AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #6

​Bab 6 - Jejak Rahasia

​Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, seolah waktu sengaja melambat untuk membiarkan kesunyian menyiksa setiap jengkal ruang. Ingatan Arsen mendadak terkunci pada sebuah malam beberapa tahun lalu di Jakarta, saat ia duduk sendirian di ruang kerjanya yang hanya diterangi oleh lampu meja remang, menyisakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.

​Berkas-berkas proyek bertumpuk tak tersentuh, tampak seperti gundukan kertas tanpa makna. Pikirannya macet, terus didera oleh gema kalimat singkat dari dokter yang ia temui siang itu.

​“Anda mengidap autoimun, Pak Arsen. Kondisi ini progresif, dan terapi imunosupresan dosis tinggi yang harus kita jalani nanti memiliki dampak masif yang permanen pada sistem biologis Anda. Ada keputusan-keputusan masa depan yang harus Anda amankan hari ini, sebelum kita memulai pengobatan.”

​Ia merebahkan tubuh ke sandaran kursi, menutup wajah dengan kedua telapak tangan yang terasa dingin. Bagaimana mungkin ia bisa membangun "rumah" bagi orang lain, jika rumah miliknya sendiri—tubuhnya—mulai menyimpan batas waktu?

​Arsen masih ingat betul bagaimana ia melewatkan hari pertama setelah hasil laboratorium itu keluar beberapa tahun lalu.

​Ia duduk di dalam mobilnya di area parkir rumah sakit selama hampir dua jam. Mesin mobil mati, udara di dalam kabin perlahan menghangat dan terasa mencekik, namun jemarinya tetap mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia hanya menatap lurus ke arah dinding beton di depannya. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan. Hanya ada keheningan yang pekat dan penolakan yang membeku di dalam dada. Ia tidak mampu menyalakan mesin, tidak mampu menyetir pulang, seolah jika mobil itu bergerak, vonis di dalam sakunya akan menjadi kenyataan yang absolut.

​Hari itu, ia menandatangani beberapa lembar persetujuan medis tanpa benar-benar membaca isinya. Beberapa menit kemudian sebuah nomor identitas ditempelkan pada tembung kecil yang akan di simpan bertahun-tahun di dalam ruang pembekuan. sejak hari itu, ia tahu ada bagian dari dirinya yang hidup dalam suhu di bawah titik beku, sementara dirinya harus terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Arsen berdiri cukup lama di depan pintu laboratorium sebelum benar-benar melangkah keluar. Lorong rumah sakit terasa begitu sunyi, hanya diisi langkah beberapa tenaga medis yang berlalu-lalang tanpa pernah mengetahui bahwa salah seorang pria yang mereka lewati baru saja meninggalkan sebagian masa depannya di balik pintu ruangan itu.

Di dalam saku jasnya, terselip sebuah kartu kecil berisi nomor identitas penyimpanan sampel. Hanya selembar kartu putih dengan deretan angka dan kode yang tak memiliki arti bagi orang lain. Namun bagi Arsen, benda itu terasa lebih berat daripada setumpuk gambar kerja yang biasa ia bawa ke lokasi proyek.

Sesampainya di parkiran, ia membuka pintu mobil, tetapi tidak segera masuk. Pandangannya menyapu langit Jakarta yang mulai redup oleh mendung. Kota itu tetap bergerak seperti biasa. Orang-orang berjalan tergesa menuju kendaraan mereka, beberapa keluarga keluar dari rumah sakit sambil menggandeng anak-anak, sementara suara klakson bersahutan dari jalan raya di kejauhan.

Lihat selengkapnya