Malam turun bersama hujan yang tidak kunjung reda.
Rumah keluarga Wijaya berdiri megah di tengah gelap Jakarta, namun malam itu rumah itu terasa lebih seperti bangunan kosong daripada tempat pulang. Cahaya lampu taman memantul samar di jalanan basah, sementara suara hujan mengetuk kaca jendela seperti sesuatu yang terus memaksa masuk.
Di lantai dua, ruang kerja Bara hanya diterangi cahaya monitor.
Wajah pria itu tampak keras dalam pantulan layar laptop yang masih menyala sejak dua jam lalu. Jas kerjanya dilempar sembarangan di sofa. Kancing kemejanya terbuka satu. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bara Wijaya terlihat seperti lelaki yang mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di layar itu, kode yang sama masih muncul.
AR-1001010073.
Bara menatapnya lama.
Semakin lama, deretan angka itu terasa semakin personal. Seolah sedang menertawakannya diam-diam.Tangannya bergerak membuka kembali laporan penyelidikan yang dikirim Ardhan malam tadi.Nama Kirana. Nama Arsen. Data kampus lama. Kegiatan sosial. Dokumentasi acara. Potongan-potongan kecil yang seharusnya tidak berarti.Namun bagi kepala seseorang yang sedang terluka, hal-hal kecil bisa berubah menjadi racun. Bara berhenti pada satu foto lama kegiatan kampus. Kirana berdiri cukup jauh di belakang. Arsen berada di sisi lain ruangan. Mereka bahkan tidak saling menatap. Normal. Sangat normal. Namun justru itu yang membuat Bara semakin sesak. Karena sekarang otaknya mulai bekerja melawan dirinya sendiri.
Bagaimana kalau mereka memang pandai menyembunyikan semuanya? Bagaimana kalau semua kedekatan itu memang sengaja dibuat terlihat biasa? Ia membanting mouse ke meja. Suara keras itu memecah ruangan.
“Sialan…”
Ia membenci dirinya sendiri karena mulai berpikir seperti lelaki paranoid. Namun lebih dari itu— ia membenci kenyataan bahwa semua ini bahkan mungkin benar. Suara ketukan terdengar di pintu.
“Masuk.”
Ardhan masuk dengan wajah hati-hati.
“Pak…”
“Ada apa lagi?”
“Saya sudah cek ulang semua jalur komunikasi Bu Kirana.”
Tatapan Bara langsung naik, untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang nyaris liar di matanya.
“Dan?”
“Tidak ada kontak pribadi dengan Arsen.” Jawaban itu seharusnya melegakan. Namun justru membuat Bara tertawa pendek. Tawa kecil yang terdengar kosong dan lelah.
“Tidak ada…” ulangnya lirih. Ia berdiri lalu berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Hujan terlihat semakin deras di luar sana.
“Semua terlalu bersih, Dhan.”
Ardhan diam.
“Orang yang tidak bersalah biasanya meninggalkan jejak-jejak biasa.” Bara tersenyum tipis, getir. “Tapi ini? Tidak ada apa pun. Tidak ada celah. Tidak ada kesalahan.”
Ia menoleh pelan.
“Dhan justru itu yang membuatku merasa seperti orang bodoh.”
Ardhan menunduk. Karena ia bisa melihat: Bara tidak sedang mencari fakta lagi. Ia sedang mencari tempat untuk menaruh rasa sakitnya.
“Pak Bara…” Ardhan ragu sebelum melanjutkan. “Mungkin memang ini murni kesalahan administrasi”
Kalimat itu langsung membuat rahang Bara mengeras.
“Kesalahan administrasi”
Ia tertawa kecil lagi. Kali ini lebih dingin.