AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #4

Bab 4-Singapura, Jejak yang Mengikat


Langit Singapura sore itu menyerupai lembaran kaca yang baru dibersihkan, biru pucat tanpa noda, memantulkan sinar matahari keemasan yang jatuh dengan presisi di permukaan gedung-gedung pencakar langit. Di bawah sana, jalanan tertata dengan kerapian yang hampir kaku, pepohonan hijau berdiri berjajar laksana prajurit yang menjaga keseimbangan antara beton dan oksigen. Di tengah metropolis yang bergerak cepat ini, sebuah hotel mewah di kawasan Marina Bay menjadi saksi bisu pertemuan tiga kekuatan besar, Arghas Property, Wijaya Grup, dan para investor asing yang haus akan inovasi.

Arsen berdiri di lobi hotel yang luas, sosoknya tampak tenang di tengah arsitektur ruang yang mendewakan kaca dan baja. Matanya menyisir setiap detail, pantulan cahaya pada pilar marmer, ritme langkah kaki manusia yang terburu-buru, hingga keseimbangan antara material keras dan nuansa lembut yang coba dihadirkan ruangan itu. Bagi Arsen, inspirasi tidak datang dari ruang hampa, ia selalu menemukannya dalam interaksi antara manusia dan lingkungannya.

Arsen merapikan kemeja biru muda berkualitas halus yang ia kenakan di balik jas tipis berwarna abu-abu lembut. Pilihan yang tidak berteriak, namun menyiratkan profesionalitas yang berakar pada kepercayaan diri. Jam tangan kulit di pergelangan kirinya berkilat pelan tertimpa lampu lobi, bukan sebagai simbol kemewahan yang ingin dipamerkan, melainkan sebagai pengingat akan waktu yang selalu ia jalani dengan penuh kesadaran.

“Pak Arsen,” suara Rania, asistennya, memecah fokusnya. Rania menyodorkan tablet berisi materi final. “Semua file sudah aman. Saya sudah tes proyektornya. Tapi ada satu dokumen tambahan dari Pak Ghasan tentang sustainability index yang baru masuk.”

Arsen menoleh, sorot matanya yang teduh kini berubah tajam dan fokus. “Bagus, Rania. Masukkan itu di bagian penutup. Kita harus menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar tentang membangun gedung, tapi tentang berinvestasi pada masa depan peradaban.”

Rania mengangguk pelan, diam-diam selalu kagum pada cara bosnya bekerja. Arsen tidak pernah bicara hanya soal angka atau luas lantai. Ia selalu membawa gagasan yang lebih besar tentang harmoni.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang akrab terdengar dari kejauhan. Kirana muncul, dibalut gaun ivory sederhana yang justru menonjolkan keanggunannya yang alami. Rambutnya ditata rapi, dan polesan make-up tipis membuat kecantikannya terasa alami di tengah kepalsuan lobi hotel. Bara berjalan di sampingnya, mengenakan jas hitam berkilat dengan senyum karismatik yang terpasang sempurna. Di belakang mereka, Ardhan terus menunduk pada ponselnya, memastikan agenda Bara Wijaya tetap pada relnya.

Saat mereka melintas, mata Arsen tanpa sadar terangkat. Sepersekian detik, tatapan mereka beradu. Di bawah lampu kristal yang gemerlap, Kirana merasakan desiran asing. Mata Arsen seolah sedang membaca lapisan hatinya yang selama ini ia tutup rapat dengan kesibukan dan kemewahan. Ia menunduk cepat, jantungnya berdegup tak beraturan, mencoba menekan perasaan aneh yang tiba-tiba menyerbu dadanya.

Rapat dimulai di sebuah ballroom luas dengan langit-langit tinggi yang megah. Layar besar di depan menampilkan judul yang berani Urban Harmony: Sustainable Living by Arghas Property.

Arsen melangkah ke depan. Langkahnya stabil, tidak terburu-buru, seolah ia benar-benar menguasai ruang itu. Ia membuka jasnya, menggulung sedikit lengan kemeja biru mudanya—sebuah gestur yang secara psikologis meruntuhkan jarak antara pembicara dan audiens.

Lihat selengkapnya