AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #24

Bab 24 - Rumah yang Mulai Berubah Suara

Pagi di rumah keluarga Wijaya terasa terlalu sunyi.

Tidak ada suara berita ekonomi dari televisi ruang tengah seperti biasanya. Tidak ada aroma kopi yang biasanya sudah memenuhi lantai bawah sejak pukul enam pagi. Bahkan langkah para pelayan terdengar lebih pelan, seolah seluruh rumah sedang berjalan hati-hati di atas sesuatu yang rapuh.

Kirana berdiri cukup lama di depan pintu ruang makan sebelum akhirnya masuk perlahan.

Bara sudah duduk di sana.

Masih mengenakan kemeja kerja putih dengan lengan tergulung rapi. Secangkir kopi hitam berada di depannya, namun belum disentuh sedikit pun.

Tatapannya kosong.

Bukan kosong karena lelah.

Melainkan kosong seperti seseorang yang sedang berdiri terlalu dekat dengan pikirannya sendiri.

“Kau tidak tidur?” tanya Kirana hati-hati.

Bara tidak langsung menjawab.

Ia justru menoleh ke arah Arka yang sedang duduk di kursi bayinya sambil memainkan sendok kecil.

Anak itu tertawa sendiri.

Polos. Hangat. Tidak tahu bahwa sesuatu di rumah ini perlahan berubah bentuk.

Tatapan Bara berhenti cukup lama di wajah kecil itu.

Lalu turun ke tanda bulan sabit kecil di pergelangan kaki Arka yang terlihat karena celana tidurnya sedikit terangkat.

Dan untuk pertama kalinya sejak Arka lahir…

Bara merasa takut menatap anaknya sendiri.

Karena semakin lama ia memperhatikan wajah kecil itu, semakin besar sesuatu yang tumbuh diam-diam di kepalanya.

Cara Arka tertawa. Cara ia memiringkan kepala. Bentuk matanya saat tersenyum.

Hal-hal kecil yang dulu terasa begitu biasa, kini berubah menjadi potongan-potongan pertanyaan yang tidak bisa lagi ia hentikan.

Dan Bara membenci dirinya sendiri karena bahkan sempat berpikir seperti itu.

Seolah seorang ayah bisa berubah menjadi penyelidik hanya dalam semalam.

“Kau sakit?” suara Kirana terdengar lagi, lebih pelan sekarang.

Bara mengalihkan pandangan cepat.

“Tidak.”

Jawabannya singkat. Terlalu singkat.

Kirana langsung merasakan sesuatu yang berbeda.

Belakangan ini Bara memang lebih diam. Lebih mudah larut dalam pikirannya sendiri. Namun pagi ini terasa lain.

Seperti ada jarak yang tiba-tiba tumbuh di antara mereka semalaman.

Arka mengulurkan tangan kecilnya ke arah Bara.

“Papa…”

Suara kecil itu membuat rahang Bara mengeras samar.

Ia ingin menggendong anak itu seperti biasa. Ingin mencium kepalanya. Ingin percaya semuanya baik-baik saja.

Lihat selengkapnya