AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #30

BAB 30- Dibalik Pintu yang Tertutup Rapat

​Rumah keluarga Wijaya masih berdiri megah seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari luar. Para staf tetap bekerja, mobil tetap keluar masuk halaman depan, dan lampu kristal tetap menyala hangat di malam hari. Namun di dalam rumah itu... semua orang mulai berjalan dengan hati-hati. Seolah satu suara kecil saja bisa membuat sesuatu yang rapuh di dalamnya runtuh seketika.

​Di ruang makan, Kirana duduk diam sambil memandangi secangkir teh yang mulai mendingin. Ia hampir tidak tidur semalam. Langkah kaki terdengar dari tangga. Bara turun dengan pakaian kerja yang rapi seperti biasa. Namun sekarang Kirana mulai tahu: kerapian adalah cara Bara menyembunyikan kekacauan di kepalanya.

​“Pagi,” ucap Kirana pelan.

​“Pagi.”

​Singkat. Datar. Sebuah sapaan tanpa benar-benar sampai ke hati.

​Bara mengambil kopi lalu duduk tanpa banyak bicara. Tatapannya sempat berhenti pada Arka yang sedang tidur di sofa kecil dekat ruang keluarga. Dan seperti beberapa hari terakhir—tatapan itu terlalu lama. Terlalu penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.

​Kirana menggenggam jemarinya sendiri pelan. “Apa kau tidak mau cerita apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?”

​Bara tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa begitu dingin. “Kalau aku bicara jujur,” katanya lirih sambil mengaduk kopi perlahan, “aku takut kita tidak akan pernah kembali seperti dulu.”

​Kalimat itu membuat dada Kirana terasa nyeri dihantam ombak tak kasat mata. Sebab untuk pertama kalinya... Bara terdengar seperti lelaki yang sudah setengah menyerah.

​Menjelang siang, Kirana akhirnya tidak tahan lagi. Kebekuan suaminya mulai terasa seperti hukuman gantung yang menanti waktu. Ia mengemudikan mobilnya menuju gedung pencakar langit Wijaya Group di pusat kota.

​Pintu ruang kerja eksekutif milik Bara di lantai teratas tertutup rapat. Tanpa memedulikan imbauan sekretaris di luar, Kirana memutar gagang pintu dan melangkah masuk.

​Bara sedang berdiri di balik meja kerjanya yang megah, menatap pemandangan Jakarta yang mendung dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Di atas meja kerjanya, laptop itu masih terbuka. Seolah lelaki itu terlalu lelah untuk menutup kembali satu-satunya benda yang beberapa hari terakhir menyita seluruh pikirannya.

​Mendengar suara pintu dibuka, Bara menoleh pelan. "Kirana? Kenapa kemari tanpa menelepon dulu?"

​Kirana tidak menjawab. Tatapannya melayang ke meja kerja suaminya, lalu terhenti tepat pada layar laptop.

DNA Analysis Report.

Subject: Arka Wijaya.

Probability of Paternity: 0%.

Lihat selengkapnya