Selama berbulan-bulan terakhir, hidup Bara Wijaya hanya berputar pada satu hal yang sama: mencari jawaban. Ia membongkar jejak yang sengaja dikubur, menelusuri dokumen yang menghilang, dan memaksa dirinya percaya bahwa setiap rahasia pasti memiliki ujung. Namun semakin dekat ia pada kebenaran, semakin ia merasa ada sesuatu yang sedang menunggunya di balik pintu yang selama ini tertutup rapat.
Pagi jatuh di atas gedung Wijaya Tower dengan warna abu-abu yang dingin.
Sisa-sisa hujan semalam masih menempel di balik kaca jendela besar lantai paling atas, menciptakan garis-garis air yang membias lambat. Di dalam ruang kerjanya yang luas, Bara Wijaya berdiri mematung menghadap panorama kota Jakarta yang samar tertutup kabut tipis.
Setelan jas hitamnya melekat rapi, namun garis wajahnya menandakan bahwa ia sama sekali tidak menyentuh tidur semalaman. Matanya redup, diselimuti bayang kelelahan dan gumpalan pikiran yang saling bertabrakan di dalam kepala.
Suara ketukan pintu yang tergesa memecah sunyi.
Bara tidak berbalik. "Masuk."
Pintu kayu jati itu terbuka lebar. Ardhan melangkah masuk dengan terengah-engah. Wajah pria muda itu pucat pasi, sementara jemarinya mencengkeram erat sebuah berkas dokumen khusus.
"Pak Bara!" panggil Ardhan dengan suara bergetar hebat. "Sistem laboratorium Aryadana baru saja mengirim sinyal darurat ke tim kita. Kode sampel AR-1001010073... mendadak aktif kembali beberapa menit yang lalu!"
Deg.
Seluruh aliran darah di tubuh Bara rasanya berhenti mengalir detik itu juga.
Bara memutar tubuhnya dengan cepat. Tatapan matanya yang tajam menancap lurus pada Ardhan. "Apa kamu bilang? Kode itu aktif lagi?"
"Benar, Pak," sahut Ardhan seraya melangkah cepat dan meletakkan berkas tersebut di atas meja marmer. "Sistem mengunci ulang sampel fertilitas itu karena ada pembaruan status vital pasien pemiliknya di basis data medis... bersamaan dengan terbitnya sertifikat kematian atas nama Arsen Pratama. Beliau dinyatakan meninggal dunia dini hari tadi pukul nol dua belas di ruang ICU."
Dunia Bara seketika runtuh tanpa bersuara.
Tangannya terulur perlahan, menyambar berkas tersebut dan membukanya.
Sepasang mata Bara terkunci pada deretan huruf dan angka tersebut.
AR-1001010073.