Gemerlap cahaya lampu memantul di permukaan kaca Marina Bay ketika malam perlahan turun menyelimuti Singapura.
Di ballroom salah satu hotel paling prestisius di kawasan itu, ratusan tamu telah memenuhi ruangan. Musik orkestra mengalun lembut, mengiringi percakapan para investor, arsitek, diplomat, hingga pelaku bisnis properti dari berbagai negara.
Di tengah ruangan berdiri sebuah maket besar bertuliskan logam keemasan:
HARMONIA RESIDENCE
A Landmark Collaboration by Wijaya Group (Indonesia), Meridian Land Singapore, & Takahashi Urban Systems (Japan).
Master Design by Arghas Property.
Di belakangnya, layar LED raksasa menampilkan perjalanan proyek sejak peletakan batu pertama hingga akhirnya berdiri megah menghadap teluk. Malam itu bukan sekadar pesta. Malam itu adalah perayaan keberhasilan sebuah kerja sama tiga negara yang berhasil melampaui target penjualan bahkan sebelum seluruh unit selesai dibangun.
Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mempersilakan para tokoh utama proyek naik ke atas panggung.
"Tonight, we celebrate a collaboration that brings together Indonesian vision, Singaporean urban development, Japanese engineering excellence, and architectural design that puts people at its center," seru pembawa acara dalam bahasa Inggris yang fasih.
Bara Wijaya melangkah lebih dulu dengan setelan jas hitam yang sederhana namun berwibawa, mewakili Wijaya Group sebagai lead investor. Tak jauh di belakangnya berjalan Arsen Pratama sebagai lead architect dari Arghas Property, didampingi perwakilan dari Meridian Land dan Takahashi Urban Systems. Sorot kamera langsung mengikuti ketiganya. Kilat cahaya bertubi-tubi memenuhi ruangan.
Bara mengulurkan tangan lebih dulu kepada Arsen di atas panggung. "Selamat."
Arsen membalas jabatan tangan itu. "Selamat juga, Pak Bara."
"Kerja sama yang bagus."
"Baru langkah pertama."
Bara tersenyum tipis. "Saya berharap begitu."
Di sisi ballroom, Kirana memperhatikan semuanya dari kejauhan. Gaun panjang berwarna biru gelap yang dikenakannya membuat penampilannya anggun tanpa berlebihan. Arka tidak ikut masuk sejak awal, melainkan sementara waktu dijaga oleh pengasuhnya di area tenang hotel.
Ratih berdiri di samping Kirana. Tatapan wanita tua itu tidak pernah lama menetap pada panggung. Ia justru bergantian memperhatikan Bara... lalu Arsen... lalu kembali kepada Kirana. Tak seorang pun menyadari arah pandangannya, namun Ratih selalu melihat lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.
Usai sesi foto bersama dan makan malam, sebuah layar raksasa kembali menampilkan visualisasi integrasi teknologi hijau milik Jepang dan tata ruang dari Arghas Property. Pembawa acara kembali naik ke atas panggung.
"Hadirin sekalian, kami mengundang Chief Architect Harmonia Residence, Mr. Arsen Pratama, untuk berbagi mengenai filosofi di balik proyek ini."
Tepuk tangan memenuhi ruangan. Arsen sempat menoleh kepada Ghasan di bawah panggung, seolah berharap rekannya yang maju. Ghasan hanya menganggukkan kepala kecil. "Giliranmu."
Arsen tersenyum tipis, lalu melangkah menuju podium. Di hadapan ratusan pasang mata yang terbiasa berbicara tentang investasi miliaran dolar dan teknologi mutakhir, Arsen berdiri tenang tanpa membawa catatan. Tangannya hanya bertumpu ringan di kedua sisi podium.
"Saya bukan orang yang pandai berpidato," katanya, disambut tawa kecil para tamu. "Karena itu saya hanya ingin menceritakan satu hal."
Ballroom kembali tenang.