Beberapa hari berlalu usai kejadian maha dahsyat di IPL, setidaknya itu yang Rania baca dari berbagai judul media daerah sampai nasional. Semua kekacauan kala itu, dibungkus sedemikian rupa menjadi kecelakaan praktikum mahasiswa yang tidak sengaja menghancurkan bangunan IPL.
Tidak ada Ra’um, tidak ada nama Rania maupun Adnian.
Kadang ia harus memuji kehebatan Narakuswa, dengan mudahnya mengatur setiap informasi yang keluar masuk Kota Abdjaya. Jadilah suasana sekolah berjalan seperti biasa. Terdengar obrolan riang para murid dan omelan guru-guru. Topik seputar PR, tugas, atau gebetan baru. Tidak ada darah, makian, ledakan huru-hara. Damai… sangat damai.
Arus tersebut menggoda Rania sejak tiba di sekolah, berkali-kali menyuruhnya tidur di kelas atau bolos ke kantin. Namun ada hal penting yang harus ia kerjakan secepat mungkin. Agenda itu memacu langkah kaki, membuat Rania berlarian di lorong sekolah meski sudah kena omel ribuan kali. Saat semua murid berangsur-angsur pulang, ia justru bergerak makin dalam menuju gedung ekskul. Tangannya memeluk paper bag dan gadis itu melempar seringai mengerikan pada siapa saja yang menyapa.
“Gila, jauh banget!” Rania berteriak sambil membuka pintu. “Capek! Kenapa aku bisa capek padahal cuma jalan segini. Apa aku tambah tua?”
“Mungkin waktumu sudah tiba Ran. Kamu mau dimakamkan dengan cara apa?’
Bibir Rania mengerucut. “Jelek banget candaanmu, Lyn. Nanti kena karma, baru tahu rasa.”
Evelyn tertawa, menganggap lelucon tadi super lucu. Tangan ia bergerak ringkas membongkar barang bawaan Rania, tak lupa memaksa gadis itu berbaring dengan kepala bersandar di atas pahanya. “Kamu harus istirahat. Tubuhmu masih sakit kan?”
Rania mengangguk kecil. Mata terpejam, merasakan semilir angin yang berhembus dari atap terbuka ruang latihan panah. Aroma dedaunan menggelitik pucuk hidung, telinga hanya mendengar lembaran kertas dibuka bolak-balik. Gadis itu merenggangkan tubuh, mengusir pegal sejauh mungkin. “Dimas kemana?”
“Dia bilang bakal telat, ada urusan sama ibunya.” Evelyn menjawab tanpa menoleh. “Ngomong-ngomong, data selengkap ini kamu dapat dari mana? Aku bahkan mulai meragukan informasi yang kupunya loh.”
“Keren kan?”
“Tapi, ini apa?” Evelyn bertanya sembari menunjuk sesuatu, noda merah tua yang mewarnai beberapa kertas. “Kamu berantem separah apa sama dia?”
Rania terdiam.
“Siapa yang berantem?” Dimas yang baru tiba ikut bertanya dengan wajah bodoh. Tangannya menenteng sesuatu. “Itu kan memang hobi Rania, terus anehnya dimana?”
Wajah Evelyn memasam. “Kamu tinggal di goa apa gimana sih, Mas? Perasaan satu Indonesia sudah heboh loh.”
Sementara dua kawannya itu bertengkar, ingatan pasca kejadian IPL membanjiri kepala. Rania tersadar saat diperiksa para dokter. Dikelilingi orang-orang dewasa bermasker putih lebih dari cukup untuk membuatnya kembali ke dunia nyata. Malam yang sama, ia melesat pergi menuju satu tempat. Kediaman Purnama.
Kehadiran Rania sempat membuat heboh. Gadis yang melukai pewaris utama sampai babak belur, santapan empuk untuk diludahi. Namun satu kepakan sayap sang Penjaga berhasil meredam perlawanan mereka, membiarkan Rania berjalan ke kamar laki-laki itu di bawah tatapan tajam orang-orang. Perizinan dari anak kecil yang ia kenal sebagai adik Adnian, ikut memudahkan perjalanan. Tak seorang pun cukup bodoh untuk melawan perintahnya.
Tanpa menoleh, Rania dengan cepat menemukan target. Dari ekor mata ia melihat Adnian berbaring di atas kasur, perban melilit berbagai titik tubuh, penyangga besi berwarna kemerahan dipasang di beberapa anggota gerak. Setelah puas, gadis itu berjalan menuju jendela dan membukanya lebar-lebar. Suara Adnian sempat terdengar sebelum Rania terbang tinggi, kembali ke rumah tercinta.
“Aku terlalu sibuk ngurusin obatnya Ibu, jadi gak sempat baca berita.”
“Kalau alasanmu begitu, aku gak bisa ngomong apa-apa, Mas. Dasar curang.”
Dimas kelimpungan. “Loh, curang darimana? Masa aku harus nunjukin obatnya ke kamu Lyn.”
“Bercanda… aku bercanda Dimas.” Evelyn tersenyum, tangannya meletakkan setumpuk dokumen yang baru dibaca. “Aku rasa kita pakai data ini saja sebagai sumber utama, karena aku yakin dataku dan Dimas tidak akan selengkap ini.”
“Enggak. Aku mau dengar data kalian dulu,” ucap Rania.
Dua remaja itu saling lirik. Deham keras keluar dari Evelyn, sikunya meninju tulang rusuk Dimas seolah kode keras. Laki-laki itu menggeleng kuat, isi otak memancarkan penolakan hebat. Menyerah, Evelyn menghela napas. “Andai kamu bisa baca pikiranku.”
“Yang bisa kan cuma kamu.” Rania memicingkan mata. “Jangan-jangan kalian belum nyari informasi apapun? Aku doang yang kerja!”
“Data yang kutemukan soal Damuatma hampir sama kok, punya kamu malah sampai ke dasar-dasarnya.” Evelyn meraih saku seragam, meletakkan secarik kertas penuh coretan, pola, dan garis aneh. “Makanya aku memilih untuk memecahkan kode yang kamu dapat dari burung pipit. Kamu bilang itu dari Rama kan? Kenapa bisa yakin banget?”
“Karena suara itu menembus pikiranku.” Rania memandang kosong ke sudut atap. “Kalian pernah kena buaian sang Penjaga?”
Evelyn dan Dimas sama-sama mengangguk.
“Sekarang bayangkan di antara suasana nyaman dan memabukkan itu, ada suara keras yang masuk ke otakmu, begitu kuat hingga tiga hari kemudian kamu masih mengingat detail nadanya.”
Keduanya berusaha mengingat-ngingat situasi Rania. Kondisi tidak stabil, mental kacau, menggila. Lonjakan energi sihir yang meluap bak air bah, dapat ditembus oleh suara kecil seekor burung pipit. Penampilan hewan itu semakin menebalkan pendapat Rania, terutama karena ia memiliki kaki berbeda warna.