AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #17

BAB 17- Ruang yang Dibangun dengan Keyakinan

Mobil sedan hitam milik Wijaya Group melambat memasuki pelataran kantor pusat Arghas Property.

​Bangunan sembilan lantai itu berdiri tenang di tengah deretan gedung perkantoran Jakarta. Tidak menjulang paling tinggi. Tidak pula dibalut kemewahan yang mencolok. Fasadnya didominasi beton ekspos, kaca-kaca lebar, serta kisi-kisi kayu yang membiarkan cahaya matahari masuk tanpa berlebihan. Pepohonan ketapang kencana berjajar di sepanjang jalur pejalan kaki, sementara kolam refleksi yang dangkal memantulkan bayangan bangunan dengan tenang. Sekilas, kantor itu lebih menyerupai galeri seni daripada kantor pengembang properti bernilai triliunan rupiah.

​Bara turun lebih dahulu. Pandangannya menyapu keseluruhan bangunan tanpa tergesa. Di belakangnya, Kirana membawa map berisi dokumen Wijaya Foundation, sementara Ardhan, sekretaris pribadi Bara, berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

​Mereka memasuki lobi utama. Ruangan itu dipenuhi cahaya alami yang jatuh dari skylight di langit-langit. Tidak ada lampu kristal raksasa ataupun meja resepsionis dari batu marmer mengilap. Dinding-dindingnya justru dihiasi foto-foto proyek yang telah selesai dibangun, lengkap dengan kisah singkat mengenai masyarakat yang kini memanfaatkannya. Suasananya terasa hidup, namun tidak berisik.

​Seorang resepsionis segera berdiri. "Selamat pagi, Pak Bara. Selamat datang di Arghas Property. Pak Ghasan sudah menunggu Bapak."

​Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, seorang pria berjas biru tua datang menyambut dengan senyum hangat. "Pak Bara." Keduanya berjabat tangan. "Terima kasih sudah bersedia datang ke kantor kami."

​"Selamat pagi, Pak Ghasan."

​Ghasan tersenyum. "Sejujurnya, kami yang seharusnya datang ke Wijaya Group. Finalisasi desain biasanya memang dilakukan di kantor klien."

​Bara tersenyum tipis. "Untuk Harmonia Residence mungkin begitu. Tapi ini proyek kedua kita. Sekali-kali saya yang datang ke kantor Arghas secara langsung." Ia kembali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Lagipula, saya selalu percaya karakter sebuah perusahaan bisa dilihat dari ruang tempat mereka bekerja."

​Ghasan tertawa kecil. "Kalau begitu semoga Arghas tidak mengecewakan."

​"Kesan pertama saya justru sebaliknya." Bara berhenti beberapa detik sebelum melanjutkan. "Saya mengira kantor Arghas akan jauh lebih megah."

​Ghasan ikut menoleh mengamati sekeliling. "Karena nilai proyek kami?"

​Bara mengangguk. "Dengan portofolio sebesar Arghas, saya membayangkan gedung tiga puluh lantai dengan lobi yang jauh lebih mewah."

​Ghasan tersenyum maklum. "Pak Arsen juga pernah mendapat usul yang sama dari banyak orang."

​"Termasuk dari saya," sahut sebuah suara tenang dari arah koridor.

​Ketiganya menoleh bersamaan.

​Arsen Pratama berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar gambar yang masih dijepit papan presentasi. Kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga siku membuat penampilannya terlihat sederhana. Jam tangan kulit berwarna cokelat melingkar di pergelangan kirinya, sementara sebuah pensil mekanik terselip rapi di saku dada.

​"Selamat pagi, Pak Bara."

​Bara mengulurkan tangan. "Selamat pagi, Pak Arsen."

​Arsen membalas jabatan tangan itu dengan senyum tipis. "Maaf membuat Bapak menunggu."

​"Tidak sama sekali."

​Ghasan menoleh kepada Arsen. "Pak Bara baru saja mengatakan beliau mengira kantor kita akan jauh lebih besar."

​Arsen tersenyum kecil. "Kalau begitu... mungkin sebelum kita membahas desain rumah sakit, saya harus menjelaskan kenapa Arghas hanya memiliki sembilan lantai."

​Arsen mempersilakan mereka memasuki ruang desain utama. Ruangan itu jauh berbeda dari bayangan Bara. Tidak ada meja direktur yang megah. Tidak ada sofa kulit mahal ataupun lemari pajangan penuh penghargaan. Sebagai gantinya, hampir seluruh ruangan dipenuhi meja gambar, maket bangunan dalam berbagai skala, serta gulungan kertas kalkir yang tersusun rapi di rak-rak kayu. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca besar, menerangi ruangan tanpa bantuan lampu.

​Di salah satu sudut, beberapa arsitek muda tampak berdiskusi mengelilingi sebuah maket rumah sakit. Mereka begitu larut dalam pekerjaan hingga nyaris tidak menyadari kedatangan rombongan direksi Wijaya Group.

​Bara mengamatinya beberapa saat. "Luar biasa."

Lihat selengkapnya