AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #13

BAB 13- Sebelum Garis Itu Bersilangan Lagi

​Pagi di kediaman utama keluarga Wijaya selalu dimulai dengan keteraturan yang nyaris sempurna. Tirai-tirai sutra terbuka tepat ketika matahari mulai menghangatkan halaman belakang. Aroma roti artisan yang baru keluar dari pemanggang bercampur dengan wangi kopi hitam yang diseduh dari biji pilihan. Para asisten rumah tangga bergerak tanpa banyak suara, seolah telah menghafal irama rumah itu hingga setiap langkah mereka menjadi bagian dari rutinitas yang tak pernah keliru.

​Semenjak Arka lahir, Kirana memang memilih untuk meninggalkan apartemen mereka dan pindah ke mansion utama ini. Ia berpikir rumah besar dengan halaman luas akan jauh lebih baik untuk tumbuh kembang putranya, sekaligus berharap kehadiran cucu pertama di bangunan ini bisa mencairkan kekakuan keluarga Wijaya. Namun nyatanya, kepindahan dari ruang apartemen yang minimalis ke rumah megah ini tidak mengubah apa pun.

​Rumah megah itu tetap tenang, tetapi ketenangan tersebut tidak lagi menghadirkan rasa damai. Ia menjelma menjadi kesunyian yang perlahan menekan dada, seperti kabut tipis yang tak terlihat namun membuat setiap tarikan napas terasa lebih berat.

​Kirana duduk sendirian di meja makan yang panjang. Cangkir teh chamomile di hadapannya telah kehilangan uap sejak beberapa menit lalu. Jemarinya memutar perlahan gagang cangkir tanpa benar-benar berniat meminumnya. Pandangannya kosong, menembus dinding kaca besar yang menghadap taman belakang.

​Embun masih menggantung di ujung daun kamboja.

​Seekor burung pipit hinggap sebentar di tepian kolam sebelum kembali terbang.

​Segalanya tampak begitu tenang. Hanya saja, ketenangan itu tidak pernah berhasil sampai ke dalam dirinya.

​Sejas acara amal beberapa hari lalu, Bara berubah. Perubahannya begitu halus sehingga mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Ia tetap pulang tepat waktu. Tetap mengenakan jas yang selalu rapi. Tetap menjalankan seluruh rutinitasnya sebagai pewaris Wijaya Group.

​Tetapi ada sesuatu yang hilang. Tatapannya tidak lagi berhenti cukup lama ketika memandang Kirana. Percakapan mereka semakin pendek. Senyumnya semakin jarang. Bahkan kecupan singkat di kening sebelum berangkat bekerja kini terasa seperti formalitas yang dilakukan karena kebiasaan, bukan lagi karena kasih sayang.

​Kirana berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya akibat kelelahan. Proyek rumah sakit sedang berjalan. Yayasan sedang sibuk. Investor dari Jepang akan kembali datang. Mungkin Bara hanya sedang memikul terlalu banyak beban.

​Namun, semakin ia mencari alasan, semakin kuat pula firasat yang berbisik bahwa ada sesuatu yang sedang dijaga suaminya rapat-rapat.

​Suara langkah kaki dari lantai atas akhirnya terdengar. Bara menuruni tangga dengan langkah tenang. Setelan hitam yang dikenakannya tampak sempurna. Dasi biru gelap terikat presisi. Rambutnya disisir rapi seperti biasa.

​Dari luar, tak ada yang berubah. Tetapi Kirana mengenal lelaki itu terlalu lama untuk tidak menyadari perbedaan kecil yang nyaris tak terlihat. Sorot mata Bara kini selalu tampak lelah. Bukan lelah karena pekerjaan, melainkan seperti seseorang yang sedang terus-menerus memikirkan sesuatu.

​"Selamat pagi," sapa Kirana pelan.

​Bara mengangguk tipis. "Pagi."

​Ia menarik kursi di seberang Kirana, lalu menuangkan kopi hitam ke dalam cangkirnya sendiri. Tak ada percakapan. Hanya suara sendok kecil yang sesekali menyentuh porselen.

​Beberapa bulan lalu, mereka masih sering membicarakan banyak hal di meja makan. Tentang proyek baru. Tentang desain interior yang sedang dikerjakan Kirana. Tentang nama-nama bayi yang mereka perdebatkan sebelum akhirnya memilih nama Arka. Kini, meja makan itu hanya dipenuhi keheningan.

​Kirana memberanikan diri membuka percakapan. "Hari ini langsung ke kantor?"

​"Ya."

​"Ada rapat?"

​"Beberapa." Bara tetap menatap layar ponselnya.

​Kirana tersenyum tipis, mencoba menjaga percakapan tetap hidup. "Ibu bilang mungkin sore nanti mau datang melihat Arka."

​Baru kali itu Bara mengangkat wajah. "Iya."

​Hanya itu. Tak ada pertanyaan lanjutan. Tak ada komentar. Kirana kembali menunduk. Entah sejak kapan mereka mulai berbicara seperti dua rekan kerja yang kebetulan tinggal serumah.

​Keheningan kembali memenuhi ruang makan. Beberapa saat kemudian Bara berdiri. "Aku berangkat."

​"Sudah sarapan?"

​"Sudah cukup."

​Kirana ikut berdiri. Seperti biasanya, ia berharap Bara akan mendekat, memberikan kecupan singkat di keningnya. Namun pagi itu Bara hanya mengambil tas kerjanya. "Jaga Arka."

​"Aku selalu menjaganya."

​Bara mengangguk pelan. "Lalu... istirahat kalau sempat."

​Kalimat itu terdengar seperti perhatian, namun diucapkan dengan jarak yang begitu jauh. Sebelum Kirana sempat mengatakan apa pun, Bara sudah melangkah menuju pintu depan. Beberapa detik kemudian suara mesin mobil terdengar menjauh meninggalkan halaman rumah.

​Kirana tetap berdiri di tempatnya. Rumah itu kembali sunyi. Ia mengembuskan napas panjang. Ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka, dan ia hanya belum mengetahui apa namanya.

​Tangisan kecil dari lantai atas memecah keheningan. Arka. Seketika wajah Kirana sedikit melunak. Ia bergegas menaiki tangga, memasuki kamar bayi yang dipenuhi cahaya matahari pagi. Arka menggerakkan tangan kecilnya begitu melihat sang ibu mendekat.

​Kirana tersenyum hangat. "Sudah bangun, ya?"

​Ia mengangkat tubuh mungil putranya dengan hati-hati. Tangisan itu langsung mereda. Arka menatap wajah ibunya dengan mata bening yang masih dipenuhi kantuk.

​Kirana mengecup keningnya perlahan. "Ayahmu sedang banyak pikiran," bisiknya lirih. "Semoga semua segera baik-baik saja."

​Arka tentu tidak mengerti. Ia hanya tersenyum kecil sebelum kembali memejamkan mata di pelukan ibunya. Melihat wajah putranya yang damai, Kirana mencoba menguatkan dirinya sendiri. Apa pun yang sedang terjadi, ia tidak ingin rumah ini kehilangan kehangatan. Setidaknya... Arka tidak boleh tumbuh di tengah rumah yang dipenuhi kebisuan.

​Di sisi lain kota, pagi di kantor pusat Arghas Property berjalan dengan irama yang sama sibuknya. Suara ketukan papan ketik, percakapan para insinyur, serta layar-layar besar yang dipenuhi gambar struktur memenuhi lantai utama gedung.

Lihat selengkapnya