Akonia Raya

Kamala Loka
Chapter #8

08. Di Luar Nalar

Sepanjang karirnya sebagai Akonia, Rama telah berhadapan dengan banyak hal aneh. Hama menyewa orang berani mati, sudah pernah. Hama menaruh jebakan dengan kerumitan di luar nalar, sudah pernah. Hama berusaha menyogok dia memakai iming–iming koneksi serta pucuk kekuasaan, sudah pernah. Tapi hama pada perburuan ini menggabungkan semua permasalahan yang ada, lalu menaikkan tingkat kesulitan sebanyak 100 kali lipat. Dadanya berdegup kencang.

“Pukul 04.40 WIA.” Rama bicara tanpa melepas pandang. Manik hijau ia tertuju ke sebuah lempeng mekanik, walau tubuhnya telah hancur dan tercerai berai, mesin itu masih berfungsi normal. Jarum jam tersebut mendorong Rama kepada bayangan, kasur hangat serta makanan lezat di pagi nanti.

“Susah tuh.”

Tanpa perlu menoleh, ekor mata menangkap lawan bicara. “Dari laporan Evelyn, hamanya kurang dari tiga puluh orang.”

“Kamu yakin kalau itu memang pengawal saja, enggak ada Hama lagi?”

“Tapi di lap—”

“Diam,” sela sosok itu. Jemari sisa tulang menempel di bibir Rama. “Aku sudah bilang berkali – kali, kamu harus memastikan dengan mata kepala sendiri. Tidak berharap pada apapun, apalagi Akonia lain. Karena mereka...”

“Bisa berkhianat kapan saja,” sambung Rama dengan wajah masam. “Tapi jalur komunikasi baru pulih, lagipula Evelyn adalah anak yang paling waras dan bertanggung jawab soal pekerjaan. Kamu juga lihat sendiri selama ini kan, Cecil?”

Cecil tetap ragu. Radar hantunya berkata bahwa pemimpin harus turun ke lapangan, melihat secara langsung hasil kerja dan menemukan jejak–jejak kecil kesalahan. Setidaknya itu hal yang ia pegang saat masih menjadi manusia. Tubuhnya melayang setinggi bahu Rama, potongan daging busuk jatuh dari sela – sela kaki. “Kamu tetap harus cek sendiri,” katanya.

Malas berdebat membuat Rama memilih bekerja. Hati–hati dia melangkah, menghindari ‘bubur’ daging yang pasti terbuat dari organ manusia hasil karya salah satu Akonia. Sisa–sisa pertempuran tercetak jelas di sekitar Rama. Retakan dari benda tumpul pada dinding rumah, kepala para mayat dalam keadaan hancur, serta suasana kacau seolah ada yang menjarah tempat ini.

Kerja mereka teliti juga, batin Rama memuji sembari menyusuri gedung luas yang rasanya tak berujung. Dalam kebingungan, mata menyorot sekitar lebih tajam. Tidak ada lagi jebakan, semua telah dibersihkan oleh Akonia lain. Jadi kenapa dirinya merasa berputar–putar di tempat sama? 

Penglihatan lelaki itu mendadak kacau, Rama perlu berkedip lima kali untuk mengembalikannya. Sengat tajam menyerang kepala, menjalar hingga ujung jari kaki. Tubuhnya limbung, guncangan ringan serasa gempa besar bagi Rama. Telinga sayup–sayup menangkap perkataan Cecil. Pertanyaan tentang obat, ramuan dan ujung kata yang tidak lagi terdengar. Kaki Rama kehilangan tenaga, tubuhnya langsung merosot ke lantai rumah. Dia berusaha mengabaikan kedua tangan yang mulai mati rasa, serta rasa mual bercampur bau amis darah di mulut. Kepala lelaki itu mendongak, sejenak mengagumi Langit Niskala dari atap yang sudah tak bersisa. Para warna menyala diantara awan kelabu.

“Ini obat kamu?!” Cecil bertanya sambil mengangkat sebuah botol kaca. Ukiran gagak bertengger pada tutup, menjaga isi cairan agar tak tumpah setetes pun. “Siapa yang buat benda ini? Warnanya jijik banget!”

Mendengar kata itu dari mulut Cecil terasa lucu, sebab penampilan dia juga tidak sedap dipandang mata, manusia biasa pasti sudah pingsan saat melihatnya. “Ka… kamu gak boleh ngom… mong begitu Cil,” katanya. “Cepat be… berikan itu, pad---”

Kalimat Rama terputus, rasa sakit luar biasa memeras paru–paru. Dia melolong kesakitan sampai sekujur tubuh mengejang.

Cecil bergerak cepat, namun tubuhnya sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Jari menembus botol, berulang–ulang percobaan berakhir pada kegagalan. Panik dan heran beradu dalam tempurung kepala Cecil. Sejak tadi dirinya bisa memegang benda–benda dengan mudah, merasakan tekstur plastik seolah gadis itu memiliki wujud nyata.

“Tolong Ce… cil,” pinta Rama. Nafas tercekat di tenggorokan.

Berbekal keyakinan, Cecil sekali lagi mencoba, menyentuh botol berisi cairan hijau serupa air rawa. Senyumnya mengembang lebar. Dia bisa merasakan halusnya kaca, dingin air, dan energi sihir tipis. “Bisa, Ma. Aku berhasil,” seru Cecil seraya menempelkan bibir botol di mulut Rama.

Ramuan dihabiskan sampai tuntas, satu dua yang meluncur ke dagu ikut dicicip. Botol itu langsung kosong, licin. Bahkan, bisa digunakan Cecil untuk memandangi mata hijau Rama. Warnanya mirip daun yang tak pernah terbasuh cahaya mentari di pegunungan Abdjaya. “Sudah baikan?” lanjutnya.

Rama cuma mengangguk kecil sebagai jawaban. Tubuhnya berangsur membaik. Kepala terasa bersih, tangan hingga kaki bisa bergerak lagi, serta pandangannya yang kembali jernih. “Makasih sudah menolongku,” ucap Rama. “Kalau gak ada kamu, rasanya anak–anak akan membawa kantung mayat saat pulang nanti.”

“Enteng banget mulut kamu. Ngomong hal macam itu, apalagi pada makhluk sepertiku.”

Tawa kecil terdengar dari Rama. “Tapi kamu berbeda dari mereka. Satu–satunya hantu yang masih memiliki kesadaran penuh, dapat mempertahankan wujud fisik serta tidak tertekan oleh sihir di Abdjaya. Kamu gak bergabung dengan mereka karena perbedaan itu kan?”

 Mereka yang dimaksud Rama tak lain dan tak bukan adalah para hantu yang sejak tadi mengintip dari kejauhan, mengelilingi keduanya bagai pagar hidup sembari meneteskan air liur. Ra’um milik Sang Hantu yang melemah, merupakan santapan lezat bagi makhluk–makluk tak berwujud. Satu gigitan bisa mengenyangkan perut hingga tiga bulan lamanya. Cecil tidak ada niatan bergabung dengan kumpulan tersebut, pada makhluk tanpa pikiran dan digerakkan insting buas semata.

“Aku serius, Rama. Tadi tuh kamu udah kayak orang sekarat, kayak orang yang sebentar lagi akan mati.”

Rama hanya tersenyum sambil menyentuh bola mata Cecil, organ itu sudah bergelantungan sejak tadi dan berayun mengikuti gerak kepala. Jari Rama memberi dorongan lembut. “Lebih baik kita bahas hal lain, seperti mencari sisa Hama?”

“Kamu sengaja ya beralih topik?”

Rama diam.

“Soal mayat terbakar yang tadi kita temui, itu suami dari kepala keluarga Mutia kan? Harusnya kamu tidak perlu terburu-buru begini.”

Rama masih diam.

“Apa ini ada hubungannya dengan Akonia? Atau yang menimpamu saat di Relung Memori, soal pria tua dan sekop yang dihujamkan padanya?”

Tak sedikitpun Cecil bisa menebak isi pikiran laki–laki itu. Kacamata butut dan poni hitamnya mengaburkan sorot mata tersebut, manik berbeda warna yang saat ini sedang tertuju pada Cecil. Dingin, suram, gelap. “Aku menghargai kekhawatiranmu, Cil.” Rama berkata.

Melayang di udara kosong sambil mengikuti Rama yang mulai berjalan, Cecil berceletuk, “Pokoknya kamu harus periksa ke dokter ya.”

“Iya. Nanti juga kan kamu bakal ikut aku ke sana.”

Lihat selengkapnya