Pagi di Rumah Sakit Aryadana datang tanpa benar-benar membawa terang.
Langit Jakarta menggantung rendah di balik jendela-jendela besar rumah sakit, berwarna abu pucat seperti kertas lama yang terlalu sering disentuh tangan manusia. Lorong-lorong steril berbau antiseptik dan pendingin ruangan, sementara langkah para perawat terdengar bergema pelan di lantai marmer putih sebelum akhirnya ditelan sunyi.
Di lantai enam, di ruang arsip digital yang jarang dikunjungi siapa pun selain staf tertentu, Dr. Ranum Arasy duduk sendirian di depan monitor komputer.
Cahaya layar memantul samar di wajahnya yang pucat.
Sudah hampir dua puluh menit ia berada di sana tanpa benar-benar bergerak.
Matanya hanya menatap satu file yang tidak pernah benar-benar bisa ia hapus dari pikirannya.
Fer-KR-1001010055 Kode Sampel AR-1001010073
Dokter Penanggung Jawab dr. Ranum Arasy, Sp.OG (K-FER)
Dadanya kembali terasa sesak.
Ia menekan pelipisnya pelan.
Setiap kali membaca nama itu, ingatannya seperti dipaksa berjalan mundur ke tahun-tahun yang selama ini berusaha ia kubur dalam diam.
Tujuh tahun lalu.
Malam yang terlalu dingin. Lampu laboratorium yang menyala pucat. Suara mesin pendingin kriogenik yang berdengung pelan. Dan dirinya yang masih terlalu muda untuk menghadapi ketakutan sebesar itu.
Saat itu sistem penyimpanan sempat bermasalah selama beberapa menit.
Hanya beberapa menit.
Tapi terkadang hidup manusia memang runtuh hanya karena kesalahan yang berlangsung begitu singkat.
Ranum masih mengingat jelas bagaimana tangannya langsung dingin saat menyadari kesalahan itu.
Ranum mengembuskan napas perlahan.
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan botol obat sakit kepala yang mulai sering ia minum belakangan ini.
Tangannya sedikit gemetar saat menuangkan satu pil ke telapak tangan.
Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali tidur nyenyak.
Mungkin sejak Ratih datang membawa hasil tes DNA itu ke ruangannya.
Mungkin sejak melihat wajah Bara mulai berubah setiap kali memandang Arka.
Atau mungkin… sejak ia sadar bahwa beberapa rahasia ternyata tidak mati meski sudah dikubur bertahun-tahun.
Pintu ruangannya diketuk pelan.
Ranum buru-buru menutup file di layar.
“Masuk.”
Rania muncul sambil membawa beberapa map desain.
“Maaf mengganggu, Dok. Ini revisi ruang fertilitas dari Arghas Property. Pak Arsen minta persetujuan sebelum rapat siang.”
Nama itu langsung membuat tenggorokan Ranum terasa kering.
Arsen.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu sedekat ini.
Bahkan selama bertahun-tahun, ia selalu menghindari membaca profil pria itu terlalu lama di database rumah sakit.
Karena setiap melihat nama itu, rasa bersalahnya tumbuh seperti sesuatu yang hidup.
“Taruh saja di meja,” katanya cepat.
Rania mengangguk.
Namun sebelum keluar, perempuan itu sempat berkata santai,
“Oh iya, Pak Arsen katanya mungkin akan mampir langsung nanti siang.”
Jantung Ranum berdetak lebih keras.
“Untuk apa?”
“Mungkin mau membahas pencahayaan ruang observasi pasien.”
Rania tersenyum kecil lalu keluar meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Ranum langsung bersandar di kursinya.
Langit-langit ruangan terasa berputar pelan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa masa lalu benar-benar mulai berjalan mendekatinya.
Dan ia tidak punya cukup tenaga lagi untuk lari.
Siang itu, Arsen datang ke ruang kerja Ranum sesuai jadwal.
Tidak ada percakapan yang canggung. Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu. Keduanya hanya berbicara sebagai dua orang profesional yang dipertemukan oleh sebuah proyek besar.