AKHIR SEBUAH RUMAH

Hana Bajramaya
Chapter #32

BAB 32- Sisa Lilin yang Nyaris Habis

Hujan baru saja berhenti ketika Arsen mematikan mesin mobilnya.

​Udara sore di pinggiran kota terasa berbeda dibanding Jakarta. Lebih dingin. Lebih pelan. Seolah waktu berjalan dengan langkah yang tidak tergesa-gesa.

​Di hadapannya berdiri sebuah rumah berwarna putih gading yang menghadap hamparan rumput luas. Tidak besar. Tidak mewah. Bahkan jauh dari standar rumah yang biasa dibangun Arsen untuk para kliennya. Namun justru karena itulah rumah ini terasa istimewa.

​Tidak ada pagar tinggi. Tidak ada gerbang besi menjulang. Hanya jalan setapak dari batu alam yang mengarah ke teras kayu sederhana. Di sisi kanan halaman, sebuah ayunan berdiri menghadap kebun kecil yang baru ditanami bunga.

​Arsen turun perlahan dari mobil. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri diam. Memandang rumah itu. Memandang hasil dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar berani ia sebut sebagai mimpi. Karena sebagian mimpi terasa terlalu menyakitkan untuk diakui.

​Rumah ini selesai. Setelah hampir setahun. Setelah puluhan revisi. Setelah ratusan gambar kerja. Dan setelah begitu banyak malam yang ia habiskan sendirian.

​Angin sore berembus pelan. Arsen melangkah menuju teras. Kayu di bawah telapak sepatunya mengeluarkan bunyi kecil yang hangat. Entah kenapa, dadanya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa bulan terakhir. Seperti seseorang yang akhirnya berhasil menemukan tempat untuk berhenti berlari.

​“Mas Arsen!”

​Suara itu membuatnya menoleh. Dari arah samping rumah, seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berjalan mendekat sambil membawa beberapa kantong belanja. Mang Ali.

​Di belakangnya, seorang perempuan berkebaya sederhana ikut melangkah sambil tersenyum. Teh Lis.

​Pasangan suami istri itu sudah membantu mengurus kebutuhan pribadi Arsen hampir lima tahun terakhir. Bukan sekadar pekerja. Mereka sudah seperti keluarga kecil yang diam-diam menjaga kehidupan Arsen yang terlalu sibuk.

​“Sudah sampai, Mas?” tanya Mang Ali.

​Arsen tersenyum kecil. “Baru saja.”

​“Teh Lis dari tadi masak macam-macam. Katanya takut Mas Arsen lupa makan lagi.”

​“Kalau bukan karena Teh Lis, saya memang sering lupa.”

​“Bukan lupa, Mas,” sahut Teh Lis cepat. “Memang sengaja nggak makan.”

​Arsen tertawa pelan. Sudah lama ia tidak tertawa seperti itu. Ringan. Tanpa perlu berpura-pura kuat.

​Mereka masuk bersama ke dalam rumah. Aroma kayu baru langsung memenuhi ruangan. Sinar matahari sore masuk melalui jendela besar yang membentang hampir dari lantai hingga langit-langit.

​Ruang tamunya sederhana. Sofa abu-abu muda. Rak buku kayu jati. Karpet krem. Dan meja kopi kecil yang sengaja dipilih Arsen berbulan-bulan lalu. Tidak ada kemewahan. Namun ada ketenangan yang sulit dijelaskan.

​Mang Ali menggeleng pelan sambil memandangi seluruh ruangan. “Rumah ini beda ya, Mas”

​“Beda bagaimana?”

​“Rasanya... hangat.”

​Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada jendela besar yang menghadap halaman. Lalu pada ayunan kecil di luar sana.

​Untuk sesaat, sesuatu bergerak di dalam benaknya. Samar. Seperti bayangan yang datang lalu pergi. Seorang anak kecil berlari di atas rumput. Tertawa. Memanggil seseorang. Lalu suara itu menghilang sebelum sempat terbentuk utuh.

​Arsen mengedip pelan. Bayangan itu lenyap. Namun entah kenapa, dadanya tetap terasa penuh.

​“Ada rumah yang dibangun untuk ditinggali,” katanya akhirnya. Mang Ali dan Teh Lis menoleh. “Dan ada rumah yang dibangun supaya seseorang punya tempat untuk pulang.”

​Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Karena untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Mang Ali melihat sesuatu yang tidak biasa di mata Arsen. Kesepian. Kesepian yang selama ini selalu disembunyikan dengan senyum tenang dan kesibukan tanpa akhir.

​Malam turun perlahan. Setelah makan malam sederhana bersama Mang Ali dan Teh Lis, Arsen masih belum beristirahat. Ia justru sibuk memindahkan beberapa furnitur yang baru datang siang tadi. Rak buku. Kursi teras. Meja kecil untuk kamar belakang.

​“Mas Arsen, besok saja,” protes Mang Ali.

​“Nanggung.”

​“Mas Arsen dari kemarin kerja terus.”

​“Nanti selesai.”

​“Jawabannya selalu nanti.”

​Arsen tersenyum kecil. Namun saat ia mengangkat salah satu kardus, napasnya mendadak terputus. Dadanya terasa nyeri. Bukan nyeri yang baru. Nyeri yang sudah beberapa minggu terakhir semakin sering datang.

​Ia memejamkan mata sesaat. Menunggu rasa itu mereda.

​“Mas?”

​“Tidak apa-apa.”

​“Wajah Bapak pucat.”

​“Hanya kurang tidur.”

​Mang Ali tampak ingin membantah. Namun ia terlalu mengenal Arsen. Kalau lelaki itu sudah berkata tidak apa-apa, maka tidak ada siapa pun yang bisa memaksanya berhenti.

Lihat selengkapnya