AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #16

BAB 16: Jejak yang Tak Mau Hilang


​Pagi di kediaman utama keluarga Wijaya selalu datang dengan keteraturan yang nyaris sempurna. Tirai-tirai tinggi terbuka perlahan ketika matahari mulai menghangatkan taman belakang. Aroma dupa gaharu yang dibakar setiap pagi mengalir lembut memenuhi lorong-lorong rumah, berpadu dengan wangi bunga melati yang baru dipetik dari halaman. Para asisten rumah tangga bergerak tanpa banyak suara, seolah telah memahami bahwa rumah sebesar ini lebih menyukai kesunutian daripada percakapan.

​Di lantai satu, Ratih berjalan seorang diri menuju ruang kerja pribadinya. Langkahnya tenang. Terukur. Tidak pernah tergesa.

​Ruangan itu nyaris tidak berubah selama lebih dari dua puluh tahun. Rak-rak kayu jati memenuhi satu sisi dinding, menyimpan map-map keluarga yang disusun berdasarkan tahun, album foto, dokumen perusahaan, hingga surat-surat lama yang masih terawat rapi. Bagi sebagian orang, ruangan itu hanyalah tempat menyimpan arsip. Namun bagi Ratih, setiap benda di sana adalah potongan sejarah yang tak boleh hilang.

​Ia berhenti di depan lemari paling ujung. Telapak tangan menyentuh gagang kuningan yang mulai kusam dimakan usia. Sesaat, pandangannya menyapu isi lemari itu. Piala-piala Bara semasa sekolah. Foto wisuda. Jam tangan mendiang suaminya. Beberapa album keluarga yang disusun berjajar menurut tahun.

​Hening beberapa saat. Lalu, tanpa ragu, Ratih menarik sebuah album bersampul beledu hitam yang warnanya mulai memudar di bagian sudut. Album itu terasa berat di tangan. Bukan karena isinya, melainkan karena terlalu sering kembali ia buka.

​Ratih membawanya menuju meja kerja, lalu duduk perlahan. Ia membuka sampulnya dengan gerakan yang begitu hati-hati, seolah benda tua itu menyimpan sesuatu yang rapuh.

​Lembar demi lembar halaman berganti. Foto Bara saat baru belajar berjalan. Foto ulang tahun pertamanya. Foto keluarga kecil mereka bertahun-tahun silam.

​Jemarinya berhenti. Di halaman yang sama. Lagi.

​Tatapannya menetap cukup lama pada foto Bara ketika masih berusia beberapa bulan. Tanpa sadar, ibu jari mengusap permukaan foto yang mulai mengilap karena terlalu sering disentuh.

​Perlahan ia membuka laci meja. Di dalamnya telah tersimpan sebuah amplop cokelat kecil. Ratih mengeluarkan selembar foto bayi Arka yang dicetak beberapa hari lalu. Ia meletakkannya tepat di samping foto Bara.

​Keheningan memenuhi ruangan. Tatapannya berpindah dari satu wajah kecil ke wajah lainnya. Berkali-kali. Tanpa tergesa. Tanpa mengubah ekspresi.

​Bukan sekali ini album itu kembali terbuka di atas meja kerjanya. Sejak hari Arka dilahirkan, halaman yang sama telah berkali-kali ia datangi. Setiap kali mencoba mengabaikan bisikan yang mengganggu pikirannya, ia justru berakhir pada dua wajah kecil yang kembali ia sejajarkan dalam diam.

​Hari ini pun hasilnya tetap sama. Ia tidak menemukan jawaban. Namun ia juga tidak berhasil membungkam pertanyaan yang terus datang.

​Ratih mengembuskan napas perlahan. Kemudian, dengan sangat hati-hati, ia menutup album itu. Tepat ketika suara langkah kaki dari lantai atas mulai terdengar.

​Beberapa saat kemudian, aroma dupa gaharu kembali mengalir pelan dari lorong utama rumah.

​Kirana berjalan menuruni anak tangga marmer dengan langkah yang hati-hati, mendekap Arka yang pagi itu akhirnya terlelap tenang setelah semalaman beberapa kali terbangun. Ia membenarkan selimut tipis yang menutupi tubuh putranya, memastikan embusan pendingin ruangan tidak membuat bayi itu kembali kedinginan.

Lihat selengkapnya