Langit Jakarta menyambut mereka dengan selimut polusi yang berat, kelabu dan pekat, sangat kontras dengan kejernihan Singapura yang baru saja mereka tinggalkan. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, kehangatan yang sempat tercipta di taman hotel tempo hari seolah menguap, tersedot oleh realita yang menanti di pintu kedatangan. Terminal bandara yang bising segera menarik mereka kembali ke realitas peran masing-masing, pengusaha sukses, desainer ternama, dan arsitek visioner.
Kirana duduk di kursi belakang mobil mewah Bara, menatap keluar jendela pada deretan beton yang berkejaran, menyesakkan lambung. Di sampingnya, Bara tidak lagi menyinggung pemandangan Marina Bay. Pria itu sibuk dengan tablet di genggaman, mendiktekan instruksi tajam pada Ardhan mengenai rapat pemegang saham yang sempat tertunda. Tidak ada kata-kata penenang, tidak ada pertanyaan apakah punggung Kirana yang mulai membeban itu terasa pegal setelah penerbangan.
Bagi Bara, perjalanan ini adalah misi bisnis yang selesai dengan target terpenuhi. Bahkan kehamilan Kirana pun diperlakukan dengan ritme yang sama, sebuah proyek besar yang harus diawasi ketat.
Sementara itu, di dalam mobil yang berbeda, Arsen menatap gedung-gedung masif yang berjajar di sepanjang jalan protokol. Pikirannya masih tertinggal pada getaran suara Kirana di taman kemarin. Ada rasa kehilangan yang ganjil di dadanya, seolah-olah ia baru saja menemukan ambang pintu sebuah rumah, namun dipaksa berbalik arah sebelum sempat melepas sepatu.
"Sen," suara Ghasan memecah keheningan kabin. Aku liat lu banyak diem sejak di bandara tadi. Ada detail yang lu rasa belum settle sama Kirana soal Harmonia?"
Arsen menggeleng pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk lutut dengan ritme konstan. "Hanya lelah, Ghas. Proyek ini... menguras mental. Terlalu banyak ego yang harus diakomodasi di dalam satu struktur bangunan."
Ghasan menyipitkan mata, menatap partnernya lewat kaca spion tengah sebelum melirik langsung. "kamu tau, Sen? Bara Wijaya itu tipe orang yang menandai wilayahnya dengan sangat ketat. Aku liat cara dia natap kamu di lounge tadi. Dia mungkin nggak paham estetika arsitektur, tapi dia pakar dalam mengenali rivalitas. Jangan buat langkah yang bisa bikin Arghas hancur cuma karena perasaan impulsif yang kamu sendiri belum paham ujungnya ke mana."
Arsen terdiam. Pandangannya lurus mengunci aspal. Ia tahu Ghasan benar. Di dunia yang mereka tinggali, perasaan adalah variabel pengganggu yang bisa mengacaukan seluruh kalkulasi beban struktur.
Minggu-minggu berikutnya menjelma menjadi ujian fisik yang panjang bagi Kirana. Perutnya semakin membesar, dan bersamaan dengan itu, dinding ekspektasi keluarga Wijaya terasa semakin mengimpit. Mertuanya kerap datang tanpa kabar, bukan untuk menyentuh perutnya atau menanyakan kabarnya, melainkan untuk memastikan bahwa kamar bayi yang sedang didesain Kirana sudah "cukup megah" untuk menyandang nama besar keluarga.
Suatu siang, ketegangan itu berpindah ke ruang rapat internal di rumah utama. Kirana duduk berhadapan dengan tim kontraktor Wijaya Grup, membahas material area balkon yang tersambung langsung dengan kamar bayi.
"Ibu Kirana, Pak Bara meminta kita menggunakan marmer hitam impor untuk seluruh lantai dan dinding pembatas balkon agar senada dengan fasad utama rumah," ujar kepala kontraktor, menyodorkan sampel batu yang berkilau gelap.