Tetes air bergulir menuruni atap–atap sekolah, jatuh mencumbu pepohonan. Sore hari telah tiba di SMU Litang, menyisakan kesunyian di sebagian besar area, kecuali sebuah gedung tiga lantai sebelah barat sekolah.
Murid–murid terlihat berbincang satu sama lain, beberapa membawa peralatan sesuai ekskul yang mereka ikuti. Tongkat baseball, selendang tari, bola basket, atau busur panah. Seorang murid perempuan berjalan menuju pintu dari ekskul yang memiliki luas lantai paling besar di gedung tersebut. Keramaian di tempat lain semakin lama semakin sepi, seolah semua murid sengaja menjauh. Cukup wajar, sebab sumber gosip minggu lalu sedang berdiam di dalam sana.
Pintu ruangan terbuka, bau kayu dan dedaunan langsung menyelimuti indra penciuman. Ada pelataran luas berpayung langit dengan beberapa lingkaran target berjejer rapi sejauh tiga puluh meter, puluhan anak panah menancap kuat–kuat pada titik tengah setiap target. Murid itu menghampiri seseorang yang sedang membersihkan busurnya.
“Kak Ran udah selesai latihan?”
“Anggit.” Rania mengangguk sambil menarik tas besar. “Tolong bilang sama pelatih kalau aku pulang duluan bareng Kak Rama.”
Anggit memindai lingkaran target dari kejauhan, menghitung dalam hatinya sebelum ikut mengangguk. Skoring Rania sudah dipastikan tinggi. Dia mengamati kakak kelasnya yang sibuk membereskan peralatan. “Berarti Kak Ran gak ikut acara nanti dong?”
“Acara?”
“Habis ini mau ada makan besar di aula. Hidangannya nasi liwet, ayam goreng, sambal bawang, plus semua sisa sayuran yang dikasih sama orang kantin,” jelasnya. Anggit lanjut bercerita. “Untuk menyambut Festival Onia, beberapa ekskul setuju untuk bikin Hari Berderma. Rencananya semua ketua ekskul bakal koordinasi sama OSIS buat buka donasi, mungkin diumumkan melalui papan mading. Hasilnya nanti akan disalurkan ke beberapa keluarga dan tempat yang membutuhkan.”
Semangatnya membahas kegiatan sosial berbau kebaikan, mengingatkan Rania dengan sisi unik adik kelasnya ini. Anggit adalah satu dari sedikit murid di sekolah yang sama sekali tidak takut padanya, meski sudah menyaksikan kekuatan Ra’um ia. Gadis itu tetap mendekat, bercerita layaknya teman biasa. Dari Anggit, Rania mendapatkan banyak gosip dan topik–topik terbaru mengenai situasi di SMU Litang.
“Yaudah, nanti aku sama Kak Rama nyari barang–barang yang kayaknya masih layak untuk disumbangkan. Agendanya cuma sampai itu saja kan?”
“Enggak dong Kak Ran, kita masih ada satu kegiatan akhir.” Kali ini Anggit memasang senyum bangga. “Aku dan beberapa anak lain terpilih untuk melakukan bakti suci di Rumah Candala.”
Kerut bertumpuk–tumpuk di jidat Rania, malas membayangkan kegiatan yang paling ia benci di tempat yang juga ia benci. Bakti suci tak ada bedanya dengan menjadi pelayan bagi anak–anak panti, halusnya adalah membantu para petugas di sana dengan ikut berkontribusi dalam berbagai macam kegiatan selama waktu tertentu. Mulai dari membersihkan kamar, mencuci seprai dan pakaian, memasak, hingga mengajarkan mata pelajaran khusus bagi para bocah. Tapi ada satu bagian di Rumah Candala yang Rania rasa tidak akan dibuka. Ia membayangkan wajah terkejut Anggit bila mencapai lantai itu.
“Aku sama sekali tidak tertarik. Jangan bawa–bawa namaku dalam rapat kalian nanti.” Rania memperingatkan dengan nada serius.
Anggit hanya tersenyum sopan. Sadar bahwa Rumah Candala membawa kenangan buruk bagi Rania, dia memilih diam. Sebuah busur, beberapa anak panah, dan peralatan penyangga lain telah disimpan rapi dalam tas. Anggit masih terpukau, begitu gampang bagi Rania menenteng tas besar itu. Kadang ia sedikit iri dengan para Ra’um, sebab mereka dikarunia kekuatan yang sangat memudahkan hidup.
Lamunan Anggit terhenti saat ia melihat Rania sudah berdiri di ambang pintu. “Pokoknya kalau kamu atau anak lain diganggu sama si Kampret. Kabarin aku,” pesannya. “Cari saja Evelyn, Dimas, atau mereka yang di OSIS. Ingat ya.”
Lagi–lagi ia mengangguk, tertawa ringan menanggapi pesan galak tersebut. Bila Rania sudah bersabda begitu, dipastikan seratus persen bahwa kakak kelasnya itu akan tiba dan menolong siapa saja. Persis seperti kejadian minggu lalu.
Ditinggal sendirian di area latihan tak membuat Anggit takut, ia fokus membersihkan sekitar. Setelah mengepel lantai bekas hujan, menyapu daun–daun gugur, serta merapikan beberapa barang. Berniat membuang kantong sampah ke luar gedung, maka Anggit berjalan santai menuju aula. Mata ia menemukan sosok familiar yang seharusnya telah pergi sedari tadi. “Loh, kok Kak Rania masih di sini?”
Tidak ada suara. Selembar kertas terbakar di telapak tangan gadis itu, cahaya emas terlihat tipis sedang menari–nari diantara liuk api. Rama dan rapat, potongan kata yang sempat terbaca sebelum berubah jadi abu.
Rania menoleh ke arah Anggit. “Kamu tahu dimana trem tercepat berada? Aku ingin segera pulang.”
Gadis itu memberitahu lokasi halte yang ada. Ketika Rania sudah hilang dari pandangan, Anggit mengelus dada. “Wah, untung aku nanya, kalau enggak…” Dia memejamkan mata. “Bisa hancur ni gedung.”
****
Trem melaju stabil di atas rel berbalut cahaya sore matahari. Kendaraan yang sudah jarang ditemui di daerah lain banyak berseliweran dalam Abdjaya, sebab peraturan mengenai regulasi kendaraan bermotor sudah lama diterapkan di kota ini. Meski trem disukai banyak warga, memakai teknologi spesial, serta berbalut sihir–sihir praktis, Rania sangat tidak suka kendaraan tersebut. Menurutnya trem terlalu lambat dan seringkali penuh sesak. Seperti sekarang, saat ia diapit tubuh–tubuh lelah para pekerja.
Bila mengikuti kata hati, ingin rasanya Rania terbang melesat keluar jendela. Tidak sampai tiga puluh detik maka ia akan tiba di tujuan. Mengingat isi kertas tadi membuat isi hatinya memburuk. Untuk menenangkan diri, Rania membenamkan kepala ke tas besar di pangkuan, berharap kondektur segera meneriakkan nama–nama halte Distrik Tosan.