Rumah Gading terasa begitu sunyi.
Bukan sunyi yang kosong, melainkan kesunyian yang masih menyimpan jejak seseorang yang baru saja pergi. Seakan setiap sudut ruangan masih mengingat langkah kaki Arsen, setiap dinding masih menyimpan suara pensilnya yang bergesekan dengan kertas, dan setiap cahaya yang masuk melalui jendela masih menunggu sosok itu kembali.
Di hadapan Kirana, buku catatan berwarna hitam itu terbuka perlahan.
Sebuah benda sederhana yang selama ini menyimpan bagian hidup Arsen yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Bukan tentang proyek-proyek besar yang membuat namanya dikenal.
Bukan tentang keberhasilan Arghas Property yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Bukan pula tentang sosok Arsen Pratama yang dilihat dunia sebagai seorang arsitek hebat.
Melainkan tentang sisi dirinya yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Tentang kesepian yang ia simpan terlalu lama.
Tentang cinta yang tidak pernah ia berani perjuangkan.
Tentang rasa kehilangan yang ia bawa tanpa pernah meminta seseorang untuk memahami.
Dan tentang seorang anak kecil bernama Arka...
Anak yang selama ini menjadi teka-teki bagi hatinya sendiri.
Anak yang membuatnya merasakan kehangatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika, tetapi selalu terasa seperti sesuatu yang telah lama ia cari.
Dengan tangan gemetar, Kirana membalik halaman pertama.
Tulisan tangan Arsen menyambutnya.,
"Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, Kirana... tentang rasa sayang yang begitu besar ini."
"Setiap kali melihat Arka, ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku. Sebuah kehangatan yang aneh. Membahagiakan, tetapi sekaligus menyakitkan."
"Dan di dalam kesunyian, aku terus berdebat dengan pikiranku sendiri..."
"Apakah aku mencintai Arka hanya karena dia adalah anakmu? Karena dia membawa bagian dari perempuan yang selama ini tidak pernah benar-benar bisa kulepaskan?"
"Atau... apakah ada sesuatu yang lebih dalam dari itu? Sesuatu yang bahkan tidak mampu dijelaskan oleh logika, tetapi terasa begitu kuat hingga membuat seluruh tubuhku mengenalinya?"
"Kenapa rasa sayang ini terasa begitu berbeda, Kirana?"
"Kenapa ketika Arka menggenggam tanganku, ada perasaan aneh seolah aku sedang menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupku?"