Hujan turun sejak subuh. Tipis dan panjang, seolah langit sedang lelah menahan sesuatu yang terlalu berat untuk disimpan lebih lama.
Jakarta terlihat pucat di balik kaca apartemen Arsen. Gedung-gedung tinggi berdiri diam di bawah selimut kabut, sementara suara bising kendaraan di jalan raya terdengar jauh dan samar.
Di dalam apartemen yang terlalu besar untuk ditinggali sendirian itu, Arsen duduk di meja makan sambil memandangi secangkir kopi yang sudah mendingin. Ia belum menyentuhnya sejak satu jam lalu.
Tubuhnya terasa aneh beberapa minggu terakhir. Bukan sejenis rasa sakit yang mengejutkan atau nyeri besar yang sanggup langsung menjatuhkan fisik manusia. Melainkan rasa lelah yang pelan-pelan merayap masuk ke dalam tulang. Napas yang mulai memendek tanpa sebab jelas, serta detak jantung yang kadang terasa begitu berat bahkan saat ia hanya sedang diam mematung.
Namun Arsen sudah terlalu terbiasa hidup bersama tubuh yang tidak pernah benar-benar berkompromi. Ia tahu cara menyembunyikannya dengan rapi. Tahu cara mengulas senyum normal, dan tahu cara membuat orang lain percaya bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan mungkin, justru pengabaian itu yang paling berbahaya. Karena semakin lama... bahkan dirinya sendiri mulai sulit membedakan mana yang benar-benar baik-baik saja dan mana yang hanya dipaksakan agar terlihat tenang.
Ponselnya di atas meja bergetar, memecah hening. Nama Ghasan muncul di layar. Arsen membiarkannya berdering dua kali sebelum akhirnya menggeser layar dan menempelkannya ke telinga, tetap melemparkan tatapan ke arah tirai hujan di luar.
“Kau tidak ke kantor?” suara Ghasan langsung menyapa tanpa basa-basi.
Arsen diam. Ia hanya mendenguskan napas pelan, terlalu lelah bahkan sekadar untuk menyusun alasan.
Ketidakadaannya jawaban itu justru membuat Ghasan di ujung telepon langsung menghela napas panjang. “Kau sakit?” nyerocos Ghasan cepat, nadanya sarat akan kecurigaan sekaligus cemas. “Suaramu saja tidak ada. Kau memaksakan diri lagi, ya? Sudah kubilang kerjaan minggu ini tidak usah ditumpuk semua!”
Arsen tersenyum kecil—sebuah tawa tanpa suara yang pendek dan lelah. “Hanya kecapekan, Ghas.”
“Bohong,” sahut Ghasan cepat. “Kau kalau sudah diam begitu pasti ada yang tidak beres dengan badanmu.”
Arsen menggelengkan kepala kecil sambil bersandar pada sandaran kursi. Dan entah kenapa... ocehan sahabatnya pagi itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya.
“Sudah makan belum? Obat atau vitaminmu sudah diminum?”
“Sudah, Mama.”
“Jangan bercanda, Sen.” Kini giliran Ghasan yang terdengar menghela napas lelah. “Kau itu kalau sedang tumbang keras kepalanya tidak ketulungan. Kerja terus yang dipikirkan.”
Sunyi menyergap sebentar di antara sambungan telepon, sebelum akhirnya Ghasan kembali bicara dengan nada yang lebih melunak. “Ya sudah, istirahat dulu sana.”
“Hm?”
“Pekerjaan biar aku yang handle.”
Arsen langsung mengernyitkan kening. “Gha, aku cuma mau santai sebentar, bukan sekarat.”