Ratih tidak pernah percaya pada kebetulan. Baginya, kebetulan hanyalah dalih bagi mereka yang gagal menjaga garis hidupnya tetap lurus. Dalam keluarga Wijaya, segala sesuatu tercatat, tanggal lahir, riwayat penyakit, silsilah hingga tiga generasi ke atas. Tidak ada ruang bagi anomali. Tidak ada ruang bagi kejutan. Setiap cabang di pohon keluarga ini harus tumbuh sesuai koordinat yang telah ditentukan.
Itulah sebabnya tanda kecil berbentuk bulan sabit di pergelangan kaki Arka tidak pernah benar-benar ia abaikan. Tanda itu terlalu asing. Terlalu tidak Wijaya. Setiap kali ia melihat bayi itu menggeliat, tanda itu seolah berteriak padanya, menuntut penjelasan yang tidak bisa diberikan oleh logika silsilah yang ia pegang teguh.
Malam itu, di ruang kerjanya yang kedap suara, Ratih duduk sendirian. Udara di ruangan itu terasa lebih dingin dan hanya ada aroma kayu cendana dan bau kertas lama. Lampu meja menyala temaram, memantulkan bayangan tipis di wajahnya yang biasanya tenang, namun kini rahangnya mengeras seperti pahatan batu. Di hadapannya tergeletak sebuah amplop putih tanpa kop keluarga. Tes itu ia lakukan diam-diam. Tidak bisa dilacak oleh sistem rumah sakit manapun yang berada di bawah pengaruh yayasan.
Ia membuka amplop itu perlahan. Bunyi kertas yang robek terdengar seperti suara retakan besar di tengah sunyi. Matanya menyapu baris demi baris dengan presisi seorang perempuan yang terbiasa mengendalikan keadaan, mencari satu kata yang bisa membatalkan semua kecurigaannya.
Lalu ia berhenti pada satu baris.
Probabilitas paternitas: 0%.
Detik itu juga, udara di dalam ruangan seolah membeku. Detak jantung Ratih tidak bertambah cepat, namun rahangnya mengeras hingga terasa nyeri.
Untuk sepersekian detik, Ratih memukul meja dengan telapak tangannya. Bunyi dentuman itu memantul di dinding ruangan. Ia sendiri terkejut pada dirinya. Ia tidak pernah memukul meja. Tidak pernah kehilangan kontrol.
Namun hari itu, ia hampir melakukannya lagi.
Arka bukan anak Bara. Fakta itu menghantam Ratih bukan dengan kesedihan atau rasa kasihan, melainkan dengan kemarahan yang dingin dan merusak. Ia tidak butuh waktu untuk meratapi nasib atau menangisi nasib putranya yang seharusnya tidak terjadi.
Ia teringat Bara kecil. Anak yang ia besarkan dengan disiplin besi. Ia ingat saat Bara jatuh dari sepeda, lututnya berdarah, namun ia berdiri kembali dan menolak menangis karena ia tahu ia adalah seorang Wijaya. Ratih membesarkan putranya dengan keyakinan bahwa nama Wijaya bukan sekadar warisan, melainkan tanggung jawab yang dijaga dengan darah dan kehormatan.
Dan sekarang, seorang bayi tidur di kamar atas rumahnya. Memanggilnya Nenek dengan suara cadel yang polos. Menggenggam jarinya dengan naluri yang hangat tanpa tahu apa-apa tentang genetika atau konspirasi medis.
Ratih memejamkan mata. Untuk satu detik yang langka, sebuah keraguan muncul:
Apakah darah menentukan segalanya?
Atau selama ini ia hanya membesarkan ilusi tentang garis keturunan karena itu satu-satunya hal yang bisa ia kontrol?
Apakah darah menentukan segalanya?
Ia membayangkan wajah Arka saat tertawa, cara bayi itu mengikuti gerakannya dengan mata bulat yang penuh percaya. Tidak ada kebohongan di mata bayi itu. Tidak ada pengkhianatan. Pengkhianatan itu ada di sistem. Di prosedur yang cacat. Di tangan orang-orang dewasa yang ceroboh.
Namun, Ratih segera membuka mata. Cahaya di matanya kembali dingin dan tajam. Dalam keluarga sebesar ini, ia tahu satu hal yang tidak pernah berubah: Nama lebih mahal daripada perasaan.