Kegelapan menyelimuti Rania, hening menekan telinga sampai-sampai ia bisa mendengar jantung berdetak. Wangi manis mirip krim merah menyapa halus dan sebuah pintu berangsur-angsur terbentuk dari kekosongan. Berwarna butter yellow, catnya pudar digerus gelombang waktu. Tanpa ragu, ia menggenggam kenop, memutarnya dalam satu gerakan.
Bau obat menyerbu tanpa peringatan. Rania menutup hidung, kedua alis menekuk tajam seiring mata memandang sekitar. Perlahan, keping-keping puzzle mulai lengkap. Seisi tempat ini masih sama…. seperti tujuh tahun lalu.
Ranjang besi terhampar dengan kelambu menjulang tinggi, sempurna menutupi para penghuni. Suara statis mesin terdengar bersahut-sahutan. Butuh beberapa detik bagi Rania untuk menerima bau lain yang berputar pekat. Tanaman busuk, anyir darah, daging terbakar, tanah basah. Wangi krim merah telah menghilang, kalah telak digilas bebauan lain. Erangan seseorang menyadarkan ia, kepala menoleh mendapati penghuni ranjang sedang menatapnya. Kosong, kelam, nyaris mendekati kematian. Rania buru-buru menjauh, membiarkan tangan ringkih menggapai udara kosong. Tubuh bergerak selaras, menyusuri sekitar sembari mencari sesuatu. Kepalanya sakit, memori-memori tumpah ruah mengisi setiap celah sel otak.
Tempat ini ditemukan Rania secara tidak sengaja. Saat ia sedang kabur dari hukuman para pengasuh yang menurutnya terlalu menyebalkan. Gadis itu asal membuka pintu, meringkuk di bawah ranjang kosong sambil menahan napas. Kemudian, Rania melihatnya. Segala hal tampak aneh.
Kantong infus melayang di udara tanpa tali, orang-orang berbaju mirip suster rumah sakit berlalu lalang tanpa suara, dan terik mentari di luar terasa jauh serupa bayangan semu. Panas dari jendela berubah menjadi semilir angin yang berhembus ringan membelai rambut. Sebuah tangan mendadak terkulai jatuh, menyentuh ujung hidung Rania.
Kaku dan rapuh. Kulitnya bukan lagi kulit manusia. Kayu tumbuh di sana, menggerus daging dan tulang. Bisul-bisul berisi cairan hitam menempeli punggung tangan, beberapa yang pecah menguarkan bau busuk. Rania tersentak, perutnya mengamuk, asam lambung naik hingga tepi lidah. Sekuat tenaga tangan kecil itu berusaha menutup mulut, meski akhirnya kalah juga.
Hangat, asin, pahit.
Muntahan mengalir di lantai sempit tempat sembunyi. Belum sempat Rania memproses apa yang terjadi, tangan asing terjulur cepat, meraih tubuh kecilnya dengan kasar. Rania diseret hingga kedua lutut berdarah, diikuti makian yang terus menggema. Kata-kata itu menempel, lebih lama dari rasa sakit. Entah mengapa, Rania tetap kembali. Dua, lima, hingga tak terhitung lagi. Mual tetap muncul pada tiap kedatangan, tapi ia tak peduli. Tempat itu miliknya, sebuah rahasia kecil dan hanya orang-orang terpilih yang boleh masuk. Orang dewasa menyebutnya—
“Ruang Pasien,” celetuk Rania. Mata tertuju pada ujung ruang, pada pintu dengan sebuah nama bertengger dekat kusen kayu. Senyum perlahan merekah, langkah kaki ringan dan berbunga-bunga. Tatapan kosong penghuni ranjang memantulkan keceriaan gadis itu, ironi. Dalam beberapa detik ia sudah berdiri di depan pintu. Rania sempat melirik ke belakang, berhenti sejenak sebelum akhirnya memutar kenop, masuk tanpa suara.
Meski sudah menurunkan tirai penutup dinding kaca, Rania tetap merasa diawasi. Cepat-cepat tangan mengeruk laci, mata membaca puluhan judul dokumen secara singkat. Tak menemukan apa yang dicari, gadis itu kembali menenggelamkan diri pada tumpukan kardus, kertas-kertas berhamburan di atas karpet wol.
Tempat ini lebih cocok disebut gudang daripada ruang kerja seorang pemimpin. Karat membungkus perabot besi, dokumen serta berkas diletakkan sembarangan, bahkan meja besarnya dipenuhi jejak tinta kering. Kursi kerja berlapis kulit tua yang telah robek hingga busa kuning dan pegas terburai keluar. Tebalnya debu mengingatkan ia akan masa kecil, ruang kerja Rama, dan tas panahan. Fokusnya kembali tatkala mata hitam ia menangkap sesuatu, sebuah judul pada salah satu dokumen.
Rama Haswin Widyataama (Grade A+).
Rania tersenyum saat membaca nama itu, senang melihat nilai tinggi yang melekat pada saudara kembarnya. Cukup satu halaman dokumen untuk menghapus kebanggaan di wajah. Pupil mata bergetar, ludah berubah pahit, dan aroma besi tercium tipis. Rania menggigit bibir, tanpa sadar. Darah mengalir seiring emosi yang dipupuk. Tiap halaman mengantarkan gadis itu pada informasi baru, gaya bahasa si penulis menilai Rama layaknya objek penelitian.
Dengan beringas jemari Rania membalik halaman demi halaman tanpa memberi kesempatan bagi otak untuk memahami. Kata-kata tumpang tindih, bertabrakan, berpilin dalam serangkaian kalimat rumit berbahasa kuno Abdjaya dan latin. Semua dapat ditarik menuju satu benang merah—tiap huruf membawa nama Rama.
Reaksi, respon, batasan, terkhusus bagaimana laki-laki itu menghadapi rasa sakitnya.
Dada Rania mulai sesak. Dia terus membaca meski suara hati menyuruhnya berhenti. Setiap kalimat terasa seperti menggenggam besi panas. Seolah-olah tiap halaman bukan membawa jawaban, melainkan rasa sakit yang perlahan mendekat. Gadis itu tahu, tapi tidak mampu menolak. Rania tak lagi memeriksa dokumen dengan sopan, ia berlaku kasar dan menggali-gali isinya sampai kertas tersebut kusut—nyaris robek—ujung melengkung ke dalam.
Pada halaman lima tertulis deskripsi Piroga, dari gejala umum hingga Ra’um tipe apa dengan kemungkinan terjangkit paling tinggi. Halaman sepuluh dipenuhi tabel berisi deretan angka, laporan detail tentang sampel kulit kayu yang melekat di tubuh Rama. Di halaman dua belas, pandangan Rania memburam, air mata menggenang dan membasahi pipi. Setiap lembar membawa gadis itu ke bayangan suram kondisi Rama yang jauh lebih buruk dari dugaan.
Tremor menyambar ujung jari ketika ia membuka halaman terakhir. Berjudul lampiran, menyajikan ratusan foto seorang laki-laki yang tak pernah sendiri. Dia digantung terbalik, dicekoki obat-obatan, atau direndam dalam air mendidih. Selang transparan menempeli tubuh kurus tersebut bak lintah, jejak darah mengalir dari pelupuk mata. Rania kenal betul siapa laki-laki itu. Lunglai, ia menutup dokumen, mendekapnya kuat-kuat sambil menahan tangis.
Hembusan angin membuat kepala menoleh, mendapati pintu ruang kantor telah terbuka lebar. Insting Rania tak sempat bereaksi. Tatapan kosong ditujukan pada sosok di ambang pintu, seorang laki-laki yang segera memeluknya tanpa banyak bertanya.
“Ka—kamu bisa masuk ke sini?” Rania bertanya, suara ia parau seperti anak burung.
Orang itu diam. Mata abunya sibuk mengamati sekitar, merekam informasi dari benda-benda. Ceceran kertas, tumpukan kardus, isi laci yang dimuntahkan ke lantai, dan tarikan napas Rania yang tidak beraturan. Ruang kantor amburadul, ia yakin gadis itu tidak bekerja dalam hening. “Kamu butuh apa?”
Rania terperanjat, hanya sedetik sebelum akalnya kembali. “Semua dokumen. Apapun tentang Piroga, Kak Rama, Rumah Sakit Abdjaya, dan Damuatma!”
Tangan terangkat ke depan. Partikel cahaya muncul di udara kosong, berputar dalam kecepatan tinggi menuju satu titik. Ribuan atom terhisap merangkai piringan tipis berwarna hitam, pekatnya mampu melahap cahaya sekitar. Ratusan kertas bangkit, bergerak dari tiap sudut, bersatu menjadi gelombang besar. Bidang itu meliuk-liuk liar, dinding kaca bergetar hebat dan pintu terbanting keras. Guncangan menerpa perabot, berbagai pajangan kecil jatuh tanpa perlawanan. Setelah terbang selama beberapa detik, ombak raksasa menukik tajam memasuki piringan hitam. Dalam kedipan mata, semua keributan hilang begitu saja, meninggalkan debu-debu beterbangan diantara mereka.
Suara ramai terdengar dari kejauhan. Langkah-langkah kaki beserta dengungan manusia. “Kita pergi sekarang, Adnian!” seru Rania.
“Nanti dulu.” Adnian menghela napas.
“Sekarang?”
“Sebentar lagi.”
“Mereka datang!!”
“Tunggu.”
“Berapa lama?!”
Adnian memejamkan mata, berhitung sejenak. Dia membuka kelopak mata sambil mengangkat lima jari.
“Lima menit? lima detik?” Rania bertanya tanpa henti. Wajahnya dipenuhi rasa muak. “Jangan bercanda Adnian!”
Tepat saat kenop pintu berputar, asap hitam memakan tubuh keduanya, meninggalkan serbuk gelap yang melebur dalam serat-serat karpet.
****
Bau debu menghilang, digantikan oleh udara lembab dan cicit tikus.
Mata Rania berkedip beberapa kali untuk terbiasa, mempelajari tempatnya berada. Gelap gulita, cahaya tidak datang dari atas melainkan berpendar di bawah telapak kaki. Gerak sekecil apapun menciptakan derit pada lantai kayu, mengusik gendang telinga serta menyadarkan ia akan sesuatu.