es. Dari balik dinding kaca raksasa, lautan lampu kota berpendar seperti gugusan bintang yang tersesat di antara aspal dan beton. Gedung-gedung pencakar langit menjulang angkuh, seakan hendak menelan langit malam yang pekat. Hiruk-pikuk di bawah sana tidak mengenal jeda, namun di dalam ruangan yang luas dan serba berkelas ini, kesunyian justru semakin terasa menekan.

​Kirana berdiri mematung di depan jendela. Jemarinya singgah perlahan di atas perutnya yang masih datar. Namun ia tahu, di balik keheningan tubuhnya, sedang tumbuh sebuah kehidupan yang belum pernah meminta apa pun selain kesempatan untuk dilahirkan. Dan kesadaran itulah yang diam-diam menahannya agar tidak ikut runtuh bersama dunia.

Janin itu tidak hadir dari kisah cinta yang pernah ia bayangkan. Namun, setiap kali tangannya menyentuh perutnya, ada sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa memiliki seseorang yang benar-benar menjadi miliknya.

"Arka," bisiknya pelan. Nama itu ia pilih sendiri, diam-diam ia simpan seperti sebuah harapan. Cahaya kecil yang ia doakan akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak perlu mewarisi luka yang sama dengannya.

Ruang di belakangnya adalah mahakarya interior, sofa kulit Italia yang aromanya masih terasa baru, lukisan abstrak yang konon bernilai miliaran, dan lampu kristal yang cahayanya pecah dengan sempurna. Namun, bagi Kirana, semua itu hanyalah dekorasi mati. Ia merasa seperti boneka porselen mahal yang diletakkan di etalase, dipandang, dinilai, namun tidak pernah benar-benar disentuh dengan kasih sayang.

​Pintu berderit. Suara langkah sepatu memecah keheningan. Kirana tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bara.

​“Masih terjaga?” suara Bara datar, tanpa intonasi yang menunjukkan rasa ingin tahu.

​Kirana menoleh pelan. Bara sudah menanggalkan jas birunya, menyisakan kemeja putih yang anehnya tetap tertata rapi seolah tidak terpengaruh oleh lelahnya hari. Di meja kerja, ia meletakkan ponselnya yang terus berkedip. Pandangan Bara segera jatuh ke layar ponsel, bukan ke mata istrinya.

​“Aku sulit tidur,” jawab Kirana singkat, suaranya hampir menyerupai bisikan.

​Bara hanya mengangguk samar. Ia menuangkan air mineral ke gelas kristal, meneguknya cepat, lalu duduk di kursi kerjanya tanpa menoleh lagi. Detik jam dinding terdengar seperti palu yang menghantam keheningan, memanjangkan jarak yang sudah berkilo-kilometer di antara mereka meski mereka berada di satu ruangan.

Lihat selengkapnya