AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #22

Bab 22-Retakan Dalam Sistem


Bara Wijaya tidak pernah bisa menoleransi anomali.

​Baginya, dunia adalah sistem besar yang tunduk pada data, logika, dan kendali mutlak. Setiap variabel harus berada di garis lurus. Jika ada yang melenceng, maka tugasnyalah untuk menariknya kembali—atau melenyapkannya sekalian.

​Namun malam itu, di ruang kerjanya yang luas dan kedap suara, ia merasa sedang menatap lubang hitam di tengah denah hidupnya yang selama ini ia yakini sempurna.

​Ia duduk di hadapan monitor ganda yang menampilkan portal eksekutif Rumah Sakit Aryadana. Jemarinya mengetuk meja kayu mahoni dengan ritme tidak sabar. Sebagai penyokong dana utama sekaligus pemilik yayasan, aksesnya seharusnya absolut. Tidak ada pintu yang terkunci bagi seorang Wijaya di institusinya sendiri.

​Namun layar itu tetap menampilkan kotak dialog merah yang sama.

​[ACCESS DENIED: Required Level 4 Security Clearance]

​Bara mendengus pelan. Sebuah tawa getir, kering.

​“Clearance? Di rumah sakitku sendiri?” gumamnya.

​Kata itu terasa seperti ejekan.

​Pikirannya melayang ke tahun 2017.

​Ia ingat ruang laboratorium yang putih bersih. Bau antiseptik yang menusuk. Formulir medis yang dingin di bawah telapak tangannya. Saat itu, keputusan medis diambil murni atas dasar perhitungan efisiensi dan kondisi biologis Kirana yang membutuhkan intervensi khusus. Pernikahan mereka yang berlandaskan ikatan keluarga menuntut kepastian hadirnya seorang penerus tanpa penundaan.

​Bagi Bara, prosedur medis bantuan saat itu adalah jalan pintas yang paling rasional.

​Prosedur steril. Terukur. Tanpa komplikasi emosional.

​Ia menyerahkan seluruh teknis dan pengawasannya pada Ranum. Kepercayaan penuh.

​Namun sekarang, kenapa sistem justru mengunci pintu di depannya? Kenapa kode medis yang harusnya menjadi hak aksesnya mendadak dienkripsi? Kenapa arsip prosedur kelahiran Arka terasa seperti wilayah asing?

​Logika Bara mulai bekerja liar.

​Apakah ada malapraktik?

​Apakah ada manipulasi?

​Atau… apakah ada sesuatu tentang proses itu yang sengaja ditutup-tutupi darinya sejak awal?

​Kecurigaan itu menjalar pelan, dan anehnya, bayangan pertama yang muncul di benaknya adalah Kirana.

​Di Rumah Sakit Aryadana, Dr. Ranum Arasy membeku ketika telepon internal di mejanya berdering.

​Nama yang muncul di layar membuat napasnya tercekat.

​Bara Wijaya.

​“Iya, Pak Bara?” suaranya terdengar lebih tipis dari biasanya.

Lihat selengkapnya