AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #10

​BAB 10 - Retakan di Dinding Kaca

​Rumah besar keluarga Wijaya di kawasan elit Jakarta kembali menjadi sorotan setelah kelahiran Arka. Selama berhari-hari, gerbang megah itu tidak pernah sepi dari kiriman karangan bunga, keranjang buah premium, dan berbagai bingkisan dari para pejabat serta kolega bisnis.

Foto keluarga Wijaya menghiasi halaman depan majalah bisnis. Media ramai membicarakan masa depan sang pewaris kecil, memperkirakan nilai kekayaan yang suatu hari akan berada di tangannya. Di mata dunia luar, Arka adalah bayi yang terlahir dengan segala keberuntungan yang bisa dimiliki seseorang.

Namun, di balik dinding marmer yang megah dan lampu kristal yang berpendar hangat, ada sebuah kedinginan yang mulai merayap. Kedinginan itu tidak berasal dari pendingin udara, melainkan dari sepasang mata yang tak pernah berhenti mengamati.

​Ratih menyusuri koridor menuju kamar Kirana dengan langkah yang tenang namun penuh selidik. Sebagai wanita yang menghabiskan separuh hidupnya untuk menjaga marwah dan kemurnian nama Wijaya, ia memiliki insting yang tajam terhadap apa pun yang dianggapnya sebagai anomali. Baginya, darah Wijaya adalah kesucian yang tidak boleh dicemari oleh keraguan sekecil apa pun.

​Saat ia mendorong pintu kamar yang berat itu, ia menemukan Kirana sedang terlelap karena kelelahan pascapersalinan. Arka berada dalam pengawasan seorang perawat bayi di sudut ruangan. Ratih memberikan isyarat agar perawat itu menyingkir sejenak. Ia ingin berdua saja dengan bayi itu.

​Ratih melangkah mendekat ke arah boks bayi berbahan sutra tersebut. Matanya langsung tertuju pada satu titik yang telah menghantuinya sejak hari pertama di rumah sakit, kaki kanan Arka.

​Tanda lahir berbentuk sabit itu kini terlihat semakin tegas di atas kulit Arka yang mulai bersih. Warnanya gelap, melengkung dengan presisi yang ganjil. Ratih menahan napas, memorinya yang tajam memutar kembali setiap detail silsilah keluarga Wijaya yang diketahuinya.

​Tidak ada bulan sabit itu. Selesai. Pendek. Menusuk.

​Beberapa hari kemudian, pada suatu sore yang mendung, Bara pulang dengan wajah lelah namun masih memancarkan kebanggaan seorang ayah. Ia meletakkan tas kerjanya dan langsung menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga, menatap taman belakang yang basah oleh sisa hujan.

​“Bara, kau sudah melihat lebih dekat tanda lahir di kaki Arka?” tanya Ratih tanpa basa-basi, suaranya tenang.

​Bara tertawa kecil sambil melonggarkan dasinya, mencoba mencairkan suasana. “Ah, tanda lahir itu lagi? Aku sudah lihat, Bu. Kirana bilang itu hanya keunikan. "Tidak semua hal kecil harus sama dengan orang tuanya. Arka tetap anak kita, apa pun tanda yang dia bawa”

​Ratih memutar tubuhnya, menatap putranya dengan tenang.

​"Ibu cuma merasa aneh."

​Bara mengernyit, tangannya berhenti melonggarkan dasi. "Aneh bagaimana?"

Lihat selengkapnya