Akonia Raya

Kamala Loka
Chapter #21

21. Sandwich Isi Ham

"Bangsat!”

"Bisa enggak semenit saja tidak berkata kasar?"

"Mana bisa Mas,” oceh Evelyn sambil berkacak pinggang. “Mulut dia mah setelannya sudah begitu dari lahir. Iya gak Ran?”

Rania mendengus pendek, menciptakan gelak tawa di antara dinginnya cuaca. 

Hiruk pikuk suara manusia nyaris menelan percakapan mereka. Debat hari ini dipromosikan penuh totalitas. Bola siar terbang rendah ke penjuru kota menenteng pamflet atau potongan iklan koran. Dari gerbang utama Puri Katri, daun hingga jalanan sudah dimantrai menggunakan sihir khusus, jenis sihir yang biaya pembuatannya setara dengan harga tanah paling luas di jantung Ibukota. Meski banyak orang berlalu-lalang, tak ada yang peduli pada gerombolan remaja tanggung di salah satu taman baca. Keempatnya memasang wajah suram dengan alis sama-sama menukik tajam.

“Adnian, kamu gak bercanda kan?” Kali ini Evelyn menatap tajam, rambut merahnya ia ikat asal. “Kalau kamu bohong…Tenang saja, dengan senang hati aku akan mematahkan tanganmu yang tersisa.”

“Hampir empat jam kita pindah-pindah antar petak baca, gak jelas arahnya.” Dimas ikut menimpali. Tangan sibuk merapikan kemeja halus di badan, sementara mata diam-diam melirik sosok di sebelah kiri. “Kamu beneran gak mau kita bantu?”

Adnian menggeleng. Dia gemetar saat berjongkok, menahan beban tubuh serta gips tangan. “Kalau di rak ini gak ada, kita tinggal pindah. Memang sebanyak apa petak baca Perpustakaan Yanam?”

“Lima puluh delapan titik,” sahut Rania setelah diam sedari tadi. Gadis itu ikut jongkok, memeriksa sisi lain rak yang belum terjamah tangan Adnian. “Mencari semuanya sampai akhir hanya buang-buang waktu, kamu tahu itu kan?”

Sebagai jawaban, Adnian mengedikkan bahu. Sementara kedua remaja itu sibuk mencari petunjuk, ada dua sosok yang terkagum sekaligus heran menyorot pemandangan tersebut, seolah-olah mereka baru saja menyaksikan keajaiban dunia. Langkah kaki keduanya teredam keramaian sekitar, berjalan mundur sejauh lima meter tepat di antara semak bunga azalea dan kumpulan wartawan. 

“Mataku salah lihat atau apa ya, Mas?”

“Mumpung  lagi tenang, kita biarkan saja. Siapa tahu petunjuknya ketemu lebih cepat.”

“Semoga resep itu beneran ada,” bisik Evelyn. Wajah gundahnya mengundang rasa penasaran Dimas. Para wartawan satu persatu meninggalkan area ketika pager di ikat pinggang mereka berbunyi hampir bersamaan, menyisakan Akonia yang masih meraba-raba rak mati. Hela napas seseorang terdengar keras, diikuti tawa renyah. “Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, Mas. Kelihatan banget ya?”

Dimas mengangguk. “Kamu dapat penglihatan atau petunjuk baru?”

“Enggak keduanya. Berhubung kamu tahu kalau kemampuan meramal aku payah, meski gelarku…” Eve;yn mengangkat telunjuk dan jari tengah, membentuk tanda kutip di udara. “…Sang Peramal. Susah jelasinnya, anggap saja insting Anak Emas.”

Dimas mengikuti arah pandang, menyadari sesuatu di tubuh Evelyn. “Apa karena itu?”

“Bisa jad—” Kalimat Evelyn terputus. Tatapannya tertuju pada sosok tinggi di belakang Rania. “Mas!”

Dimas reflek menoleh.

Iskandar telah berdiri, beberapa langkah dari rak kayu. Satu tangan meraih buku dari tumpukan acak sementara mata menyapu dua remaja yang tingginya tak sampai dagu ia. Jas hitam berpotongan rapi membungkus tubuh tegap, memancarkan wibawa yang sulit diabaikan. Pandangan Iskandar sempat singgah kepada Evelyn dan Dimas. Keduanya segera berlari, melengkapi kwartet Akonia. “Bukannya kamu masih sakit? Tangan dan kaki masih pakai gips begitu.”

“Aku sudah mendingan Om,” jawab Adnian cepat. “Om sendiri ngapain di sini? Jarang-jarang aku lihat orang Narakuswa di area Puri selain keluarga Sunjana.”

Pria itu tidak langsung menjawab, sebaliknya memandangi buku di tangan baik-baik sebelum menumbukkan pandang ke sekeliling. “Saya tidak tahu bahwa Akonia juga bertugas merapikan buku-buku Perpustakaan Yanam,” ucapnya sambil mengangkat tangan. “Untuk apa kamu ke sini, Nak?”

Semua saling pandang, mulut terkatup rapat. 

“PR!” seru Evelyn buru-buru. “Kami ke sini buat nyari informasi tambahan tentang satu tugas, Pak Iskandar.”

“Bukannya kalian semua beda kelas?”

“PR ini dikasih ke semua murid kelas 11, lintas jurusan.” Adnian bicara, tangan menggenggam erat jemari Rania. “Kami sengaja menumpuk semua buku dulu, biar gampang dibandingkan satu sama lain.”

Alis Iskandar naik sebelah, melunakkan sedikit raut galak di wajahnya. Canggung begitu nyata menyusup, membuat udara terasa panas dan dingin di saat bersamaan. Beberapa detik berlalu. Tak ada yang berani menyela, kehadiran Iskandar menelan seluruh percakapan. Bahkan, menarik napas pun terdengar salah. 

Pengeras suara di atas kepala mendadak berbunyi, mengeluarkan tali penyelamat. Debat Sihir Nasional akan dimulai lima menit lagi. Seluruh tamu undangan dipersilakan memasuki aula utama. Pengumuman itu menggema sebanyak tiga kali, meminta semua yang berkepentingan datang secepat mungkin. 

Iskandar menghela napas pendek. “Adnian.”

“Iya Om?”

 “Keluargamu menunggu di rumah.”

Tanpa mendengar jawaban, pria itu menepuk pelan bahu Adnian lalu berbalik menuju keramaian. Tidak ada seorang pun yang berani bergerak sebelum punggungnya benar-benar lenyap di balik lautan manusia. Setelah yakin Iskandar telah pergi, rasa gelisah seketika menguap. Serentak Dimas dan Evelyn melorot, tenaga mereka hilang sesaat. “Astaga…kupikir kita bakal mati.”

“Kamu masih bisa bercanda di situasi genting begini, Adnian?!” Evelyn mendongak, kerut di dahinya bertumpuk-tumpuk. “Dari tadi kita enggak ada progress, stuck di sini kayak orang tolol!”

Omelan Adnian menggantung di udara, sebab Rania tiba-tiba menguap sangat lebar. Dengan kelopak mata mengerjap-ngerjap ia bicara, “aku lapar.” Ungkapan pendek tersebut ditanggapi tawa keras, umpatan tipis, dan helaan napas pasrah. Perut Rania berbunyi lagi, menegaskan keseriusannya. 

“Mau makan ini saja?” Dimas mengangkat sebuah tas kecil, tampak berat. “Aku sengaja bikin lebih buat kerja nanti, tapi kayaknya aku terpaksa ambil cuti buat hari ini deh.”

Rania menoleh, tangan terlipat di dada. “Apa isinya?”

“Sandwich. Isi ham, sayur, saus, sama salad telur.”

Tanpa babibu Rania menyambar tas biru, memeluknya sambil memimpin jalan. Keluhan semua orang mengiringi tiap langkah, ditemani cuaca Abdjaya yang semakin tidak jelas. 

Lihat selengkapnya