AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #15

BAB 15 - Rumah yang Tak Lagi Hangat

​Malam turun perlahan di kediaman utama keluarga Wijaya, membawa serta hawa dingin yang tak mampu diusir oleh pemanas ruangan tercanggih sekalipun. Hujan tipis mengguyur pelataran, menimbulkan suara ketukan lembut di atap kaca penthouse yang biasanya menjadi tempat paling teduh untuk bernaung. Tapi malam itu, tak ada kehangatan yang tersisa di dalam bangunan megah itu, hanya gema langkah kaki di atas marmer, udara yang terasa hampa, dan jarak antara penghuninya yang terasa kian memanjang laksana jurang tanpa dasar.

​Kirana berdiri di dapur yang didominasi warna monokrom dan peralatan stainless steel yang mengkilap dingin. Ia mengenakan daster sutra berwarna gading yang tampak kontras dengan suasana hatinya yang kelabu. Tangannya sibuk menyiapkan susu hangat untuk Arka yang baru saja terlelap setelah hampir satu jam merengek. Lampu kuning temaram di atas meja konter memantulkan siluet lembut wajahnya—wajah yang dulu sering tersenyum cerah di koridor kampus, kini terlihat letih dan layu, seperti seseorang yang terus-menerus menunggu sesuatu yang ia tahu tak akan pernah kembali.

​Dari ruang tamu, sayup-sayup terdengar suara Bara sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Suaranya dalam, datar, dan tersendat lelah. Tak ada bentakan, hanya ketegasan yang tertahan.

​Kirana menghela napas, menatap uap yang mengepul dari gelas susunya. Bagi Bara, hidup belakangan ini tampaknya telah berubah menjadi papan catur yang melelahkan, dan Kirana bisa merasakan suaminya sedang memikul beban yang enggan ia bagi.

​Dulu, Kirana pernah membayangkan pernikahan sebagai sebuah rumah yang penuh tawa dan aroma masakan rumahan. Tapi kini, setiap dinding wallpaper mahal ini seolah menjadi saksi bisu betapa cinta bisa memudar tanpa suara, digantikan oleh rutinitas dan keheningan yang pelan-pelan membekukan mereka.

​Bara muncul di ambang pintu dapur, menurunkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia melepaskan kancing kerah kemejanya, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. Gurat lelah di wajahnya terlihat begitu pekat.

​“Kau belum tidur?” tanyanya pelan. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan di tengah sunyinya dapur.

​“Baru saja menidurkan Arka. Dia sedikit rewel malam ini,” jawab Kirana sambil mencoba mengulas senyum kecil yang tulus. “Hari ini sangat sibuk? Bagaimana perkembangan draf rumah sakit? Aku mendengar dari pengurus yayasan, hari ini ada agenda penyelarasan desain.”

​Bara melangkah mendekat, bersandar pada tepian meja konter. Jarak mereka dekat, namun ada sesuatu yang menahan Bara untuk tidak menyentuh istrinya seperti dulu. “Tadi siang tim Arghas Property melakukan rapat sinkronisasi dengan jajaran direksi RS Aryadana. Hasilnya solid. Arsitek utama mereka cukup solutif.”

​Kirana merasakan debar halus di dadanya saat proyek itu disebut. “Arghas... Jadi, Mas Arsen yang memimpin sesinya langsung?”

​Mendengar pertanyaan itu, Bara terdiam sejenak. Sorot matanya yang lelah mendadak meredup, menatap Kirana dengan intensitas yang membuat udara di antara mereka terasa menyusut. Ada jeda beberapa detik yang senyap sebelum Bara akhirnya bersuara, teramat pelan. “Kamu menyebut namanya dengan sangat akrab.”

​Kirana menahan napas sejenak, menangkap nada yang janggal dalam intonasi suaminya. Ia buru-buru menguasai diri agar tidak tampak gugup.

​“Dia arsitek utama yang memegang proyek rumah sakit kita, Bara. Wajar kalau aku tahu namanya dari berkas yayasan,” jawab Kirana sekondusif mungkin, mencoba menyembunyikan gemuruh di dadanya. “Lagipula... malam itu dia yang kebetulan menolong Arka saat menangis di koridor. Aku hanya berusaha bersikap sopan.”

​Bara membahasahi bibirnya yang kering. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya justru jatuh pada kepulan uap susu hangat yang perlahan menghilang di antara mereka.

​"...Malam itu," ucapnya pelan.

​Kirana mengangkat wajah.

​"Waktu Arka menangis."

Lihat selengkapnya