Bulan menggantung tinggi seperti mata dewa yang menyaksikan segala. Dingin udara menusuk tulang, tapi bukan itu yang membuat tubuh Rama kaku. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk sebuah malam sepi. Sejak keluar dari gedung rumah sakit, Rama membisu. Dia hanya mengikuti Rania yang entah menuntunnya kemana. Kepala terus menunduk. Cuma ada rumput, batu kerikil, dan kehampaan tertangkap mata.
Terdengar langkah kaki berhenti, pemiliknya berbalik dan terdiam. Hening. Suara nafas mereka saling mengejar, yang satu penuh amarah sedang yang lain tipis bagai mayat hidup. Gaun pasien di tubuh Rania terhembus angin, menunjukkan kedua kaki penuh bekas luka, seolah mengejek nurani kakaknya. “Aku minta maaf,” ucap Rama gemetar.
“Kenapa aku harus tahu hal ini dari orang lain?” tanya Rania tanpa basa basi. Suaranya parau, tangis hampir pecah.
Rama mengangkat kepala, menyesali keputusannya tersebut. Hati ia teriris tajam, mendapati adiknya itu memasang ekspresi kecewa. Sorot mata Rania penuh luka, cemas, dan kesedihan yang mendalam. “Bu–bukan begitu Ran, aku cuma…”
“Cuma apa?!” Tangan Rania terkepal kencang hingga buku-buku jari memutih. “Cuma nunggu sampai kamu mati dan aku tahu dari orang lain lagi? Kamu pikir aku terlalu tolol buat tahu hal sepenting itu?” suaranya terus naik.
“Jangan ngomong begitu,” ucap Rama cepat. Tangannya bergerak, terulur tanpa sadar. “Aku cuma butuh waktu lebih Ran, penyakit ini perlu pemeriksaan mendalam.”
Rania tertawa getir, matanya sudah berkaca-kaca. “Jadi lebih bagus kalau aku dengar berita penting begini dari orang lain ya?”
Rahang Rama mengeras, lidah berubah kelu. “Ka-kamu dengerin Kakak dulu Ran.”
“Kamu selalu begitu, menyembunyikan semuanya sampai hancur tak bersisa. Sejak kecil, kamu tidak pernah berubah Kak,” lanjut Rania. Bulir air bergulir lagi di pipi. “Kamu egois.”
Kalimat terakhir menusuk Rama. Mulut terkunci, sadar bahwa ia tak bisa membantah sama sekali.
“Dari dulu aku selalu jadi orang terakhir yang tahu kondisimu. Kita ini satu darah, satu rumah, satu sekolah, satu pekerjaan. Tapi aku bahkan tak tahu tentang Piroga yang menyerangmu,” keluh Rania. Suaranya parau, tercekat oleh air mata. “Selama ini kamu menganggapku sebagai apa Kak? Keluarga atau parasit.”
Rasa mual tiba-tiba menghantam Rama. Dalam diam, ia melihat saudari kembarnya terisak-isak. Kali ini terdengar lebih pilu, suram, dan mengecilkan wujud Rania hingga setara liliput. Tak ada lagi Sang Penjaga si terkuat, hanya ada gadis kesakitan yang tiap tangisnya membuat laki-laki itu kesulitan bernafas.
“Pi-Piroga itu berbahaya,” Suara Rania melemah. “Aku gak mau sendirian lagi, cuma ada Kak Rama di hi-hidupku. Ka-kakak yang paling penting.”
Rama mendekat, perlahan memeluknya. Pelukan itu ganjil, canggung, dan penuh kehati-hatian seolah dia menganggap Rania bisa pecah kapan saja. “Maaf Rania. Tolong maafkan kakakmu yang bodoh ini.”
Rania tidak menjawab, tangis terbenam di dada kakaknya itu.
“Aku gak bakal ninggalin keluarga satu-satunya,” bisik Rama. “Di sisi dunia ini, teknologi berkembang lebih pesat dari yang kamu duga. Aku rajin minum penahan sakit, rajin konsultasi dengan dokter, dan mengatur asupan nutrisi. Apapun gejala tubuhku, pasti aku bakal kasih tahu ke kamu.”
“Kakak janji?”
“Janji.” Rama berkata tanpa ragu, matanya membara. “Sejak awal aku memang penyakitan, jadi lemas dan muntah adalah hal biasa yang sering kubiarkan. Tapi kali ini aku akan peduli. Kalau aku ke rumah sakit, kamu ikut. Kalau aku malas terapi, paksa. Tapi aku janji tidak akan merepotkanmu.”
Si kembar berpelukan cukup lama. Angin malam berhembus lembut, menggerakan awan-awan serta memuluskan penampilan sang rembulan. Cahaya perak menyinari apa saja di bawah. Dedaunan, atap rumah, hingga pucuk kepala.
“Kamu mau balik ke kamar atau gimana?”
Ada jejak cucuran air mata di wajah Rania, nampak kontras dengan senyum lebarnya. Jari menunjuk sesuatu. “Kesana Kak, ayo kita ke tempat itu.”
Rama paham. Dia memimpin jalan, berhati-hati menggandeng tangan Rania. Murni memakai tenaga sendiri, ia membantu gadis itu melompati sungai kecil, memapahnya ketika berjalan di tapak licin, dan membimbingnya melewati semak setinggi betis. Begitu tiba di tujuan, hal pertama yang dilakukan Rama adalah membersihkan telapak kaki Rania, mengusir tiap debu dan kotoran hingga tak tersisa.
Area taman yang biasanya ramai malam ini sangat sepi, gemericik air mancur serta bayangan patung menjadi kawan mereka. Patung berbentuk anak laki-laki berpose memilin akar pohon, diletakkan sejajar pandangan mata. Pahatan super realistis, gosipnya patung itu terbuat dari marmer asli negara Yunani yang juga jadi bahan utama pada sebagian besar bangunan rumah sakit. Rania tak peduli, ia cuma peduli dengan fakta bahwa saat ini sekitarnya terasa damai.
“Aku minta maaf Rania, ini terakhir kalinya. Aku serius.”
Rania menatap wajah itu, ada rasa takut bercampur khawatir yang terpancar di sana. Tangan ia menyentuh pipi Rama, mengusap bulir air mata. “Kenapa Kakak menangis?”
Rama menggeleng pelan. “Gak tahu, tiba-tiba saja begini. Padahal aku sudah berusaha menahan diri supaya kelihatan keren di depan kamu.”
“Kakak selalu keren kok di mataku.”