Dua hari setelah kepergian Arsen Pratama, Rumah Sakit Aryadana kembali berjalan seperti biasa.
Dokter tetap keluar masuk ruang pemeriksaan. Perawat tetap membawa berkas pasien dari satu ruangan ke ruangan lain. Suara langkah kaki masih memenuhi lorong-lorong putih yang tidak pernah benar-benar tidur.
Namun bagi sebagian orang, tempat itu tidak lagi sama.
Ada rahasia yang selama bertahun-tahun dikubur di balik dinding-dinding steril rumah sakit ini. Dan sekarang, ketika sang pemilik rahasia telah pergi untuk selamanya... kebenaran mulai mencari jalannya sendiri untuk pulang.
Malam turun perlahan di atas gedung Aryadana.
Lampu-lampu lorong lantai tujuh sebagian sudah dimatikan. Hanya beberapa cahaya putih redup yang masih menyala, memantulkan bias dingin di atas lantai marmer. Di ujung lorong yang sepi, pintu ruang arsip medis lama terbuka sedikit.
Ranum Arasy duduk sendirian di dalamnya.
Di hadapannya, layar komputer menampilkan satu dokumen yang sudah ia coba hapus berkali-kali dari ingatannya.
AR-1001010073.
Kode itu.
Kode yang seharusnya berhenti menjadi bagian dari hidup siapa pun. Namun ternyata, satu kesalahan kecil di sebuah ruangan steril mampu mengubah takdir begitu banyak manusia.
Jemari Ranum menyentuh layar monitor dengan gemetar. Matanya memerah, basah oleh air mata yang tak lagi bisa disangkal.
Arsen sudah pergi. Dan tidak ada lagi kesempatan baginya untuk meminta maaf.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh menetes di atas permukaan meja. Ranum menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Aku minta maaf, Arsen..." suara Ranum pecah, memecah hening ruangan. "Aku seharusnya mengatakan semuanya sejak awal..."
Pintu ruang arsip terdorong perlahan.
Ranum tersentak dan buru-buru menghapus air matanya. Ia mendongak, terkejut melihat sosok yang kini berdiri di ambang pintu.
Ghasan.
Pria itu berdiri diam di sana. Tatapannya tidak marah, pun tidak menyiratkan tuduhan. Justru keheningan tatapan itulah yang membuat Ranum semakin hancur. Ghasan menatapnya seperti seseorang yang sedang berusaha memahami luka yang tak pernah diceritakan.
"Aku mencarimu sejak sore," ucap Ghasan pelan.
Ranum memalingkan wajah. "Aku cuma ingin sendiri, Ghas."
Ghasan melangkah masuk. "Sudah dua hari kamu bilang begitu. Kamu bilang ingin sendiri setelah Arsen meninggal. Kamu bilang ingin sendiri waktu lihat berita duka itu. Kamu bilang ingin sendiri setiap kali namanya disebut."
Ghasan berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Ranum.
"Tapi Ranum..." Suara Ghasan bergetar tipis. "Aku mengenalmu. Aku tahu bagaimana kamu menangis ketika kehilangan pasien. Aku tahu bagaimana kamu menghadapi kematian orang lain."
Ghasan menatap dalam sepasang mata perempuan yang dicintainya. "Tapi aku belum pernah melihat kamu hancur sampai seperti ini."
Ranum menunduk dalam-dalam. "Jangan, Ghasan..."
"Kenapa?" Pertanyaan itu keluar pelan, namun menghantam dada Ranum jauh lebih keras daripada bentakan. "Kenapa nama Arsen membuatmu terlihat seperti seseorang yang sedang dihukum?"
Ranum menggigit bibirnya erat-erat. Air matanya kembali menetes keras.
Ghasan mendekat, merendahkan posisinya. "Ranum... Aku tidak bertanya sebagai dokter. Aku tidak bertanya sebagai orang yang ingin mencari kesalahan." Tatapannya melembut, penuh keputusasaan yang tertahan. "Aku bertanya sebagai pria yang mencintaimu."