Malam merambat dengan keangkuhan yang sunyi di atas langit Jakarta, membungkus bentangan metropolitan itu dengan selimut cahaya-cahaya buatan yang tampak indah dari kejauhan. Lampu jalan, jendela apartemen, dan gedung-gedung pencakar langit berkilau seperti gugusan bintang yang kehilangan langitnya.
Namun keindahan itu tidak pernah benar-benar mampu mengusir gelap.
Dari balik jendela kaca besar ruang kerjanya di lantai sembilan Rumah Sakit Aryadana, Dr. Ranum Arasy memandangi hamparan lampu kota tanpa benar-benar melihatnya.
Sudah lewat tengah malam.
Rumah sakit masih hidup dalam denyutnya sendiri. Sesekali suara roda troli terdengar melintas di koridor. Alarm monitor pasien berdenting dari kejauhan. Langkah kaki perawat jaga datang dan pergi seperti ombak yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Namun di dalam ruang kerjanya, waktu terasa berjalan berbeda.
Lambat.
Berat.
Mencekik.
Sejak Ratih Wijaya keluar dari ruangannya sore tadi, Ranum tidak benar-benar melakukan apa pun selain duduk dan memandangi layar komputer yang menyala di hadapannya.
Di sana, jauh di dalam lapisan arsip digital yang seharusnya sudah terkubur rapat selama bertahun-tahun, sebuah kode masih hidup.
AR-1001010073.
Ranum memejamkan mata.
Namun bahkan ketika matanya tertutup, rangkaian angka itu tetap muncul.
Seperti luka yang memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan keberadaannya.
Selama bertahun-tahun ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua telah selesai.
Bahwa kesalahan itu telah terkubur cukup dalam.
Bahwa tidak ada seorang pun yang akan pernah menemukannya.
Namun ternyata rahasia memiliki sifat yang mirip dengan bara api.
Ia mungkin terlihat padam di permukaan, tetapi tetap menyimpan panas jauh di dalam dirinya. Menunggu satu hembusan kecil untuk kembali menyala.
Dan Ratih Wijaya baru saja menjadi hembusan itu.
Ranum menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Kelelahan merambat sampai ke tulang.
Bukan kelelahan karena bekerja.
Melainkan kelelahan karena membawa sesuatu yang terlalu berat terlalu lama.
Perlahan ia membuka kembali folder arsip lama.
Jarinya bergerak ragu di atas tetikus.
Layar menampilkan berkas-berkas yang berasal dari tahun-tahun yang sudah lama berlalu.
Dan tanpa ia sadari, ingatannya mulai bergerak mundur.
Kembali ke hari itu.
Hari ketika semua kesalahan bermula.
Hari yang selama ini berusaha ia lupakan.
Laboratorium fertilitas masih berada dalam masa transisi sistem. Ada pembaruan perangkat lunak besar yang dilakukan hampir bersamaan dengan proses migrasi data pasien. Tim IT bekerja hingga larut malam. Teknisi keluar masuk ruangan. Beberapa sistem sempat mengalami gangguan sinkronisasi yang dianggap normal pada masa perpindahan.
Saat itu tidak ada yang menyadari bahwa sebuah kesalahan kecil telah terjadi.
Atau mungkin ada yang menyadari.