Sudah satu bulan berlalu sejak Adrian pertama kali menginjakkan kaki di Veridian High School. Dalam sebulan itu, tidak banyak yang berubah dalam kesehariannya.
Ia menjalani rutinitas seperti mekanisme jam tua, sekolah dari pagi hingga siang, singgah ke ruang klub sastra menjelang sore, lalu kembali ke kamar asrama. Belajar—jika bisa disebut begitu—dilakukan seperlunya. Selebihnya, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan menulis atau menatap kosong halaman buku yang belum tersentuh tinta.
Akan tetapi, hari ini terasa agak berbeda.
Di antara deru langkah murid-murid yang baru saja keluar dari kelas setelah jam pelajaran terakhir. Adrian melihat sekumpulan siswa-siswi berkumpul di dekat salah satu sudut koridor utama, tepat di depan majalah dinding sekolah. Tidak seperti biasanya, keramaian itu cukup menarik perhatian. Beberapa siswa tampak membaca serius, bahkan sampai berbisik-bisik dengan ekspresi kagum, bingung, atau resah.
Adrian merasa dadanya berdebar kecil.
“Jangan-jangan ada tulisan gue yang dipajang,” pikirnya.
Ia tahu bahwa klub sastra rutin mengumpulkan karya-karya terbaik tiap bulannya dan memajangnya secara bergiliran. Memang tidak semua karya diumumkan sebelumnya. Ada kalanya pengurus klub langsung memilih dan menampilkan karya anggota secara acak.
Ia pun melangkah mendekati kerumunan, mencoba mengintip dari celah bahu dan kepala para siswa yang lebih tinggi darinya. Sayangnya, posisinya terlalu terhalang. Dengan pelan dan sopan, Adrian menyentuhkan kedua telapak tangannya ke bahu dua siswi di depannya. Mereka berdua adalah Rini dan Siska dari kelas A4. Tidak ada maksud memaksa, hanya ingin menyelip di antara mereka.
Sambil sedikit menunduk, ia bergumam setengah bercanda, “Kalau ada hasil tulisanku ... ikuti aja tulisannya. Dijamin nggak rugi.”
Suara gumamannya ringan, nyaris seperti lelucon remaja pada umumnya. Namun entah kenapa, kedua siswi yang disentuh itu menoleh sekilas ke arahnya, lalu saling pandang dan seolah-olah mendapat dorongan dari dalam diri mereka, mereka langsung membuka ruang, memberi jalan bagi Adrian melangkah maju.
Adrian bahkan sempat heran melihat keduanya seperti menuruti gumamnya. Ah, ini hari keberuntungan, pikirnya.
Kini ia berdiri tepat di depan mading. Matanya langsung menyapu setiap lembar kertas yang tertempel rapi. Di sana, di sisi kanan atas, ada satu puisi yang ditulis dengan font serif miring, diberi hiasan garis tepi artistik, dan di pojok bawahnya tertera satu nama pena:
Mahanta.
Adrian menelan ludah. Itu puisinya.