Pagi datang terlalu dingin di rumah keluarga Wijaya.
Langit Jakarta masih kelabu ketika Kirana turun ke ruang makan sambil membawa Arka yang baru bangun tidur. Anak kecil itu masih mengantuk, pipinya menempel di bahu ibunya sambil memeluk boneka bulan lusuh kesayangannya.
Rumah itu sunyi.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada musik pelan seperti biasanya. Bahkan suara langkah para asisten rumah tangga terdengar lebih hati-hati. Seolah seluruh rumah tahu: ada sesuatu yang mulai retak di dalamnya.Bara sudah duduk di meja makan.Rapi. Tenang. Terlalu tenang.Kemeja hitamnya licin tanpa kusut. Tablet kerja terbuka di samping secangkir kopi yang belum disentuh. Namun wajahnya terlihat lebih dingin dibanding pagi-pagi sebelumnya.
“Papa…”
Arka turun dari gendongan Kirana lalu berjalan kecil menghampiri Bara. Biasanya lelaki itu akan langsung mengangkat anaknya tanpa berpikir.
Namun pagi ini—
Bara terlambat bereaksi.
Hanya satu detik.
Tapi cukup untuk membuat Kirana merasakannya.
Arka tetap memeluk kaki Bara sambil tertawa kecil. Dan akhirnya Bara membungkuk lalu mengangkat tubuh kecil itu ke pangkuannya.Lembut hati-hati, namun tangannya terasa ragu. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai takut mencintai terlalu dalam.Kirana duduk perlahan di seberang mereka. Dadanya terasa tidak nyaman sejak semalam.Karena kini ia mulai bisa merasakan. Bara tidak benar-benar marah.Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan. Marah masih punya suara. Masih punya emosi. Masih punya ledakan. Sedangkan Bara sekarang…terlalu diam.
“Ada rapat pagi?” tanya Kirana hati-hati.
“Ya.”
“Pulang malam?”
“Belum tahu.”
Jawaban singkat itu jatuh begitu saja di meja makan. Dingin. Pendek. Tanpa ruang untuk percakapan. Arka tertawa kecil ketika jemnya belepotan di tangan.
“Papa…”Anak itu menyodorkan tangannya yang kotor sambil tertawa polos. Bara menatap tangan kecil itu beberapa detik. Lalu membersihkannya pelan dengan tisu. Tatapannya lembut. Namun justru itu yang membuat Kirana hampir menangis.
Karena lelaki itu masih mencintai Arka.Masih sangat mencintainya. Tapi sekarang cinta itu mulai dipenuhi rasa takut. Kirana tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan mereka dari sesuatu yang bahkan tidak ia pahami.
“Kau mau bicara sesuatu?” tanyanya lirih.
Bara mengangkat wajah perlahan. Tatapan mereka bertemu.Kirana langsung merasa seperti sedang berdiri sangat jauh dari suaminya sendiri.
“Apa ada yang harus kita bicarakan?” tanya Bara balik.
Nada suaranya datar.Namun ada sesuatu yang tajam tersembunyi di baliknya.
“Aku merasa kau menjauh dariku.”
Bara tersenyum tipis.
Senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Mungkin aku baru mulai melihat beberapa hal yang sebelumnya tidak kulihat.”
Dada Kirana langsung menegang.
“Apa maksudmu?”
Bara tidak langsung menjawab.
Tatapannya kembali jatuh pada Arka yang sedang bermain dengan sendok kecil di tangannya.
“Aku menemukan sesuatu ketika Ardhan melakukan penyelidikan.”
Kirana menatapnya.
“Sesuatu tentang apa?”
Bara mengangkat wajah perlahan.
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Kirana.”
Kalimat itu membuat ekspresi Kirana berubah.
“Apa maksudmu?”
Bara menarik napas panjang.
“Aku menemukan bahwa kamu mengenal Arsen jauh sebelum kamu mengenalku.”
Sunyi.
Nama itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di meja makan pagi mereka.
“Arsen?”
“Iya.”
Nada Bara tetap tenang.
Namun justru ketenangan itu yang membuat Kirana semakin takut.
“Apa hubungannya?”
Bara tersenyum kecil.
Senyum yang tidak membawa kebahagiaan.
“Itu yang ingin aku tahu.”
Ia menatap Kirana.
“Karena selama ini aku selalu merasa aku mengenalmu.”
Bara berhenti sebentar.
“Aku tahu kebiasaanmu. Aku tahu apa yang membuatmu bahagia. Aku tahu makanan yang tidak kamu suka. Aku tahu bagaimana kamu diam ketika sedang sedih.”
Suaranya perlahan melemah.
“Tapi ternyata ada bagian dari hidupmu yang sudah berjalan jauh sebelum aku datang.”
Kirana terdiam.
“Bara…”
“Aku tidak marah karena kamu punya masa lalu.”
Bara menggeleng pelan.