Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #1

Bab 01 - Pertemuan yang Tertulis

Mereka bilang kata-kata hanyalah suara yang dibekukan di atas kertas. Namun, bagaimana jika barisan aksara itu lebih dari sekadar simbol? Bagaimana jika satu kalimat sederhana bisa menggerakkan jiwa, membengkokkan logika, bahkan mengubah keyakinan yang telah berakar selama bertahun-tahun?

Di dunia ini, revolusi tidak selalu lahir dari senjata. Kadang, ia berbisik pelan dari ujung pena. Seseorang membaca, lalu tiba-tiba merasa yakin. Ia tidak tahu kenapa, hanya sadar bahwa pikirannya telah bergeser secara perlahan, pasti, dan tidak dapat dicegah.

Di balik perubahan itu, mungkin berdiri satu orang. Bahkan langkahnya diawali perubahan sikap di dalam keluarga setelah membaca tulisannya. Seseorang yang menulis, tanpa tahu pasti apakah ia sedang menciptakan atau sedang menghancurkan hidupnya maupun keluarganya.

Di lapangan utama Veridian High School, ratusan siswa baru berdiri dalam barisan panjang. Seragam abu-putih mereka masih kaku, seolah-olah belum tahu bagaimana caranya memeluk tubuh. Di ujung barisan, berdirilah Adrian tengah sendirian, tenang, dan tampak seperti enggan terlihat.

Ia tidak mengenal siapa pun. Tidak satu wajah pun menimbulkan rasa akrab dan ia pun tidak berniat memaksakan diri untuk berbaur. Bukan karena sombong, melainkan karena ia tahu, pikirannya terlalu penuh untuk sekadar basa-basi. Kedua tangan dimasukkan ke saku celana, sementara satu buku catatan lusuh ia peluk erat di bawah ketiak. Tempat itu, tempat ia menumpahkan apa yang tidak mampu ia ucapkan.

Pikirannya tidak tertuju pada pidato kepala sekolah yang berdiri gagah di panggung. Ia memikirkan satu kalimat yang ia tulis semalam sebelum tidur.

“Aku berharap bertemu seseorang yang mengerti diamku lebih dulu daripada suaraku.”

Ia merasa kalimat itu belum selesai. Seperti sebuah jendela yang terbuka setengah, ibarat menunggu sesuatu yang akan lewat.

Upacara berlangsung hampir satu jam. Adrian tetap berdiri di sana, tenggelam dalam dunia yang hanya ia pahami. Sampai akhirnya, ia sadar pada seseorang yang berdiri di sebelahnya. Seorang siswa dengan alis yang agak tebal. Rambutnya lurus tebal sedikit acak-acakan, postur tubuh ideal dan sedikit atletis serta tinggi. Wajahnya tenang, dan menyiratkan kecerdasan yang tidak memaksa.

Setelah pengumuman terakhir dibacakan, murid-murid mulai membubarkan diri. Tanpa tahu mengapa, Adrian menoleh dan menepuk bahu pemuda di sampingnya. Hanya sekali dan pelan berperasaan. Ia tidak tahu harus berkata apa, tetapi bibirnya terbuka begitu saja.

“Eh ... bro, lo bisa baca tulisan gue di buku ini nggak? Kalo lo nggak sibuk sih,” katanya pelan, tanpa tatapan memaksa.

Siswa itu menoleh, agak terkejut, lalu menatap buku yang disodorkan. “Oh. Boleh aja. Nanti gue baca, ya.”

Adrian hanya mengangguk sambil menyerahkan bukunya, kemudian berjalan pergi. Tidak ada pamit. Tidak ada perkenalan. Hanya udara yang berubah sedikit lebih ringan di sekelilingnya.

Sore itu, Adrian duduk di pinggir ranjang asrama sementara. Angin dari jendela membawa aroma tanah basah, langit masih abu-abu. Di tangannya, halaman baru buku catatannya kosong. Belum ada cerita, tetapi pikirannya sudah sibuk menebak ‘apakah permintaannya tadi terlalu aneh?’

Pintu diketuk dua kali. Adrian menoleh.

Lihat selengkapnya