Akonia Raya

Kamala Loka
Chapter #17

17. Mawar

Pagi itu dimulai Rania dengan cara berbeda. Ia tidak bergelung malas dalam selimut, mencumbui kasur, atau menonton TV yang terus memutar berita kemajuan Ibukota. Kali ini ia berada di luar, di atas lapangan rumput terbasuh cahaya mentari dan dikelilingi tawa anak-anak. 

Sudah lima kali Rania bolak-balik mengangkat barang, menjemur kain basah, menata pot tanaman, dan rentetan pekerjaan kasar lain. Sekarang beberapa bocah setinggi pinggang sibuk berlari, mengelilinginya seolah pusat permainan. Takdir terkadang sangat lucu, sebab ia masih tidak menyangka akan kembali ke sini, seorang diri tanpa paksaan siapapun. 

Rania menatap dua pengasuh yang sibuk berdebat soal cara menggantungkan spanduk besar, tajuk Hari Berdema: Bakti Suci di Rumah Candala tertulis di sana. Keinginan gadis itu untuk bersantai harus pupus ketika sebuah jari kecil menarik ujung baju. “Kenapa?” tanyanya sambil berjongkok.

“Kak Lan gak bantu Bibi Pengasuh?” 

“Aku capek. Dari tadi angkat-angkat barang mulu, nih tanganku sampai merah loh,” jawab ia sembari memamerkan telapak tangan. Bocah-bocah kecil berbau susu segera berkerumun. Lirikan malas Rania tujukan kepada dua pengasuh yang kini saling menyalahkan. Ia kembali mengalihkan pandangan pada gerombolan di depannya. “Lagian ada banyak anak lain di sekitar sini, kenapa gak minta sama mereka aja?”

“Kak Lan lebih dekat!” seru bocah tadi sambil mencengkram baju Rania lebih erat. 

“Yaudah kamu saja yang bantuin mereka.” Rania menyeringai, puas menjahili bocah tersebut. “Lagian aku ini statusnya tamu, bukan relawan Hari Berdema. Tamu boleh capek dan menolak membantu.”

Ucapan Rania membuat beberapa anak terkikik geli sementara yang lain menggerutu, mulut mereka melorot sampai dagu. Seorang bocah perempuan berambut kepang maju selangkah, menatap tangan Rania yang kemerahan. “Sakit?”

“Sedikit. Tapi masih kalah sama kamu waktu jatuh dari ayunan tadi.”

Anak itu tampak sedih. Tangan mungilnya meraih tangan Rania, berhati-hati meniupkan udara berharap dapat menyembuhkan luka tersebut. Satu dua bocah ikut mendekat, jari meremas baju gadis itu sambil memasang muka memelas, memohon bantuan. Rania menghela nafas panjang, tertawa dalam hati sebab kalah telak sebelum perang. Dia berdiri, menepuk-nepuk lutut dan melirik spanduk yang kali ini tergantung miring. “Satu kali, habis itu aku pergi.”

Wajah mereka berubah ceria. Anak-anak itu bergerak mundur memberi jalan seolah Rania baru saja menerima mandat penting kerajaan. Dua pengasuh menyadari kedatangannya, alis mereka mengerucut tajam.

“Sini spanduknya,” pinta Rania. Mata memberi kode pada keramaian di balik punggung. “Saya disuruh sama mereka.”

Sorot kagum bocah-bocah tertuju pada Rania yang terbang bak pendekar ulung, cekatan memasang spanduk. Tepat setelah kaki menapak tanah, satu pengasuh langsung meraup tangan gadis itu. “Terima kasih.”

Reflek Rania menghentak genggaman tersebut, membuat tubuh pengasuh muda itu sedikit limbung. Dan ia berhasil bertahan berkat bantuan pengasuh satu lagi, wanita tua bermuka masam yang nampak mengenali Rania. “Kamu tidak berubah sama sekali,” ucap ia pedas. Rekan kerjanya menatap heran, sementara pengasuh itu terus bicara. “Sudah bagus kau pergi dari sini, untuk apa kembali kemari?!”

Rania tidak menjawab. Manik hijaunya balik melawan, tajam menusuk dua orang tersebut. Tindakan sepele yang memantik emosi. Si pengasuh tua mengangkat tangan bersiap menampar sementara pengasuh muda gelagapan di tengah-tengah keributan. Beruntung sebelum keadaan memburuk, sebuah suara menegur lembut. “Tahan dong, dilihat sama anak-anak loh.”

Mereka menoleh, memandang dua sosok remaja berdiri beberapa langkah. Evelyn dengan baju kodok berkaos kutang, rambutnya menyala terang di bawah matahari. Di sisinya ada Galuh yang berjalan takut-takut, menempel bak perangko dan terus menunduk seiring tubuh mendekati Rania. Ia mengenakan pakaian sederhana dengan jahitan rapi, terlalu cantik untuk ukuran acara sukarela. Kainnya halus berwarna terang, kontras dibanding perawakan Galuh yang saat ini menciut seperti cacing dalam mulut ayam jago. 

“Ibu-ibu berdua tolong ke dalam dulu yuk, semua pengasuh dipanggil sama Pak Gunawan.” Perkataan Evelyn disambut kepanikan, tergopoh-gopoh mereka berjalan dan melupakan hawa panas yang tadi berkerak. “Baru ditinggal sedetik sudah merusuh saja,” celetuknya. 

“Berisik. Lagian mereka juga cari masalah sendiri, padahal sudah kutolong baik-baik. Tanya aja sama bocah-bocah di sana kalau gak percaya!!”

“Santai Ran, kami percaya kok.” Evelyn mengelus pucuk kepala kawannya itu sembari melirik pada kawan satunya lagi. “Kamu ke sini sendirian?”

“Iya. Kak Rama masih di Puri, entah apa pekerjaan yang ia lakukan. Aku juga malas menghubungi Satrio, orang itu pasti sedang sibuk-sibuknya.” Rania terdiam sejenak, mata ia memulas pandang kepada Galuh sebelum mulai bicara. “Terutama setelah berita antah berantah dari Narakuswa yang tidak didiskusikan dulu dengan kita. Kuharap mereka masih ingat batas dan tali kesinambungan Abdjaya.”

Galuh tersentak kecil, buru-buru bersembunyi dibalik tubuh Evelyn. Kepala ia tetap tertunduk memilih melihat tanah dan rumput saja. Kecanggungan diantara keduanya disambar oleh tawa getir. “Sudah-sudah, disaat senang begini masa kalian mau bertengkar juga? Malu tahu sama yang lain.”

Rania berdecak sambil memutar bola mata. “Kalian ke sini sebenarnya mau ngapain? Ingat ya, aku bukan relawan Hari Berderma atau apapun agenda yang kalian kerjakan.”

Lihat selengkapnya