Tokyo malam itu berkilau laksana hamparan berlian yang tumpah ke bumi. Cahaya neon Shinjuku berbaur dengan lalu lintas yang bergerak nyaris tanpa cela, menciptakan harmoni antara modernitas dan kedisiplinan yang telah menjadi denyut kota itu selama puluhan tahun. Dari balik jendela kaca hotel yang menjulang tinggi, Arsen memandangi lautan cahaya tersebut dalam diam.
Dari lantai tiga puluh dua hotel itu, Tokyo terlihat seperti organisme yang tidak pernah tidur. Rangkaian kereta meluncur tepat waktu di kejauhan, lampu-lampu jalan menyala dalam keteraturan, sementara pejalan kaki tetap memenuhi persimpangan Shibuya meski malam telah larut. Tidak ada klakson yang saling bersahutan, tidak ada kekacauan yang berteriak meminta perhatian. Kota ini bergerak dengan disiplin yang hampir menyerupai mesin, namun tetap menyisakan ruang bagi manusia untuk merasa nyaman di dalamnya.
Perjalanan ke Jepang bukan sekadar perluasan bisnis bagi Arghas Property. Ini adalah pembuktian bahwa visi yang mereka bawa dari Singapura layak dipercaya di negeri yang menjadikan presisi sebagai budaya hidup. Arsen memahami, di sini, kesalahan sekecil apa pun bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan cerminan dari karakter seseorang.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
"Masuk."
Rania muncul sambil membawa tablet dan beberapa lembar cetak biru yang telah dipenuhi coretan tinta merah. Wajahnya masih sama tenangnya, meski hari telah larut. Di sisi lain ruangan, Ghasan lebih dulu duduk di sofa kulit dengan laptop terbuka di atas meja. Beberapa peta geologi Yokohama, grafik simulasi struktur, serta laporan efisiensi energi memenuhi layar di hadapan mereka.
"Pak Arsen, Pak Ghasan," ujar Rania membuka rapat malam itu. "Saya sudah mempelajari profil konsorsium yang akan kita temui besok. Mereka bukan hanya investor. Mereka sangat menjaga filosofi bisnis Jepang. Pendekatan yang berhasil di Jakarta belum tentu diterima di sini."
Arsen mengangguk pelan.
"Yang mereka cari bukan sekadar bangunan terbaik," lanjut Rania. "Mereka mencari ketelitian, kesinambungan, dan omotenashi. Arsen memutar layar gambar kerja ke arah Ghasan. "Bagaimana hasil simulasi seismiknya?"
"Sudah aku sesuaikan dengan karakter tanah Yokohama," jawab Ghasan sambil memperbesar tampilan model tiga dimensi. "Sistem penahan gempa kita memakai metode pendulum terbaru. Tapi menurutku, kekuatan struktur saja belum cukup. Mereka sangat serius mengejar target Net Zero Emission."
Ia menunjuk bagian fasad gedung pada layar. "Aku mengganti panel kaca biasa dengan panel surya transparan generasi baru. Efisiensi energi gedung naik hampir tiga puluh lima persen."
Arsen mengamati detail tersebut beberapa detik sebelum menunjuk area utilitas. "Jangan terlalu banyak memakai istilah 'green building'. Semua perusahaan sekarang memakai istilah itu."