Hujan turun sejak dini hari. Tidak deras, namun cukup untuk membuat langit Jakarta terlihat muram sepanjang pagi.
Di rumah keluarga Wijaya, udara terasa semakin dingin dari hari ke hari. Bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena orang-orang di dalamnya mulai kehilangan cara untuk saling menatap dengan tenang.
Kirana berdiri di dapur sambil menyiapkan sarapan Arka. Tangannya bergerak otomatis—memotong roti, menuang susu, dan menata piring kecil seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi. Namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Sudah beberapa malam Bara memilih tidur di ruang kerja. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pintu yang dibanting, dan tidak ada tuduhan yang diucapkan terang-terangan. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih mengerikan. Sebab diam yang terlalu panjang sering kali lebih menyakitkan daripada kata-kata yang tajam.
"Ma..."
Suara kecil Arka membuatnya menoleh. Anak itu berdiri sambil membawa mobil biru kesayangannya—mobil yang diberikan Arsen beberapa bulan lalu.
"Papa mana?"
Kirana tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang terasa begitu berat bahkan untuk sekadar dipertahankan. "Masih di atas."
Arka mengangguk lalu kembali duduk di lantai ruang keluarga. Ia menjalankan mobil biru itu di atas karpet sambil mengeluarkan suara mesin buatan dari mulut kecilnya. Sederhana, polos, dan tidak tahu apa-apa. Dan justru karena itulah dada Kirana terasa perih. Rumah ini mulai dipenuhi hal-hal kecil yang membuat seluruh kenyataan terasa semakin rumit.
Di lantai atas, Bara berdiri di depan cermin kamar mandi sambil merapikan jam tangannya. Wajahnya terlihat tenang—terlalu tenang—seperti permukaan danau yang menyimpan badai di dasarnya.
Sudah hampir seminggu pikirannya berputar di tempat yang sama: Arsen, Kirana, Arka. Dan semakin ia berusaha menjauh dari pikiran-pikiran itu, semakin banyak detail kecil bermunculan tanpa diundang. Cara Arka tertawa ketika melihat Arsen datang, cara Arsen selalu menundukkan tubuhnya saat berbicara dengan anak kecil itu, serta cara keduanya terasa nyaman satu sama lain. Terlalu nyaman.
Bara memejamkan mata, namun bayangan-bayangan itu menolak pergi. Mereka justru tumbuh semakin jelas, seperti retakan kecil yang terus melebar di dinding yang sama. Ia membuka mata kembali dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mulai kehilangan pijakan terhadap penilaiannya sendiri. Dan ketidakpastian itu terasa lebih melumpuhkan daripada apa pun.
Siang harinya, Bara menghadiri pertemuan kecil di proyek pembangunan pusat riset anak milik yayasan. Beberapa arsitek, tim pengembang, dan perwakilan Aryadana telah berkumpul sejak pagi.
Di dekat maket bangunan utama, Arsen sedang menjelaskan revisi desain ruang observasi anak. Suaranya tetap tenang seperti biasa. Lembut, terukur, dan mudah dipercaya. Dan entah kenapa, hal itu mulai mengusik Bara.