Pagi itu Jakarta tampak terlalu tenang, sebuah ketenangan yang menipu. Langit keabu-abuan menggantung rendah, menyerupai lembaran laporan yang belum ditandatangani—sunyi, berat, dan menyimpan kebenaran yang belum terbaca.
Di bawah sana, denyut kota berjalan seperti biasa; klakson bersahutan dan manusia-manusia mengejar ambisi. Tak ada yang menyadari bahwa di balik dinding sterilisasi Rumah Sakit Aryadana yang berkilau porselen, sebuah sistem digital sedang mengerang. Ada satu baris data yang menolak untuk mati, meski perintah penghapusan telah dieksekusi dengan dingin oleh jemari yang gemetar.
Dr. Ranum Arasy duduk terpaku di depan monitornya. Ruang praktiknya yang biasanya terasa seperti tempat perlindungan, kini mendadak asing dan sempit, seolah dinding-dindingnya mulai bergerak menghimpit. Ujung jemarinya yang masih terasa sedingin es bergetar halus saat menyentuh permukaan meja granit yang mahal. Matanya merah dan perih. Ia tidak benar-benar tidur setelah pertemuan mengerikan kemarin, saat Ratih Wijaya tiba-tiba muncul di kantornya tanpa janji temu.
Kehadiran Ratih di ruangan ini kemarin sore masih menyisakan aroma parfum sandalwood yang berat dan mencekam. Ranum ingat bagaimana Ratih duduk di kursi di hadapannya, menatapnya dengan keanggunan yang mematikan, seolah-olah kursi kayu itu adalah singgasana pribadinya. Ratih tidak butuh banyak kata, ia hanya meletakkan sebuah map dan menyebutkan satu kode tahun 2017 sebelum meminta Ranum "merapikan" segala hal yang bisa menjadi kerikil bagi masa depan keluarga Wijaya. Di kantornya sendiri, Ranum merasa seperti orang asing yang sedang diinterogasi. Ia sudah melakukan apa yang diperintahkan. Ia sudah menyeret kode itu ke dalam folder terdalam, menguburnya di bawah lapisan enkripsi yang seharusnya tak tersentuh oleh siapapun.
Namun, sunyi di ruangan itu pecah oleh ketukan pintu yang tajam dan berirama tetap. Detak jantung Ranum melonjak, menghantam rongga dadanya seolah ingin lepas. Sebelum ia sempat mengatur napas, pintu itu terbuka.
“Masuk.”
Ardhan berdiri di ambang pintu. Sekretaris pribadi Bara Wijaya itu dikenal sebagai sosok yang bekerja dengan disiplin dan ketelitian tinggi.Jasnya rapi tanpa satu pun kerutan, seolah ia baru saja melangkah keluar dari kotak kemasan. Kacamatanya memantulkan cahaya lampu neon yang dingin, menyembunyikan binar matanya, namun Ranum tahu tatapan di baliknya tidak pernah hanya sekadar melihat. Ia menyelidik. Ia membedah. Ia membawa tablet dan map tipis tanpa label yang terasa seperti berkas dakwaan di mata Ranum.
“Saya sedang menelusuri log aktivitas server semalam, Dokter,” suara Ardhan datar, tanpa intonasi emosional, namun gaungnya memenuhi ruangan yang mendadak terasa hampa udara itu. “Ada anomali besar yang tertangkap oleh sistem keamanan kami. Seseorang melakukan pemindahan data massal pada arsip fertilitas tahun 2017 pada jam yang sangat tidak wajar.”