Hujan masih turun tipis ketika mobil Ghasan membelah jalanan menuju pinggiran kota.
Sepanjang perjalanan, lelaki itu tidak benar-benar sadar bagaimana ia bisa sampai di sana begitu cepat. Jemarinya mencengkeram kemudi terlalu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya pendek, sementara kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang saling bertabrakan.
Arsen tidak pernah menghilang.
Itu sebabnya panggilan telepon dari Mang Ali tadi terasa jauh lebih menakutkan dari yang ingin ia akui.
Begitu mobil berhenti di depan bangunan gading itu, langkah Ghasan mendadak terhenti.
Untuk sesaat.
Hanya sesaat.
Namun cukup lama untuk membuat dadanya dihantam rasa sesak tak kasat mata.
Rumah itu.
Rumah yang selama ini tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
Rumah yang diam-diam dibangun Arsen selama hampir setahun belakangan.
Bangunan itu sama sekali tidak menyerupai karya-karya besar Arsen yang biasa memenuhi majalah arsitektur. Rumah itu sederhana, hangat, dan jauh dari kesan megah. Seolah setiap sudutnya tidak dirancang untuk dipamerkan kepada dunia, melainkan murni sebagai tempat seseorang untuk pulang.
Namun pagi itu, rumah tersebut terasa terlalu sunyi.
Terlalu hampa.
"Mas!"
Mang Ali berlari menyambutnya di ambang teras dengan wajah pucat dan mata yang menyipit sembap.
"Di dalam..."
Ghasan tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia langsung menerobos masuk, melewati aroma kayu baru yang mendadak terasa begitu menyesakkan.
Lalu, dunianya seolah berhenti berputar.
Arsen terbaring di atas lantai koridor belakang. Di sampingnya, pintu kamar yang belum pernah sempat dihuni itu masih terbuka. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kehilangan rona. Salah satu tangannya masih terulur ke arah ranjang di dalam kamar, seolah ada jarak yang belum sempat ia tempuh.
"Sen..." Suara Ghasan pecah. Ia meluruh di samping tubuh sahabatnya, meraih pergelangan tangan itu dengan jemari yang gemetar hebat.
Denyut nadi itu masih ada. Sangat lemah dan pelan, namun cukup untuk membuatnya mengambil keputusan tanpa berpikir dua kali.
"Sen... dengarkan aku."
Tidak ada jawaban. Hanya tarikan napas pendek yang tidak teratur.
"Mang Ali!" Suara Ghasan menggema memecah hening rumah itu.
"Ya, Mas!"
"Bantu aku angkat Arsen. Sekarang!"
Mang Ali segera berlari mendekat. Wajah lelaki tua itu telah dipenuhi air mata, tetapi tangannya tetap sigap membantu memapah tubuh Arsen.