AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #27

Bab 27- Nama yang Mulai Dipertanyakan


Malam turun perlahan di rumah keluarga Wijaya. Namun malam itu tidak membawa tenang. Rumah besar itu tetap terang seperti biasa, lampu-lampu kristal menyala hangat di setiap sudut, aroma bunga melati dari taman masih terbawa angin malam melalui jendela-jendela besar. Semuanya tampak utuh. Dan justru itu yang terasa menyakitkan. Karena hanya orang-orang di dalamnya yang tahu: rumah ini perlahan mulai kehilangan sesuatu yang tidak terlihat. Di ruang keluarga lantai bawah, televisi menyala tanpa benar-benar ditonton siapa pun.

Kirana duduk sendirian di sofa sambil memandangi Arka yang sedang bermain balok warna di karpet. Anak kecil itu tertawa sendiri setiap kali baloknya runtuh. Polos. Ringan. Tanpa tahu bahwa dunia orang dewasa sedang berubah menjadi tempat yang semakin dingin. Namun bahkan suara tawa Arka kini tidak lagi mampu membuat rumah terasa hangat. Karena sejak pagi tadi, Bara belum pulang.

Biasanya sesibuk apa pun lelaki itu, ia tetap akan mengirim pesan singkat. Sekadar: “makan dulu” atau “jangan tunggu aku tidur.”Hal-hal kecil yang dulu bahkan tidak pernah Kirana sadari pentingnya. Sampai semuanya mulai hilang satu per satu.

Suara mobil akhirnya terdengar dari luar. Kirana langsung menoleh. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan jelas. Pintu depan terbuka. Bara masuk sambil melepas jasnya perlahan. Wajahnya lelah. Namun tatapannya jauh lebih dingin dibanding beberapa hari lalu. Dan sesuatu di dada Kirana langsung jatuh pelan. Karena kini ia mulai bisa membaca perubahan-perubahan kecil itu. Bara tidak lagi menatap rumah ini seperti tempat ia pulang. Melainkan seperti tempat yang sedang ia pertanyakan.

“Papa!” Arka langsung berlari kecil menghampiri Bara sambil tertawa. Dan sekali lagi— Bara terlambat bereaksi. Hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk membuat Kirana hampir tidak sanggup bernapas.

Bara akhirnya membungkuk dan mengangkat anak kecil itu. Namun malam ini, tatapannya terlalu lama tertahan di wajah Arka. Mencari sesuatu. Atau mungkin… takut menemukan sesuatu.

“Papa lihat…” Arka menunjukkan balok kecil di tangannya dengan antusias. Bara memaksakan senyum tipis.

“Bagus.”

Satu kata.

Pendek.

Namun Arka tetap tertawa senang.

Karena anak kecil tidak mengerti nada dingin. Mereka hanya mengenali kehadiran. Dan justru itu yang membuat dada Bara semakin sesak.

Makan malam berlangsung nyaris tanpa suara. Sendok dan garpu menjadi bunyi paling hidup di meja makan. Ratih duduk di ujung meja dengan wajah tenang seperti biasa. Namun diam-diam ia terus memperhatikan Bara.

Dan semakin ia melihat anaknya, semakin ia sadar: api itu benar-benar mulai membesar.

“Kau ada rapat dengan yayasan Swiss besok?” tanya Ratih akhirnya.

“Ya.”

“Media luar juga datang.”

“Hmm.”

Jawaban pendek itu membuat Ratih mengembuskan napas pelan. Biasanya Bara akan membahas detail presentasi berjam-jam. Namun sekarang pikirannya jelas berada di tempat lain.

Kirana mencoba memecah suasana.

“Arka tadi siang menggambar.”

Ia tersenyum kecil lalu mengeluarkan kertas kecil dari tas anak mereka.

“Dia gambar rumah.”

Arka langsung tertawa bangga.

“Rumah Papa!”

Lihat selengkapnya