Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #2

Bab 02 - Efek Sebuah Kalimat

Adrian dan Arman berjalan beriringan menuju kantin kecil yang terletak di sisi utara bangunan sekolah. Bel istirahat menggema nyaring, menyibakkan keramaian khas sekolah elit yang mencoba menyamar sebagai institusi ramah.

“Lo udah mikir mau masuk klub mana?” tanya Arman sambil mengangkat nampan berisi dua roti isi dan minuman kotak.

Adrian mengerutkan dahi. “Belum, Bro. Gue tuh bingung, kayaknya semua klub di sini serius banget, ya? Kayak bukan sekadar iseng doang.”

“Ya emang bukan iseng,” sahut Arman, terkekeh. “Ini Veridian, men. Klub tuh dianggap pengembangan minat dan jalur prestasi juga.”

Mereka duduk di sudut kantin yang agak lengang. Suasana bising tidak mengganggu keakraban mereka yang perlahan terbangun.

“Gue sih udah fix mau masuk klub bela diri. Soalnya dari dulu suka karate sama judo,” lanjut Arman sambil menggigit roti.

Adrian memaksa senyum, lalu mengangguk pelan. “Wah, keren sih. Tapi kalo gue ikut klub bela diri, mungkin tulang gue yang patah duluan. Nggak cocok banget.”

Arman menatap sahabat barunya itu dengan ekspresi setengah geli, setengah kasihan. “Iya juga sih. Lo tuh lebih cocok ngelamun di taman daripada tanding di matras.”

Adrian tertawa kecil. “Eh, kurang ajar lo.”

“Yaudah, kalo gitu lo masuk klub sastra aja,” ujar Arman santai. “Itu klub isinya anak-anak yang doyan nulis. Banyak yang hobi bikin cerpen, puisi, bahkan yang pengen jadi jurnalis juga masuk situ. Kayaknya bakal cocok deh buat lo.”

Adrian menoleh, sedikit terkejut. “Lo ... lo mikir sampe segitunya buat gue?”

Arman mengangkat bahu. “Yah, gue kan tau lo suka nulis. Waktu lo kasih gue baca tulisan lo tuh, gue langsung kepikiran. Lo emang cocok di dunia kata-kata.”

Adrian tersenyum. Kali ini senyumnya dalam, tulus, dan sedikit getir. “Lo tuh ya … kadang lebih mikirin gue daripada gue sendiri. Gue aja belum kepikiran ke sana, padahal jelas-jelas itu hobi gue.”

“Makanya jangan lemot, Yan. Kalo otak lo lambat terus, bisa-bisa tulisan lo keduluan orang lain,” candanya.

“Yaelah, ngomong aja lo ... Padahal hati lo tulus, kan?”

Arman berpura-pura menatap langit-langit. “Tergantung. Lo traktir es teh manis dulu, baru gue jujur.”

Mereka berdua tertawa lepas. Di antara keping-keping tawa itulah, sebuah benih persahabatan mulai tumbuh erat. Hanya bermula benih dari kalimat-kalimat yang belum terucap, belum ditulis, tetapi suatu hari akan mengguncang dunia kecil mereka. Adrian belum tahu, tetapi satu kalimat sederhana bisa saja menjadi awal dari semuanya.

“Iyan, gue duluan ya! Mau ngisi formulir klub,” teriak Arman sambil berlari kecil ke arah tangga.

Adrian hanya melambai tanpa tenaga, menyaksikan sahabat barunya menghilang ke arah lantai tiga gedung ekstrakurikuler. Hari itu, semua murid kelas satu diwajibkan memilih setidaknya satu kegiatan klub sebagai syarat akademik sekaligus pengembangan diri. Bangunan khusus klub berdiri megah di belakang perpustakaan pusat, lima lantai menjulang dengan arsitektur kaca dan beton berwarna abu hangat.

Setelah membuang napas panjang, Adrian melangkah santai ke arah tangga. Kakinya sedikit malas, tetapi pikirannya mulai tenang. Ia tahu ke mana harus melangkah.

Lihat selengkapnya