AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #5

​Bab 5 - Kota yang Memberi Jeda


Pagi di Singapura datang dengan cahaya yang jernih, seolah kota itu baru saja dibasuh oleh doa-doa malam yang sunyi. Langit berwarna biru pucat, dan udara lembap khas pesisir menyelinap ke setiap sudut kota yang tertata rapi, membawa aroma laut yang samar, bercampur dengan embusan angin yang melintas di antara gedung-gedung kaca yang mulai memantulkan cahaya matahari.

Dari balkon kamar hotelnya, Arsen berdiri memandankan Marina Bay yang perlahan terisi riak kehidupan. Kapal-kapal feri kecil melintas, menciptakan garis-garis putih di atas air yang tenang, sementara jembatan melengkung dan gedung-gedung kaca berkilau tajam tertimpa sinar matahari pagi.

​Ia mengenakan kemeja linen putih tipis yang membiarkan kulitnya bernapas, tanpa jas yang kaku, dengan lengan yang digulung santai hingga siku. Di atas meja kecil dekat kursinya, secangkir teh hangat masih mengepulkan uap tipis. Arsen selalu memilih teh. Baginya, teh memiliki cara tersendiri untuk menenangkan badai di kepalanya, memberi ruang yang cukup bagi jiwa untuk merenung sebelum dunia kembali menuntutnya menjadi sosok yang tangguh.

​Suara ketukan lembut di pintu memecah lamunannya. Rania masuk dengan tablet di tangan, tampak siap dengan jadwal yang padat. “Pak Arsen, jadwal hari ini sebenarnya agak longgar. Rapat lanjutan dengan pihak Singapura baru dimulai sore nanti. Pagi ini Bapak hanya ada undangan ringan, city tour bersama beberapa investor ke Gardens by the Bay.”

​Arsen menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan dengan senyum yang sulit diartikan. “Kau saja dan Ghasan yang hadir. Aku ingin menggunakan waktu ini untuk berjalan sendiri. Kadang, kepala manusia perlu ruang yang luas tanpa agenda yang mendikte. ”

​Rania terdiam sejenak, menatap bosnya dengan pengertian. Ia sudah terbiasa dengan sisi Arsen yang satu ini, sosok yang mampu menjadi singa di ruang rapat, namun menjelma pengelana yang mencari keheningan di sela-sela kesibukan. “Baik, Pak. Saya siapkan mobil jika nanti Bapak membutuhkannya.”

​Arsen mengangguk, lalu kembali memandang ke arah laut. Presentasi kemarin masih terngiang di kepalanya tepuk tangan, pujian, dan jabat tangan yang erat. Namun, semua itu kini terasa samar, tak lebih dari riak kecil di permukaan air. Yang tertinggal di dadanya justru keletihan yang purba, seolah tubuh dan pikirannya sedang meminta jeda panjang dari segala bentuk sandiwara kesuksesan.

​Sementara itu, beberapa lantai di bawah, Kirana duduk sendirian di sudut kafe hotel yang sepi. Blus pastel dan celana panjang putih yang ia kenakan membuatnya tampak sederhana, namun tetap memancarkan keanggunan yang tidak bisa disembunyikan. Di hadapannya, secangkir latte sudah mulai mendingin, meninggalkan jejak buih yang hampa. Di meja seberang, Bara sedang berada di telepon, suaranya meninggi dan penuh tekanan, membahas laporan keuangan Wijaya Grup dengan nada yang memerintah.

​Kirana menatap jendela besar kafe itu, menangkap bayangan dirinya sendiri,wajah yang tampak tenang dan tertata, namun di baliknya ada keresahan yang tak pernah benar-benar padam. Ia mengusap perutnya perlahan, sebuah gerak refleks yang belakangan sering ia lakukan. Ada kehidupan kecil di sana, sebuah rahasia yang ia jaga lebih ketat daripada nyawanya sendiri. Sebuah janin yang bagi Bara tak lebih dari sekadar instrumen penerus dinasti.

​“Jangan pergi ke mana-mana,” kata Bara singkat setelah menutup telepon dengan kasar. “Aku harus ke pertemuan tambahan dengan pihak perbankan. Tunggu aku di sini atau kembali ke kamar.”

​Kirana hanya mengangguk patuh. Begitu Bara melangkah pergi dengan aura dominannya, keheningan yang tersisa justru terasa seperti hadiah paling indah. Kirana berdiri, meninggalkan kopinya yang dingin, dan melangkah keluar kafe mengikuti instingnya yang haus akan udara bebas.

Lihat selengkapnya