Akonia Raya

Kamala Loka
Chapter #22

22. Mati Kutu

Sejauh mata memandang warna putih tersaji hingga ujung bumi. 

Tidak ada hewan, bangunan, atau tanda-tanda peradaban. Pohon cemara menyusun dinding alami. Bekas tapak sepatu Rania tercetak dalam di atas salju, bergerak ke berbagai arah. Hembus angin menggigit tulang meyakinkan ia bahwa semua ini adalah kenyataan, bukan mimpi apalagi khayalan belaka. 

Rania memperhatikan percikan cahaya di ujung jari, menantikan sihir pecah merangkai ledakan atau apapun yang mampu memancing kekuatannya. Nihil, sejak tadi ia hanya mengandalkan tenaga murni. Momen-momen ini mengingatkannya akan masa kecil, bagian kelam yang lebih baik dibuang sejauh mungkin. Lemah, menunggu mati saja. Rania menggelengkan kepala. Sekali lagi ia mencari jejak hewan di antara gempuran hujan salju. Benda putih itu turun tanpa henti, memaksa Rania bergerak bila tak ingin terkubur sampai perut, mengganggu jarak pandang juga menunjukkan warna asing. 

Asap hitam membubung ke langit di balik tingginya pepohonan. 

Sambil memekik girang, Rania buru-buru melangkah ke sumber asap. Tangan mengibas ranting pohon, mengabaikan patahan kayu yang menggores lengan. Baginya si pembuat asap adalah petunjuk pertama atas puluhan pertanyaan. 

Setelah menembus deretan pohon sugi, sebuah pemandangan cantik terbuka. Rumah sederhana bergaya tradisional Jepang, pintu-pintu shoji memancarkan cahaya temaram tanda kehadiran sang penghuni. Semangat Rania perlahan surut tatkala matanya menyorot berbagai benda. Peralatan berburu tergeletak di pojokan, setumpuk bangkai serangga, sekop dengan bercak kecoklatan. Dua pasang sepatu diletakkan rapi depan pintu masuk, sementara sepasang sepatu kumal nyaris terkubur salju. 

Tangan Rania memungut satu sepatu dan jantungnya nyaris merosot. Benda itu sempurna mengisi telapak tangan, mengisyaratkan si pemilik yang kemungkinan berusia tiga tahun. Warna merah mudanya sudah pudar, digantikan kerak tanah dan noda bandel. Rania sibuk membolak-balik sepatu, memeriksa sol hingga jahitan. Logo tak lagi terbaca, toe cap dibiarkan menganga lebar. 

“Kasihan,” decak Rania. Dia masih berdiri di tepi pagar, berniat mencari bel masuk ketika sesuatu mengusiknya. Kaki segera berlari ke salah satu petak pagar, tampak kayu-kayu tua telah digerus waktu. Di antara semua guratan alam, ada satu ukiran kecil menghiasi permukaan paling halus. Inisial nama. 

A x H. 

Mata Rania menyalang, spontan mendorong pagar hingga tubuhnya terjungkal ke tanah. Sekujur badan gemetar tanpa peringatan, diikuti sesak yang mencengkeram dada. Gadis itu memasukkan dua jari ke dalam mulut, menekan pangkal lidah sampai tenggorokannya berkontraksi. Muntahan mewarnai salju putih, potongan sandwich buatan Dimas terdampar di atas kubangan. Rania kebingungan. Sensasi panik kembali lagi, lebih kuat daripada saat ia tersiksa di perpustakaan sekolah. Kali ini terasa begitu jahat, berkali-kali lipat menggerus kewarasan.

Apa yang terjadi?!

Bunyi peluit panjang membuat Rania mendongak, mendapati siluet manusia bergerak di dalam rumah. Tangan masih menekan wajah, sementara keringat membanjiri kulit. Gadis itu membiarkan insting bekerja lebih dulu. Lima menit kemudian dia berdiri, terhuyung-huyung menggenggam pagar reyot. Perlahan tapi pasti, Rania mendekati rumah yang kian membesar, seolah siap melahapnya kapan saja. 

Jantung berdegup keras, bertalu-talu mengoyak pikiran sejalan dengan sekujur lengan yang mendadak gatal. Semua bekas luka Rania berontak, menjerit ketika tangannya menyentuh daun pintu. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mendengar suara para penghuni. 

Seorang pria dewasa sedang mengomeli anaknya. Omelan bertumbuh jadi makian, lalu suara pecahan kaca memotong keheningan, bunyi hantaman benda keras menyusul dan rintihan pelan permintaan maaf terdengar pilu. Kepala Rania tertunduk sembari menggaruk-garuk lengan kiri, keringat menetes lagi. Gadis itu terlonjak kaget saat pintu di hadapan bergetar, dihantam sosok kecil yang bayangannya rubuh terkulai ke lantai. 

Terlambat mencerna situasi, Rania dikejutkan oleh bayang-bayang besar yang telah berdiri di sisi lain, terhalau daun pintu. Cahaya temaram membuat sosok itu tampak mengerikan. Tanpa aba-aba pintu digeser, memuntahkan air deras menerjang Rania. 

Familier. 

****

Air menekan Rania dari segala penjuru. Rambut hitamnya melayang di depan muka, tubuh berputar tanpa arah. Gadis itu mencoba menarik napas, hanya untuk tercekik oleh air dingin yang membuat tenggorokan dan dada terbakar. Kedua tangan bergerak panik, sekilas hinaan pria itu lewat dalam kepala. Rania menggigit bibir dan bergegas berenang menuju permukaan. Dia berkali-kali terbatuk ketika udara memenuhi paru-paru. Pandangan mulai pulih. Mulut terbuka lebar, terbeliak dengan panorama yang ada.

Rania terlempar ke tengah samudra. Airnya hijau terang, jernih, tembus pandang sampai tali sepatu ia tampak menari-nari. Langit juga punya warna serupa, bersih tanpa awan atau matahari. Batas di antara keduanya sulit dibedakan, permukaan mereka saling bersilang bak mimpi. Rania nyaris terpukau ketika ombak besar menampar wajah. Perih menjalari kulit, lidah sibuk mengusir rasa aneh yang melekat. Di bawah bayang-bayang tetes air, manik hitam gadis itu menangkap sesuatu, terombang-ambing tidak jelas dari kejauhan. Yakin benda tersebut adalah juru selamat, pelan-pelan Rania berenang. 

Gelombang air mendorong Rania mendekat, tempat ia mencermati wujud tersebut. Dua manusia. Satu orang berenang, kesulitan menjaga keseimbangan. Laki-laki itu sontak tersenyum lebar, berteriak menyambut kedatangan Rania. 

“Dimas?” tanya Rania sambil melihat tentengan yang terus tercelup air. “Loh, ini Adnian?! Dia kenapa?”

 “Kamu lupa sama kondisinya?”

Oh iya, batin Rania. Di luar basah kuyup, penampilan mereka tidak terlalu buruk. Dimas memanggul Adnian dibantu tali, sementara si orang sakit cuma terdiam mengikuti irama ombak, menghindar setiap kali Rania berenang memutar. “Seru juga,” imbuhnya. “Gimana status terkini?”

“Kacau. Aku enggak tahu kita ada di mana, yang pasti bukan di Abdjaya.” Dimas menengok ke sekeliling, alisnya berkerut. ”Kami sudah berusaha mencari daratan, tapi enggak ketemu. Perairan ini punya kedalaman aneh. Tidak bisa diukur dan dasarnya buram meski punya air transparan.”

“Lalu sihir kamu?” Dimas hanya menggeleng. Dari mulutnya, banyak hal terjelaskan. Dia terbangun dalam air, lalu diselamatkan Evelyn. Mereka melihat Adnian nyaris tenggelam, telat sedetik dan kemungkinan saat pulang akan menggotong satu mayat. “Sekarang Evelyn berusaha menelusuri jejak sihir yang tersisa, sementara kamu menjaga Adnian sambil tetap mengambang. Barang-barang kita kemana?”

Dimas menghela napas. “Saat aku bangun, enggak ada apa-apa selain baju di badan. Lagian ada yang lebih mendesak tahu.”

“Kamu kelelahan?” Mudah Rania menebak. “Mau gantian?”

“Makasih Ran.”

Meski diayun-ayun ombak, keduanya bekerja ringkas. Adnian diletakkan di punggung Rania, sementara Dimas memastikan tali pengikat cukup kencang. Mengamati lebih dekat, gadis itu menyorot keadaan memprihatinkan seorang Adnian. Gipsnya terlepas, kulit keunguan serta tulang bengkok ke sudut janggal. Wajah pucat dan kelopak mata Adnian terpejam erat. “Badan dia hangat banget,” ujarnya.

“Terlepas dari sifat menyebalkannya, Adnian tetap rekan penting.” 

Rania melongo. “Kepalamu terbentur, Mas?”

“Maksudnya?”

“Ya… hubungan kalian kan kayak begitu. Rumit dan saling menyakiti. Apa jangan-jangan cinta segitiga itu akhirnya selesai? Siapa yang ngalah, kamu atau Adnian?”

Dimas menatap tajam ke arah Rania, terlalu tajam. “Bukan keduanya.”

Lihat selengkapnya