AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #11

​BAB 11 - Kenangan yang Tertinggal

Tokyo di pukul dua pagi adalah sebuah kanvas sepi yang dibingkai cahaya neon Shinjuku yang mulai memudar. Dari lantai tiga puluh dua Hotel Grand Hyatt, Arsen memandangi kota yang tetap bergerak dengan disiplin, seolah malam hanyalah pergantian giliran bagi kehidupan, bukan waktu untuk berhenti. Anehnya, justru di tengah kota yang tak pernah benar-benar tertidur itu, ia merasa menjadi satu-satunya orang yang sedang kehilangan arah.

​Ia tidak pernah benar-benar bisa mengusir satu nama dari kepalanya. Bahkan setelah ia berdiri di puncak kesuksesan, setelah namanya disebut sebagai salah satu arsitek paling berpengaruh di Asia Tenggara, bayangan Kirana selalu menemukan celah untuk menyelinap.

​Ia menyelinap di sela lelah rapat direksi, di tengah heningnya perjalanan bandara, dan—yang paling menyakitkan—di saat Arsen merasa dunia sedang memujanya. Karena di balik semua kemegahan ini, Arsen tahu, hatinya hanyalah sebuah bangunan kosong yang pemiliknya telah lama pindah ke alamat yang tak bisa ia jangkau.

​Memori itu mulai berputar, jernih dan menyakitkan.

​Tahun 2012. Kampus Teknik Arsitektur saat itu terasa sangat panas. Arsen adalah senior yang dikenal sebagai "pilar es"—dingin, berwibawa, dan hanya bicara lewat desain-desainnya yang ambisius. Ia adalah mahasiswa beasiswa yang harus menghitung setiap rupiah untuk makan siang, sementara teman-temannya sibuk mendiskusikan liburan semester di Bali. Baginya, setiap garis di atas kertas kalkir adalah taruhan untuk masa depan yang lebih layak.

​Di tengah riuh ospek yang melelahkan itulah, ia melihatnya. Seorang mahasiswi baru dengan langkah yang sedikit ragu namun tatapannya tegas, berjalan di antara kerumunan maba yang kelelahan.

​“Mas… boleh minta tanda tangan?” suara itu lembut, nyaris tenggelam oleh deru kipas angin besar di aula.

​Arsen menoleh, sudah menyiapkan wajah datar untuk menolak. Namun, matanya terkunci pada sepasang mata bening yang seolah memantulkan cahaya matahari sore. Kirana. Rambutnya dikuncir kuda secara sederhana, wajahnya lelah dengan peluh tipis di pelipis, namun senyumnya—senyum itu adalah sesuatu yang tidak pernah Arsen duga akan menjadi jangkar di jiwanya seumur hidup.

​Arsen diam beberapa detik terlalu lama, hingga Kirana tampak sedikit kikuk, jemarinya meremas buku catatan lusuh di dada. Dengan tangan yang nyaris bergetar karena sensasi asing yang menyerang sarafnya, Arsen mengambil bolpoin dan menuliskan namanya dengan garis tegas: Arsen Pratama.

​“Terima kasih, Mas Arsen. Saya Kirana,” ucapnya sebelum berlari kecil menyusul barisannya.

Arsen berdiri mematung. Untuk beberapa detik, ia lupa mengapa sejak tadi berada di lapangan itu. Suara riuh ospek perlahan menjauh, menyisakan satu wajah yang entah bagaimana berhasil memenuhi seluruh ruang di kepalanya.

​Bulan-bulan berikutnya adalah siksaan yang manis. Arsen sering mendapati dirinya sengaja melewati studio tingkat satu hanya untuk memastikan Kirana ada di sana, sedang berkutat dengan tugas maketnya.

​Ada hari-hari kecil yang tertinggal di ingatan. Seperti sore itu ketika Kirana dengan napas terengah-engah mengembalikan penggaris T milik Arsen yang sempat dipinjamnya seminggu lalu, lengkap dengan tempelan sticky notes kecil bergambar senyum di ujungnya. Atau malam di studio saat Kirana mengetuk mejanya hanya untuk meminjam pensil mekanik 0.5, lalu mereka berakhir mendiskusikan kemiringan atap hingga menjelang subuh.

Ada pula malam ketika listrik studio padam beberapa menit karena hujan deras. Seluruh mahasiswa mengeluh sambil menyalakan senter ponsel masing-masing. Hanya Kirana yang justru tertawa kecil.

"Kalau begini," katanya sambil memandang maket-maket yang tenggelam dalam remang, "kita jadi tahu desain mana yang tetap indah meski tanpa cahaya."

Arsen tidak ikut tertawa.

Namun sejak malam itu ia sadar, perempuan ini selalu mampu menemukan keindahan di tempat yang bahkan gagal ia lihat sebagai seorang arsitek.

Lihat selengkapnya