Akonia Raya

Kamala Loka
Chapter #19

19. IPL

Banyak hal yang baru-baru ini menimpa Rania.

Pertama kali mendapat nilai 70 di ujian harian mapel ekonomi, pertama kali panahnya meluncur ke zona putih, pertama kali meminta Mbok Ipah membuat makanan berkuah hangat sebab ia kangen Rama, dan pertama kali melangkahkan kaki ke tempat baru. 

Prestisius, elit, pusat dunia, peminat ratusan ribu orang. Suara-suara itu melekat bagai bayangan. Beban berat ditanggung tempat ini sebagai garda terdepan Kota Abdjaya di bidang pendidikan, bidang yang sangat disukai kakak kembarnya, mungkin juga diminati Adnian. Sekarang laki-laki itu memimpin jalan, bersama tiga orang dewasa yang berjalan terseok-seok, kesulitan menyamai irama langkah Adnian dan Rania. 

Datang menggandeng Adnian adalah pilihan sempurna. Koneksi, status, dan wibawanya—yang seringkali Rania ejek—menjadi senjata utama yang memuluskan setiap perjalanan mereka. Dia tidak perlu berurusan dengan tetek bengek administrasi, menghadapi petugas jaga bertampang masam, atau satpam berkumis lebat. Kehadiran dua remaja tanggung di salah satu institut terpenting negara ternyata cukup menarik perhatian, hal yang tidak diantisipasi oleh Rania. 

Beberapa mata mengamati mereka, berasal dari berbagai lapisan manusia. Dosen, mahasiswa, staf, koki kantin, sampai tukang kebun. Rania beberapa kali memandang pakaiannya, lalu pakaian Adnian. Bolak balik menekankan bahwa mereka tidak berkunjung dalam keadaan bugil. Akhirnya ia hanya mengangguk kecil, yakin penghuni tempat ini memang sangat jarang bertemu manusia lain, manusia yang lebih muda dari mereka. 

Berkat Adnian juga, Rania bisa mendengar sejarah singkat tempat ini yang selang seling mengalir dari mulut tiga orang di dekat mereka. 

“Jadi IPL sudah ada sejak ribuan tahun lalu?”

“Kebanyakan gedung disini bahkan sudah berdiri sebelum Abdjaya terbentuk,” ucap pria berambut koma. Suara ia mengandung kebanggaan luar biasa. “IPL adalah sejarah itu sendiri.”

“Tapi atapnya masih sering bocor, dan kalau hujan deras kadang lantai satu bisa kebanjiran.” Adnian bicara tanpa rem, membuat orang-orang dewasa tersedak ludah. “Padahal ada anggaran khusus loh. Mengalir ke kantong siapa ya?”

Sementara kumpulan orang di depan berdebat, Rania memandang sekitar. Rumor soal mahasiswa asing rupanya benar. Baru kali ini ia melihat berbagai bangsa berada di tempat sama, sedang berdebat, mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar mengobrol. Beberapa bicara dalam bahasa asing, tangan menggenggam sebatang pulpen yang ujungnya bersinar pelan. 

“Itu penemuan terbaru kami loh.”

Rania nyaris meninju sumber suara yang bergerak mundur dengan wajah pucat. “Wow! Astaga, anda cepat sekali…. Kalau saya tidak menghindar, mungkin hidung saya sudah patah.”

Tak ada balasan, yang ada hanya tatapan bosan seorang gadis muda. 

“Saya minta maaf karena mengejutkan anda, Nona Rania.” Orang itu menunduk sopan. “Panggil saja saya Lucien, Edmund Lucien.”

“Benda apa yang dipegang para mahasiswa itu?”

“Belum ada nama, tapi semua orang sepakat menyebutnya penna.” Lucien sadar Rania masih menunggu, tatapan ia menuntut penjelasan. “Fungsinya ada banyak. Perekam mantra, penyimpan rangka dan pola sihir sederhana, penerjemah otomatis tanpa melalui perangkat tambahan. Beberapa mahasiswa yang jahil bahkan memberi fungsi tambahan ke penna supaya bisa meniru tanda tangan orang lain sampai perekam mini.”

“Keren banget.” Rania bersiul kagum, jarinya menunjuk sesuatu. “Kalau yang di sana?”

Mata Lucien mengikuti telunjuk, melihat sebuah meja keramik yang dikerumuni orang-orang. “Oh, itu disebut tabula.”

“Tabula?” 

Lucien mengintip rombongan di depan yang masih berdebat panas. Tanpa bertanya ia meraih tangan Rania, mengajak gadis itu bergabung dalam kerumunan. Di balik punggung-punggung mahasiswa, mereka bisa melihat bagaimana cara kerja benda tersebut.

Awalnya Rania mengira tabula adalah meja keramik biasa, lempeng logam setebal lima sentimeter melekat di atasnya. Tebakan itu berubah ketika salah satu mahasiswa menyentuh tepi meja. Cahaya redup muncul dari ujung jari, menjalar hingga retakan-retakan muncul pada permukaan logam. Meja mendadak hidup, tabula mulai bekerja. 

Ulir dan lekuk aneh seukuran butiran pasir timbul di atas permukaan meja, bergerak-gerak tanpa henti seolah menunggu perintah. Setelah beberapa detik, ribuan besi itu bekerja dalam formasi teratur, merangkai wujud dua dimensi dengan akurasi mikroskopis. Seorang mahasiswa bergerak, tangannya tenggelam setengah lengan menuju permukaan meja. Dalam satu hentakan ia mengangkat tangan ke udara. Air berbau besi terpercik ke mana-mana, membuat penonton mundur satu langkah. 

Mulut Rania menganga, melihat jantung manusia berada di genggaman mahasiswa itu. Basah, berdetak, dan nyata. Warnanya kelabu, pembuluh serta jalur peredaran darah terukir jelas membungkus organ tersebut.

“Tabula membaca pikiran penghuni kursi,” ucap Lucien santai. “Kalau datanya cukup, bahkan sebuah simulasi kehidupan mini bisa terbentuk di sana.”

“Kenapa aku gak pernah lihat tabula di luar?”

Maintenance rumit. Tabula terdiri dari ratusan sirkuit mantra yang harus diperbaharui setiap hari, belum lagi beberapa kendala kecil yang sebenarnya sepele, tapi kadang agak rumit kalau dilihat orang awam.” Lucien meniup poni, rambut pirangnya macam ladang jagung disiram mentari. “Benda ini suka error. Pernah ada seekor anjing duduk di kursi, lalu tabula mengerjakan proyeksi visual berbasiskan pikirannya. Dan anda tahu apa yang muncul?”

Rania menggeleng. 

“Makhluk abstrak mengerikan. Berwarna merah tua, tak berwajah, dan tubuhnya meleleh. Butuh lima petugas IPL untuk mengatasi masalah tersebut. Tiga jam kemudian, anjing itu mati. Mayatnya kurus kering karena energi kehidupan tersedot sebagai bensin bagi tabula.”

“Jadi maksudmu, seekor anjing bisa memiliki pikiran ekstrim melebihi manusia?”

“Jujur saya kesulitan menjawab pertanyaan tersebut,” ungkap Lucien. Mata birunya melirik sesuatu di kejauhan. “Tabula masih sebuah teknologi penuh misteri. Terkadang bisa mewujudkan seekor pegasus, namun gagal membentuk mahkota raja-raja Nusantara.”

Penjelasan panjang Lucien menurunkan minat Rania untuk mengotak-ngatik tabula. Benda ini memang ajaib, begitu magis namun tidak banyak membantu. Tabula mungkin mampu menciptakan simulasi kehidupan, tetapi Damuatma terasa seperti sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia.

“Ternyata kamu di sini,” sapa Adnian yang tahu-tahu telah berdiri di belakang Rania. “Aku nungguin dari tadi, tapi kamu gak datang-datang.”

Mata Rania memperhatikan wajah sisa rombongan, dua orang dewasa dengan ekspresi sulit dijabarkan. “Kupikir kamu masih lama.”

Adnian tertawa. Dengan mulus ia mendorong Rania ke balik punggungnya. “Kalau kamu masih mau ngobrol dengan… Sorry, who are you?” 

“Edmund Lucien, sir. You can call me Lucien.” Logat prancisnya terdengar kental. Rania menatap punggung Adnian yang berdiri terlalu dekat. Aneh. Padahal sedari tadi laki-laki itu bicara santai, tapi suasana mendadak berubah seperti dua hewan yang saling mengukur wilayah. “If you want, I can help you with everything in the IPL an–

Tangan Adnian terangkat santai, memotong tawaran Lucien sebelum pria asing itu selesai bicara.“It’s okay, I can handle it.”

Lucien mengangguk sopan, menyimpan sisa kata dalam hati. Bersama dua pria lain, mereka terdiam melihat muda-mudi itu berlalu pergi dan ditelan kelok lorong kampus. Sedetik kemudian, bom amarah meledak. Telinga Lucien terpaksa menyerap deretan omelan, makian, serta bahasa kasar Indonesia yang belum genap dipahami seluruhnya. 

Mata biru menyorot langit cerah, berdoa dalam hati sembari berhitung pelan mengukur sesuatu yang cuma ia dan Tuhannya ketahui semata.

****

“Apa yang kamu dapat dari—

“—mereka?”

Lihat selengkapnya