Malam turun perlahan di atas Rumah Sakit Aryadana, membawa serta sisa-sisa aroma hujan yang belum sepenuhnya menguap dari aspal jalanan di luar.
Lampu-lampu koridor utama lantai tiga dinyalakan redup, memantulkan bias warna kekuningan yang samar di atas lantai marmer putih yang mengilap dan dingin. Suasana rumah sakit di atas jam kunjungan selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat waktu terasa berjalan berbeda. Di sini, waktu tidak lagi dihitung oleh perputaran jarum jam, melainkan terasa lebih lambat, lebih panjang, dan mencekam. Seolah setiap detiknya sengaja menahan napas, menunggu sebuah keputusan absolut antara hidup atau mati dari seseorang yang sedang terbaring di balik dinding-dinding betonnya.
Di ujung koridor Unit Perawatan Intensif (ICU), Ghasan masih duduk membisu di atas bangku besi yang kaku.
Kedua sikunya bertumpu di atas lutut, sementara jemarinya saling bertaut erat di depan wajah, menopang keningnya yang terasa pening. Sejak percakapan panjang yang menegangkan dengan dr. Ranum dua jam yang lalu, kepala Ghasan terasa seperti dihantam oleh begitu banyak kenyataan yang belum mampu dicerna oleh logikanya.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun penuh Arsen hidup berselimutkan rasa sakit dari penyakit lupus yang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Dan selama tujuh tahun itu pula, sang arsitek memilih memikul seluruh beban, ketakutan, dan sisa energinya seorang diri, tanpa pernah membiarkan satu orang pun tahu betapa rapuhnya fondasi pertahanan yang ia miliki.
Ghasan mengangkat wajahnya perlahan, menyugar rambutnya yang lembap. Melalui sekat kaca besar yang membatasi ruang ICU, ia bisa melihat tubuh Arsen yang diam tak bergerak di bawah timbunan selimut putih dan belitan kabel-kabel medis. Detak jantungnya yang lemah terekam dalam grafik hijau di layar monitor. Pria itu tampak begitu tenang. Begitu sunyi. Seolah-olah ia hanya sedang tertidur pulas setelah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan.
Namun, justru ketenangan itulah yang membuat dada Ghasan terasa semakin sesak dan sakit. Sepanjang ingatan mereka tumbuh bersama, Arsen adalah lambang kekuatan dan ketegaran yang keras kepala. Melihat pria itu kalah dan tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit adalah jenis kenyataan yang menolak untuk Ghasan terima.
Sementara itu, di dalam ruang kerja dokter yang terletak beberapa meter dari sana, Ranum duduk sendirian di balik meja kayunya. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara dengung pelan dari mesin pendingin ruangan.
Sepasang mata Ranum tampak sembab dan memerah. Kedua tangannya yang dingin menggenggam erat lembar salinan rekonsiliasi medis—dokumen rahasia yang mengikat di bawah nama Arsen Pratama.
Rasa bersalah yang teramat raksasa menghantam dadanya tanpa ampun.
Sebagai dokter yang memegang rahasia kelam itu, Ranum tahu betul bahwa Arsen adalah korban tak bersalah dari benang kusut laboratorium tujuh tahun lalu. Lelaki itu bertarung melawan kehancuran organ tubuhnya sendiri, tanpa pernah tahu bahwa sampel darahnya telah menjadi takdir bagi lahirnya seorang anak bernama Arka, sekaligus hantu yang meretakkan rumah tangga Kirana.
Setitik air mata jatuh membasahi pipi Ranum, menetes di atas lembaran kertas medis di pangkuannya. Rasa sesak yang menyergap dadanya malam ini adalah duka yang jujur. Bagaimanakah cara dunia memperlakukan pria sejujur Arsen? Mengapa takdir membebankan begitu banyak kesunyian pada satu bahu manusia?
Jarum jam dinding merambat tepat membelah tengah malam.