Langit sudah gelap ketika Rama membuka mata. Aroma jinten, akar melati, dan bunga koro menyapa sekaligus menegaskan identitas kamar tempat ia berada.
Kamar itu persis seperti kamar-kamar para penghuni Puri. Ada lemari, meja, serta kursi bergaya jadul. Kelambu panjang terikat pada ranjang besi berwarna biru muda. Jendela dikunci rapat memakai pasak kayu hingga angin tak mampu lewat. Api dari lampu minyak menjadi satu-satunya penerangan, menguak kejanggalan yang membuat tubuh Rama meremang.
Rantai-rantai perak menutup pintu. Di atas kepala, tali goni terjulur panjang dan kulit hewan direkatkan ke sudut terdalam kamar. Asap putih keluar dari mangkuk tembaga, menghantarkan aroma yang sejak tadi dihirup Rama. Kertas jimat melapisi pelbagai barang. Dari kusen jendela, pegangan kursi, kaki meja, hingga sisi-sisi ranjang.
Rama segera meraba tubuh. Pakaiannya telah berganti menjadi kemeja hitam, puluhan kertas jimat melekat dari dada menuju tengkuk leher. Ia mendapati sebuah rantai melingkari pergelangan kaki kanan. Walau bingung, Rama segera memeriksa Ra’umnya. Bahasa kuno masih terbaca semudah bernafas, sedangkan kemampuan Sang Hantu meredup saat dicoba. Tidak ada kabut hijau, tidak ada makhluk halus yang muncul seperti biasa. Dia terisolir tanpa senjata, informasi, atau sihir Akonia.
Kesadarannya belum stabil. Kepala terasa berat, seolah tubuh dan pikiran tak lagi selaras. Barang-barang ritual menyeret Rama ke sebuah memori lama, ke ruang-ruang penuh pasien yang terjangkit Piroga. Bedanya, tempat itu terang, hangat, dan nyaman. Sementara dia terkurung dalam situasi mencekam.
Ini bukan penyembuhan, melainkan bentuk berbeda dari penjara.
Derit panjang memecah lamunan laki-laki itu, pintu kamar terhempas keras menabrak dinding. Rantai peraknya mencair seperti lilin panas. Sosok asing melangkah masuk, tanpa aba-aba menerjang Rama sambil mengangkat belati tinggi-tinggi ke udara.
“Siapa an—” kalimat Rama terputus bersamaan dengan bilah dingin menusuk perutnya. “Ken-kenapa?”
Sosok itu bicara melalui belati yang bergerak luwes mengoyak-ngoyak tubuh manusia. Rasa sakit mencegah suara Rama keluar dari tenggorokan. Sensasi panas bercampur kejut, menghantam tiap helai otot dan daging. Dia berusaha melawan memakai sisa tenaga, mendorong atau menepis tangan si sosok asing. Sia-sia. Belati itu memang dicabut, tetapi langkah berikutnya membuatnya tergeragap.
Belati dihujamkan berulang kali, tanpa ampun merobek tubuh Rama hidup-hidup. Darah segar terciprat menyentuh langit kamar.
Pandangan melemah seiring dengan tenaga yang ikut layu. Matanya melihat genangan cairan merah telah membasahi seluruh kasur. Dunia menggelap, jari ia mencengkram sosok asing.
****
Langit sudah gelap ketika Rama membuka mata.
Reflek, ia menyentuh perut, mencari luka yang tadi mencabut nyawa. Nihil. Keringat membanjiri telapak tangan hingga membuka kancing baju terasa seperti merangkai permata. Perjuangan Rama berakhir pada kulit mulus nan bersih. Tidak ada noda mematikan, hanya puluhan kertas jimat tertempel rapat berusaha menyembunyikan tanda Piroga.
Kondisi itu tak lantas menjadikan Rama lega, justru kecurigaannya makin kokoh. Dia meraih kacamata dan menyapukan pandang ke sekitar, memastikan satu persatu. Ada lemari kayu, tumpukan PR sekolah, tas ransel belel, serta berkas kerja dengan coretan tangannya. Susunan barang familiar yang membuat Rama sadar bahwa ia telah kembali. Hiruk pikuk malam kawasan Puri Katri melesak masuk tanpa izin. Ramai dan hidup. Rama menarik nafas, mencoba meyakinkan diri bahwa kematian tadi hanyalah bagian dari mimpi buruk yang terlalu nyata.
Keyakinan itu retak saat dia hendak berdiri. Sesuatu menahan kaki membuat tubuhnya terhempas ke lantai. Rama menoleh, mendapati rantai yang sama persis dengan di dalam mimpi melilit erat kaki. Saat dia menopang tubuh, sesuatu mengalihkan perhatian.
Kulit manusia tersangkut di kuku-kuku jari.
Rama terpaku. Dia mengangkat tangan, memutarnya di bawah cahaya lampu minyak. Kulit itu nampak tua, berwarna abu-abu, teksturnya keriput juga elastis di saat bersamaan. Tidak ada bau, sihir, atau darah yang tertinggal. Sekejap, ia lupa caranya bernafas, seolah tenggelam di ilusi memabukkan. Bulu kuduk berdiri tegak mengisyaratkan kalau tadi ia benar-benar mati.
Laki-laki itu menangkupkan telapak tangan ke pipi, lalu menampar dirinya sebanyak tiga kali. Rasa perih berhasil menarik kesadaran kembali. Rama menghela nafas panjang. Fokusnya ia curahkan pada masalah pertama, rantai di kaki.
Dia menghentak kaki, memastikan cengkraman benda itu. Tidak ada perubahan, pertanda bagi Rama untuk memulai penyelidikan. Jemari bergerak menelusuri setiap jengkal rantai, berusaha menemukan pengait, celah, atau retakan sekecil apa pun. Tidak ada, hanya tersaji sebuah permukaan halus yang seolah dirancang khusus mengikat manusia.
Rama tidak kehabisan akal. Kuningan yang dipakai di Abdjaya berbeda dengan logam sejenis di wilayah lain, hanya bisa diolah dengan sihir. Tanpa memeriksa Ra’um, ia merapalkan mantra sembari menyentuh bagian lain rantai, sambungan antara kunci dan badan. Pemecah materi adalah sihir paling sempurna saat ini, dapat meluruhkan batu hingga berlian bila dirapal oleh individu yang cakap bertindak.
Sihir dihembuskan tepat setelah bisikan terakhir keluar dari bibir, diserap permukaan kuningan itu. Rama terdiam lama, nafasnya tertahan di paru-paru dan pupil mata bergetar menahan tegang.
Setelah sepuluh detik berlalu. Rantai masih memeluk erat kaki, tidak retak apalagi hancur. Rama tetap meraba-raba permukaannya, karena sentuhan adalah bukti valid terakhir yang bisa ia percaya. Jari berhenti pada satu bidang, sebuah ruas yang tidak sedingin sebelumnya. Nyaris terlewat sebab perubahan itu begitu samar, terasa semu belaka.
Kehangatan menyebar ke seluruh permukaan rantai, panasnya bertumbuh pesat hingga hidung Rama seakan membaui aroma ladang bunga. Dia bersiap menuangkan sihir lagi, hendak memadukan Ra’um Sang Hantu agar efek mantranya jadi lebih kuat. Kabut hijau keluar dari ujung jemari, bergerak halus menyelimuti permukaan rantai. Belum selesai Rama bekerja, sesuatu menekan dada hingga ia kesulitan bernafas.
Lidahnya mendadak mati rasa, kehilangan tenaga. Dia memaksa bicara, mencoba menelan gugup.
Belum cukup semesta mengejek Rama tatkala terdengar langkah kaki, heboh dan berisik. Di bawah daun pintu, dia melihat seseorang berjalan bolak-balik, bayangannya terlukis jelas di lantai kamar. Hantaman sepatu meredam bunyi-bunyi lain seolah berteriak mengumumkan kedatangan. Langkah sosok itu mendadak terhenti, ketukan mendarat pada pintu kamar.