Ruang bersalin di salah satu rumah sakit swasta paling bergengsi di Jakarta itu dipenuhi aroma antiseptik yang pekat dan cahaya putih yang tak mengenal belas kasihan. Lampu sorot di langit-langit memantulkan bayangan dingin pada dinding-dinding keramik yang licin. Di sudut ruangan, suara monitor jantung berdetak konstan bip... bip.. bip.. menandai ketegangan yang melekat di udara, seolah waktu sendiri sedang menahan napas.
Kirana terbaring di ranjang besi, tenaganya terkuras habis, wajahnya pias oleh peluh. Namun, sorot matanya mengunci sisa kekuatan yang ia miliki. Di balik setiap helaan napas yang memburu dan kontraksi yang menghantam bergantian, ia tahu ambang pintu dunianya sedang bergeser. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran ranjang logam hingga buku-buku jarinya memutih, dingin dan basah.
“Sedikit lagi, Bu… kuatkan, dorong pelan…” Suara dokter terdengar tenang namun memberi penekanan di antara riuh instruksi medis para perawat.
Satu dorongan terakhir menyentak seluruh tubuh Kirana. Tangisannya pecah bersamaan dengan air mata yang merembes ke pelipis. Semua rasa sakit, lapisan luka batin yang ia jahit sendiri selama mendiami rumah besar Wijaya, seakan melebur menjadi satu ledakan tenaga.
Dan ketika suara tangis bayi yang melengking pecah memenuhi ruangan, Kirana meluruh ke bantal yang hangat. Tangis itu frekuensi pertama dari hidup yang baru seketika meredam segala kerumitan di kepalanya.
Perawat mengangkat tubuh mungil yang kemerahan dan bergetar hebat itu dengan sigap. “Selamat, Bu Kirana. Putranya sehat. Sempurna.”
Kirana tersenyum samar di tengah gigilan tubuhnya pascapersalinan. Saat bayi itu diletakkan di atas dadanya untuk inisiasi menyusu dini, ia menatap kelopak mata kecil yang belum sepenuhnya terbuka itu. Bibirnya yang kering bergerak tanpa suara, membentuk satu nama.
Arka.
Sebuah nama yang berarti matahari. Di dalam hati Kirana yang paling sunyi, nama itu adalah doa agar anak ini tumbuh menjadi cahaya yang cukup kuat untuk menuntunnya keluar dari kegelapan sangkar emas Wijaya.
Di luar ruang bersalin, koridor rumah sakit menjelma menjadi panggung yang berbeda.
Bara berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang masih rapi, hanya simpul dasinya yang sedikit dilonggarkan setelah menunggu berjam-jam. Begitu pintu otomatis terbuka dan perawat keluar, gurat tegang di wajahnya langsung digantikan oleh binar yang tegas.
“Selamat, Pak. Anak Anda lahir dengan sehat.”
Bara tidak bertanya tentang kondisi Kirana terlebih dahulu. Bahunya menegak. “Laki-laki?”