Malam-malam yang dulu dipenuhi percakapan kecil, suara tawa Arka, dan langkah kaki Bara yang selalu kembali ke kamar utama, kini berubah menjadi rangkaian waktu yang terasa terlalu panjang.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada kata-kata kasar yang terucap.
Namun justru itulah yang paling menyakitkan.
Karena terkadang sebuah rumah tidak kehilangan penghuninya ketika seseorang pergi.
Melainkan ketika orang-orang di dalamnya masih tinggal bersama, tetapi perlahan berhenti merasa pulang.
Di dalam kamar utama yang luas, Kirana berdiri mematung di depan wastafel kamar mandi. Air keran di hadapannya dibiarkan mengalir tipis sejak beberapa menit lalu, memecah sepi dengan suara gemercik yang monoton.
Namun, jiwanya sedang berkelana di tempat lain. Pikirannya tersita sepenuhnya pada Bara. Pada perubahan tatapan mata suaminya yang terasa ganjil dan berjarak akhir-akhir ini. Juga pada sepercik kecemasan yang mulai tumbuh diam-diam, mengakar kuat di palung hatinya.
Ia tidak pernah tahu kapan tepatnya istana yang mereka bangun dengan kemegahan semu ini mulai membeku. Semuanya terjadi dalam proses yang terlalu lambat, terlalu halus, dan lamat-lamat. Sampai akhirnya malam ini ia dipaksa terjaga oleh satu kenyataan pahit: mereka tidak lagi berfungsi sebagai sepasang suami istri.
Mereka kini seperti dua orang asing yang saling menjaga jarak di bawah satu atap, bergerak penuh kehati-hatian agar tidak membuat retakan yang ada menjadi semakin menganga.
Kirana memutar tuas keran, menyudahi aliran air. Tatapannya naik, membentur pantulan sepasang matanya sendiri di dalam cermin. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menyandang nama belakang Bara... ia merasa benar-benar menjadi seorang penyusup di rumahnya sendiri.
—
Di lantai bawah, ruang kerja pribadi Bara masih dilingkupi kegelapan yang pekat.
Pria itu sengaja mematikan lampu utama, membiarkan ruangan hanya diterangi oleh pendar pudar dari layar laptop serta sorot lampu taman belakang yang menerobos masuk melalui sekat jendela kaca besar. Di atas meja mahoni, tergeletak beberapa bundel dokumen lama yang berantakan.
Dan tepat di tengah tumpukan kertas steril itu, berdiri sebuah bingkai foto kecil milik Arka.
Bara menatap potret anak kecil itu dengan pandangan gundah yang lama. Terlalu lama.
Di dalam bingkai itu, Arka sedang tersenyum lebar dengan deretan gigi susunya yang rapi, mendekap erat sebuah balon berbentuk bulan di pesta ulang tahunnya tahun lalu.
Polos.
Hangat.
Dan penuh pendar kebahagiaan.
Seketika itu juga, dada Bara dihantam oleh rasa nyeri yang hebat.
Sebab, semakin keras ia mencoba menarik diri dan memetakan jarak dari anak itu... semakin ia dipaksa menyerah pada kenyataan bahwa dirinya sudah terlampau mencintai Arka. Dan justru fakta kelekatan emosional itulah yang mengubah seluruh situasi ini menjadi siksaan batin yang paling kejam.
Tangan Bara perlahan bergerak, meraih ponselnya di atas meja. Lalu, tanpa memberi ruang bagi logikanya untuk berdebat, ibu jarinya menekan satu nomor kontak.
Panggilan tersambung.
"Ardhan."